Meringankan derita korban banjir bandang di Bumi Minangkabau (Juli 2012)
Selasa, 24 Juli 2012, banjir bandang menerjang Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Luapan air bah ini merusak dan meluluh-lantakkan sebagian dari 1.013 rumah penduduk. Rinciannya: 190 rumah rusak berat, 332 rumah rusak sedang, dan 481 rumah rusak ringan. Kerugian akibat kerusakan ini ditaksir mencapai Rp 40 miliar.
Bencana tersebut melanda 24 kelurahan dari tujuh kecamatan di Kota Padang. Enam kecamatan tersebut adalah Kecamatan Pauh (empat kelurahan), Kecamatan Lubuk Begalung (lima kelurahan), Kecamatan Nanggalo (empat kelurahan), Kecamatan Lubuk Kilangan (lima kelurahan), Kecamatan Kuranji (empat kelurahan), Kecamatan Bungus Teluk Kabung dan Kecamatan Padang Timur. Kerusakan terparah menimpa Kecamatan Pauh (64 rumah rusak berat, 48 rumah rusak sedang, dan 17 rumah rusak ringan).
Musibah ini mengguncang hati Andi Sahrandi, Koordinator Posko Jenggala. Pria asli Minang inidibantu Erma Yunandatak berpikir lama, langsung bergerak: memimpin rapat tim, mengkoordinir rekan-rekannya yang akan bertolak ke Padang, juga mengontak semua koleganya di Padang untuk membantu Posko Jenggala melakukan pemetaan dan mitigasi penanganan bencana.
Malam itu, tim mulai menginventarisasi kebutuhan korban bencana. Disiapkan bantuan berupa 1.000 selimut, 1.000 sarung dewasa, 1.000 sarung anak, 500 mukena anak, 500 mukena dewasa, 1.000 baju koko dewasa, 500 baju koko anak, berikut tambahan 1000 sarung dan 500 baju koko.
Tidak menunggu lama, distribusi logistik dan pengiriman tim relawan dibagi dua. Tim pertama (Andi, Diego, Rendy) berangkat Sabtu (28 Juli 2012) dan tim kedua (Jarot dan Shiddiq) menyusul Senin (30 Juli 2012).
Sabtu, 28 Juli 2012
Sabtu pagi, tim menginventarisir dengan seksama kebutuhan yang diperlukan di Padang. Tim pertama bertolak menuju lokasi bencana di Padang dengan pesawat pukul 15.00. Barang-barang yang dibawa sangat banyak. Seluruh bantuan diangkut bersama tim pertama melalui cargo bandara.
Pukul 18.00 waktu setempat, tim tiba di Padang. Di bandara, tim dijemput Bapak Tat (Ketua Muhammadiyah Disaster Management Centre = MMDC) dan Bapak Musfir dari Muhammadiyah Sumatera Barat menuju Sekretariat MDMC. Di kantor ini, dibahas segala aspek penanganan bencana terutama distribusi bantuan bahan-bahan makanan dan pakaian untuk korban di lokasi yang paling parah terdampak banjir bandang. Untuk mendistribusikan bantuan logistik di Padang, Posko Jenggala dibantu oleh rekan-rekan dari Muhammadiyah yang membentuk lembaga khusus MDMC tersebut.
Cargo logistik yang dikirim dari Jakarta ke Padang tiba malam itu juga. Rendy dan Diego dibantu rekan-rekan MDMC kembali menuju bandara untuk mengambil cargo dari Jakarta. Ada sebanyak 45 koli/karung termasuk filter/penjernih air yang dibawa dari sekretariat Posko Jenggala.
Minggu, 29 Juli 2012
Pagi hari, Tim Posko Jenggala bersama Pak Tat dan Ilham (koordinator mitigasi bencana MDMC), langsung menuju lokasi bencana banjir bandang. Tujuan pertama tim adalah Desa Batu Busuak. Di desa ini, akses jalan terputus akibat jembatan penghubung runtuh terkena terjangan air bah.
Untuk sementara, warga membangun jembatan darurat dari batang kelapa yang hanya dapat dilewati pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Praktis kendaraan roda empat yang ada di dalam Desa Batu Busuak tidak dapat keluar, demikian pula sebaliknya.
Melihat kondisi ini, Andi Sahrandi dengan tegas dan lugas mengatakan akan membantu membangun jembatan yang putus tersebut. Tim pun menghubungi aparat desa setempat untuk berkoordinasi merealisasikan pembangunan jembatan tersebut.
Andi menggambarkan bentuk, proses dan hasil dari pembangunan jembatan yang akan dibangun oleh Posko Jenggala karena Posko Jenggala terbiasa membangun fasilitas umum di daerah bantuan atau daerah bencana.
Selanjutnya tim bertolak menuju Desa Koto Panjang, Kecamatan Pauh. Desa ini bersebelahan dengan kampus Universitas Andalas dan termasuk yang terparah terkena dampak terjangan banjir bandang. Walaupun tidak ada korban jiwa, tetapi tercatat sekitar 12 rumah warga rusak berat, tiga rumah hanyut terbawa arus air dan satu jembatan penghubung putus.
Posko Jenggala yang dipimpin Andi Sahrandi memutuskan untuk segera membangun kembali jembatan yang putus itu. Untuk akses darurat, seorang penduduk bernama Makitam berinisiatif sementara menggunakan batang pohon pinang agar dapat dilintasi para pejalan kaki.
Tim Posko Jenggala berdialog singkat dengan Makitam untuk teknis pembangunan jembatan baru. Tim meminta kepada Makitam untuk membangun jembatan yang dapat dilewati roda dua. Pertimbangannya, disamping memperlancar akses dengan kampung tetangga, juga sebagai akses anak-anak menuju sekolah dan kampus Universitas Andalas (karena banyaknya rumah kost mahasiswa di Desa Limau Manis dan Koto Panjang).
Sebagai koordinator lapangan pembangunan jembatan seperti biasa adalah Diego Dirgantara, seorang relawan yang terbiasa mengikuti perjalanan jejak sosial Posko Jenggala sejak gempa di Pangalengan, Jabar, 2009 hingga saat ini.
Selanjutnya, tim (Tat, Andi Sahrandi, Rendy, Diego dan Ilham) menuju wilayah lainnya yang terkena dampak banjir bandang di Kecamatan Nanggalo. Selama melintasi wilayah yang terkena bencana itu, tim memperhatikan dengan seksama tingkat kerusakan infrastruktur guna memperkirakan kebutuhan fasilitas umum yang dibutuhkan masyarakat.
Malam harinya tim (Rendy, Diego dan Ilham) berencana langsung membagikan bantuan dan bermalam di lokasi bencana, Desa Batu Busuak. Data yang dipeoleh: jumlah kepala keluarga sebanyak 140 KK, penduduk yang kehilangan rumah sebanyak sembilan keluarga dan satu Mushola rusak berat. Beberapa saat kemudian bantuan logistik yang dibawa oleh Riki dan Hendriawan sebanyak 200 paket tiba di lokasi.
Informasi dari posko utama relawan di Desa Batu Busuak menyebutkan bahwa semua bantuan yang dialokasikan untuk desa tersebut harus terpusat di posko. Hal ini berbeda dengan apa yang selama ini dilakukan oleh Posko Jenggala. Namun atas inisiatif dan pengertian bersama, pada akhirnya bantuan sebanyak 200 paket itu dapat dibagikan langsung ke penduduk.
Usai mendistribusikan bantuan logistik kepada warga tim melanjutkan diskusi dengan aparat desa untuk merencanakan pembangunan jembatan. Terrnyata untuk jembatan di Desa Batu Busuak akan ditangani dan siap dibangun oleh Dinas Pekerjaan Umum Kota Padang
Senin, 30 Juli 2012
Esok harinya, tim menuju Desa Koto Panjang. Tim kembali bertemu dengan Makitam. Disepakati pembangunan jembatan di desa tersebut menggunakan batang pohon kelapa.
Batang pohon kelapa mudah ditemukan di sepanjang aliran air bah yang menghantam desa. Dibantu tukang sebanyak delapan orang dan relawan MDMC sebanyak 10 orang, batang pohon kelapa diangkat dan dikumpulkan di satu tempat untuk kemudian diangkut menggunakan truk ke titik lokasi pembangunan jembatan
Malam harinya relawan yang terdiri dari Riki, Hendriansyah, Anes, Musfir, Tat dan Setiawan dari posko MDMC datang ke Desa Koto Panjang membawa bantuan logistik sebanyak 150 paket. Tim dibantu warga masyarakat mulai mendistribusikan paket tersebut ke RT 07 dan RT 05.
Tim kedua Posko Jenggala (Jarot dan Shiddiq) tiba di Desa. Koto Panjang pada malam hari itu juga. Jarot dan Shiddiq pun ikut mendistribusikan logistik bersama relawan MDMC. Warga korban banjir sangat senang dan bersyukur menerima berbagai macam paket yang diberikan. Sebelumnya, bantuan yang mengalir ke desa itu hanya berupa makanan dan snack saja. Itupun sangat lambat distribusinya karena hrus melalui posko yang ada.
Larut malam, tim menyambangi beberapa rumah penduduk untuk mencari tempat bermalam dan beristirahat selama tim tinggal di lokasi bencana. Atas kebaikan ibu Evelyn, tim disambut hangat dan diperbolehkan menginap di rumahnya sampai tugas selesai.
Selasa 31 Juli 2012
Pagi hari, Diego bersama Makitam, tukang, relawan MDMC dan relawan lokal mulai bergotong royong mengangkat pohon pinang yang sebelumnya digunakan sebagai jembatan sementara untuk diganti dengan batang pohon kelapa. Beberapa relawan mengumpulkan batu kecil dan batu besar untuk digunakan sebagai tumpuan dan pondasi jembatan.
Sungai yang lebar dan dihantam banjir menimbulkan beberapa celah sehingga terbentuk aliran sungai baru. Pekerjaan membangun jembatan baru yang dikerjakan secara gotong royong dan manual itu, benar-benar menguras kekuatan fisik semua yang terlibat. Apalagi, terdapat banyak batu-batu besar yang menghalangi konstruksi jembatan yang hendak dibangun sehingga perlu dipindahkan terlebih dahulu.
Selanjutnya, Rendy, Jarot, Shiddiq dan Musfir meluncur menuju Sago. Laporan dari rekan-rekan MDMC, ada jembatan putus dan tidak termonitor. Tim segera melihat kondisi jembatan tersebut. Jembatan tersebut menghubungkan permukiman penduduk sebanyak 18 Kepala Keluarga dengan daerah sekitarnya. Selain itu, terdapat lahan pertanian dan perkebunan.
Setelah survey lokasi jembatan di Sago, Posko Jenggala bersama MDMC kembali mendistribusikan bantuan logistik dari kantor sekretariat MDMC menuju Desa Gurun Lawas, Kecamatan Nanggalo. Sebanyak 74 paket bantuan logistik dibagikan tim hari melalui posko warga masyarakat Gurun Lawas. Ada beberapa keluarga yang masih menginap di posko tersebut karena rumah mereka masih tergenang lumpur.
Selesai membagikan paket bantuan, tim kemudian kembali ke lokasi pembangunan jembatan di Desa Koto Panjang. Relawan MDMC, tukang dan relawan lokal bekerja bahu-membahu, memasang bambu untuk pegangan kiri dan kanan jembatan. Musibah telah memanggil mereka untuk turun tangan meringankan beban korban.
Malam harinya, tim bertolak menuju Padang Kapas dengan membawa 70 paket bantuan logistik. Padang kapas adalah daerah yang tidak asing bagi Tim Posko Jenggala karena pernah berkiprah disini saat gempa melanda Sumatera Barat 2009. Di daerah ini, Posko Jenggala membangun 166 unit rumah tahan gempa, satu sekolah, satu perpustakaan dan satu surau. Saat melihat kembali keadaan rumah dibangun tahun 2009 itu, tim disambut suka cita dan penuh haru warga Padang Kapas. Mereka tidak menyangka tim akan ke daerahnya lagi dan kembali mengulurkan bantuan.
Rabu 1 Agustus 2012
Sebagaimana diketahui, banjir bandang yang menimpa Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman terjadi saat warga tengah menjalani ibadah Ramadhan. Namun, kegiatan ibadah puasa tidak menghalangi semangat tim relawan dalam bekerja untuk menyelesaikan pembangunan jembatan.
Bambu-bambu mulai naik ke atas jembatan sebagai pegangan bagi warga yang akan melintas, pondasi kiri kanan jembatan mulai di cor dengan semen dan batang pohon kelapa diikat dengan besi beton agar presisi letaknya. Untuk memudahkan kendaraan roda dua lewat, maka diatas batang pohon kelapa disusun kayu-kayu agar rata dan tidak bergelombang.
Siang hari Rendy dan Shiddiq menuju sekretariat MDMC yang terletak di mesjid At-Taqwa di pusat Kota Padang. Disusun rencana untuk mendistribusikan bantuan logistik lewat dua tim. Tim pertama terdiri dari Rendy, Shiddiq dan Ilham sedangkan tim kedua: Tat, Riki dan Hendriawan.
Tim pertama menuju Padang Besi membawa 315 paket bantuan logistik di tiga titik korban bencana dan tim kedua menuju daerah Banda Gadang membawa 97 paket bantuan logistik dan daerah Surau Gadang sebanyak 85 paket. Siang sampai sore hari, tugas mendistribusikan paket bantuan logistik tuntas dikerjakan oleh tim pertama dan kedua di tiga titik korban bencana.
Kamis 2 Juli 2012
Pembangunan jembatan di Desa Koto Padang hampir rampung, tapi masalah belum selesai. Agar dapat dilalui kendaraan roda dua, harus dibuat jembatan penghubung untuk naik sepeda motor atau anak tangga menuju jembatan dibuat landai.
Maka dimulailah pembuatan jembatan dari jalan setapak bekas jalur sungai hingga ke jalan raya dengan panjang sekitar enam meter dan lebar dua meter. Jembatan tersebut dibuat dari batang pohon pinang kemudian diikat dengan kawat beton dan kembali di cor dengan adukan semen pada setiap ujungnya.
Pekerjaan pembangunan jembatan yang kedua ini juga melibatkan tukang dan relawan Posko Jenggala maupun MDMC. Jarak antara jembatan pertama (yang dialiri air sungai) ke jembatan kedua (menghubungkan jalan setapak dan jalan raya) mencapai sekitar 75 meter.
Jalan sepanjang 75 meter sungguh membuat tim berkesan karena merupakan buah dari semangat tinggi dan kerja keras. Bekas aliran air sungai yang didalamnya terdapat batu-batuan besar, harus dipindahkan kemudian diisi dengan batu-batu koral kecil dan pasir yang diambil sekitar sungai di lokasi tersebut.
Kurangnya sumberdaya dan terbatasnya tenaga relawan, menunda penyelesaian pembangunan jembatan pada hari itu. Tim kembali ke tempat menginap, melepas penat, sambil melakukan rapat koordinasi antara Posko Jenggala dengan MDMC.
Jumat 3 Agustus 2012
Tim bersiap kembali melakukan pekerjaan yang belum terselesaikan. Jembatan kedua yang kemarin mulai di cor dengan adukan semen, mulai dipasang batang bambu agar dapat dilalui pejalan kaki dan kendaraan roda dua.
Dibawah teriknya matahari Kota Padang, para tukang yang dikomandoi langsung oleh Makitam mengerjakan secara keseluruhan konstruksi jembatan dan relawan Posko Jenggala bersama MDMC mengumpulkan pasir dan batu koral.
Setelah seharian bekerja secara gotong royong pada akhirnya jembatan penghubung tersebut selesai dikerjakan. Semua merasa puas dan bangga, sembari mengucapkan syukur. Sore harinya Andi Sahrandi datang dari Jakarta dan berencana meninjau tahap akhir pembangunan jembatan tersebut.
Malam harinya, semua yang terlibat pekerjaan: tim relawan Posko Jenggala, tim relawan MDMC dan warga masyarakat Desa Koto Panjang berkumpul di kediaman Pak Basri, tidak jauh dari lokasi pembangunan jembatan. Semua bersyukur dan memberikan apresiasi kepada para relawan dan warga yang bergotong royong membangun jembatan.
Disela-sela pembicaraan muncul usulan untuk membangun kembali rumah Makitam yang hanyut diterjang banjir. Tak ada harta benda yang tersisa dari rumah itu. Semua hilang musnah.
Sebagai orang terpandang di Desa Koto Panjang dan berkat keikhlasannya dalam membantu pembangunan jembatan, Andi Sahrandi berinisiatif membuatkan rumah baru bagi Makitam. Sebelumnya, rumah Makitam juga menjadi tempat berkumpulnya warga dan sebagai tempat usaha pembuatan cobek dari batu kali bagi tiga keluarga. Andi mengatakan, pembuatan rumah bagi Makitam dan tempat usaha baru harus selesai dalam tempo 24 jam.
Semua yang hadir kaget mendengar perkataan Andi. Namun bagi Tim Posko Jenggala hal tersebut sudah biasa dan senantiasa dilakukan pada saat berada di daerah bencana, misalnya ketika terjadi gempa di Padang 2009 dan Merapi 2010.
Sabtu 4 Agustus 2012
Pagi-pagi, sejak pukul 07.00 pembangunan rumah Makitam dan tempat usaha batu cobek dimulai. Disain bangunan rumah tinggal Makitam berukuran 9 x 6 meter2dan pembuatan tempat usaha cobek dari batu berukuran 5 x 3 meter2mulai dikerjakan oleh para tukang, relawan Posko Jenggala dan relawan MDMC secara bergotong royong.
Rumah Makitam rencananya dibuat dari kayu dengan kuda-kuda batu kali dan atap dari seng. Pagi itu para relawan terlihat sangat sibuk. Sebagian berkelompok memotong kayu dan papan, kelompok lain membantu memaku papan ke pondasi yang telah dibuat, sementara Andi, Jarot dan Rendy belanja kebutuhan bahan baku untuk membangun rumah Makitam dan tempat usaha warga.
Sore harinya hampir separuh dari rumah Makitam jadi. Seluruh warga Desa Koto Panjang, relawan Posko Jenggala dan relawan MDMC akan berbuka puasa bersama di areal sekitar pembangunan jembatan yang tidak jauh dari tempat pembangunan rumah Makitam dan tempat usaha warga. Konsumsi untuk berbuka disiapkan oleh ibu Evelyn, Uchi dan ibu RT.
Tenda darurat didirikan di sekitar jembatan untuk berbuka bersama. Rekan-rekan relawan dan warga sangat bergembira dan menikmati acara buka puasa bersama ini. Pembuatan rumah Makitam dan tempat usaha warga diteruskan hingga pukul 04.30 dini hari.
Minggu 5 Agustus 2012
Akhirnya hari itu, rumah Makitam dan bangunan tempat usaha warga sudah tegak berdiri dan siap dihuni. Tim menyempatkan berfoto bersama para relawan MDMC dan relawan lokal yang membantu dalam aksi sosial ini.
Demikian pula, Makitam, Pak Bisri, Ibu Evelyn, Uchi dan warga Desa Koto Panjang ikut berfoto. Usai sudah seluruh kegiatan dan misi sosial Posko Jenggala disini. Tim pamit kepada seluruh warga Desa Koto Panjang dan relawan MDMC, bertolak menuju bandara untuk kembali ke Jakarta, diantar oleh Pak Tat dan Pak Musfir.
DAFTAR BANTUAN POSKO JENGGALA UNTUK KORBAN BANJIR BANDANG PADANG
NOJENIS BANTUANJUMLAHKETERANGAN
1Filter Air1 bhInventaris Posko Jenggala
2Jembatan penghubung2 bh
3Rumah penduduk1 unit
4Tempat usaha warga1 unit
5Mukena anak500 bh
6Mukena dewasa500 bh
7Baju Koko Anak500 bh
8Baju koko dewasa1500 bh
9Sarung dewasa1000 bh
10Sarung anak1000 bh
12Selimut2000 bh
REKAPITULASI ALOKASI PENDISTIBUSIAN BANTUAN LOGISTIK
NOHARI/TANGGALLOKASIJUMLAHKETERANGAN
1MingguBatu Busuak200 Paket
2SeninKoto Panjang150 Paket
3SelasaGurun Lawas74 Paket
4RabuPadang Besi dan Banda Gadang315 dan 97
5RabuPadang Kapas dan Surau Gadang70 dan 85
TOTAL991 Paket
Foto lapangan dari kegiatan ini — Padang, Sumatera Barat, Juli 2012.