Minggu, 2 Agustus 2026 · Gerakan Kemanusiaan Posko Jenggala
Beranda — Selayang Pandang — Tentang Kami — Mereka yang Bersama Kami — Mitra Pendukung Aksi Kemanusiaan Galeri Sejarah Kontak

Sejarah Posko Jenggala

Perjalanan panjang gerakan kemanusiaan yang lahir dari semangat solidaritas

"Semua berawal dari ketidaksengajaan."

Setelah urusan menggulirkan gerakan Reformasi 1998 usai, banjir besar menerpa Jakarta pada 2001–2002. Andi Sahrandi dan anak-anak muda — sebagian besar mahasiswa yang turun ke jalan pada 1998 — merasa tergerak untuk membantu. Kali ini mereka turun ke jalan bukan untuk berdemonstrasi, tetapi untuk membantu orang-orang yang terkena musibah yang nyaris menenggelamkan Jakarta.

Walau belum memiliki pengalaman membantu korban bencana, gerakan ini bergulir begitu saja. Banyak orang yang tergerak menjadikan rumah di Jalan Jenggala, Jakarta Selatan sebagai pusat kegiatan. Dapur umum dadakan didirikan, seperti saat Reformasi 1998. Koordinasi ala kadarnya langsung jalan — yang penting adalah membantu. Arifin Panigoro, sahabat Andi sejak kuliah di ITB, ikut turun tangan langsung: menyediakan Rumah Jenggala sebagai posko, membeli makanan, hingga pendanaan.

Kegiatan kemanusiaan Posko Jenggala berlanjut ke penanaman pohon di berbagai lokasi kritis di Jakarta, Jawa Barat, dan sekitarnya — sebuah konsep untuk melihat masa depan lingkungan, sekaligus jawaban spontan untuk mengantisipasi bencana serupa di kemudian hari. Selain itu, pengobatan gratis dilakukan di beberapa wilayah Ibu Kota dan sekitarnya yang belum memiliki akses kesehatan yang baik.

Tiba-tiba, tanpa dapat diprediksi, bencana terbesar yang dialami Bangsa Indonesia di abad ini melanda Aceh. Gempa bumi dan tsunami menerjang Serambi Mekkah; tidak kurang dari 120 ribu korban meninggal dunia. Posko Jenggala terpanggil. Bantuan kemanusiaan segera berangkat ke Aceh, dan Posko Jenggala berada di sana sejak kondisi gawat darurat sampai masa pemulihan dan pembangunan kembali Serambi Mekkah.

Karena skala bencana yang besar di Aceh, Posko Jenggala mau tak mau harus semakin terkoordinir, bergerak cepat, dan membesar. Nama “Posko Jenggala” pun muncul begitu saja di Aceh — sebelumnya gerakan ini tak bernama — untuk memudahkan koordinasi internal maupun dengan pihak lain yang turut membantu Aceh.

Tidak hanya Tsunami Aceh, bencana yang melanda Indonesia tanpa henti membuat Posko Jenggala melanglang buana ke seluruh pelosok Nusantara — dari banjir bandang dan tanah longsor di Morowali, gempa di Pangandaran dan Yogyakarta, hingga gempa di Padang, Sumatera Barat.

Jadi, Posko Jenggala terbentuk begitu saja tanpa direncanakan. Karena keadaan saat itu, semua orang ingin membantu. Namun lama-kelamaan ia terorganisir dengan baik — jadilah Posko Jenggala.

Sampai pada titik yang dianggap perlu, Posko Jenggala diresmikan menjadi Yayasan Gerakan Kemanusiaan Posko Jenggala pada 2009, dengan Dewan Pendiri: Andi Sahrandi, Hadi Basallamah, dan Arifin Panigoro.

Posko Jenggala menjadi semakin solid dan terbuka sejak menjadi yayasan. Itulah yang selalu ditanamkan kepada anak-anak Posko Jenggala: masih ada orang yang memerlukan kita; hidup ini harus berguna untuk orang lain.

Lihat dewan pendiri, struktur pengurus & relawan di halaman Tentang Kami →