Banjir bandang yang melanda Kabupaten Bireuen, Aceh, pada Rabu (26/12/2025) menimbulkan kerusakan masif. Dampak terparah terjadi di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli, di mana puluhan rumah warga dilaporkan hilang terseret arus.
Secara keseluruhan, Kecamatan Juli menjadi salah satu wilayah dengan dampak terparah. Total terdapat lebih dari 2.000 pengungsi akibat banjir yang melanda kecamatan tersebut pada saat banjir melanda, termasuk mereka yang kehilangan tempat tinggal dan terdampak kerusakan
Situasi dan kondisi bencana alam yang terjadi di wilayah Kecamatan Juli menyebabkan puluhan rumah warga dan beberapa jembatan ikut tenggelam dibawa arus sungai sehingga masyarakat tidak bisa melintasi jalur yang biasanya mereka lalui
Sebanyak 380 unit rumah di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, terdampak banjir bandang akhir November lalu.
Dari jumlah tersebut, 150 unit rumah hilang terbawa arus, sementara 230 lainnya mengalami kerusakan berat maupun ringan.
Diinformasikan pada awal Januari bahwa sebagian korban banjir telah memiliki lokasi tanah baru untuk pembangunan Rumah Hunian Tetap (Huntap), sementara ratusan lainnya masih berupaya mencari lokasi.
Menurut data para keuchik/kepala desa, lokasi tanah baru bagi korban banjir tersebar di Krueng Simpo, Bivak, Simpang Mulia, Paya Cut, Teupin Mane, dan Balee Panah.
Namun, sebagian besar korban di beberapa titik di Kecamatan Juli belum memiliki lahan. Pembangunan hunian tetap diutamakan bagi warga yang sudah memiliki tanah, sedangkan relokasi masih belum jelas karena masyarakat enggan berada jauh dari lokasi tempat tinggalnya yang saat ini tidak memungkinkan untuk ditempati kembali
Adapun tim Posko Jenggala memutuskan untuk memberikan bantuan rumah permanen atau yang kami sebut hunian tetap dengan bahan dominan kayu ukuran 6x8 meter dan kamar mandi didalam
Kegiatan pembangunan hunian tetap ini dilaksanakan di Desa Krueng Simpo, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen - Aceh
Adapun rencana awal pembangunan hunian tetap ini dilaksanakan pada periode Akhir April 2026 dengan melibatkan unsur masyarakat, perangkat desa dan calon penghuni hunian tetap
Bentuk bangunan berukuran 6x8 meter dengan 2 ruangan kamar tidur, ruang tengah, ruang dapur dan kamar mandi didalam, bangunan ini dibangun dengan material dominan dari kayu yang tahan gempa dan nyaman untuk ditinggali
Pembangunan hunian tetap dilaksanakan pada awal Mei 2026 dan dapat diselesaikan pada awal Juni 2026, pembangunan ini agak lambat dalam penyelesaiannya dikarenakan di bulan Mei para pekerja yang membangun hunian tetap tersebut merayakan hari raya Idul Adha selama 1 minggu, sehingga pekerjaan diliburkan sementara selama 1 minggu disamping juga cuaca yg masih cukup ekstrem di awal-awal pembangunan sehingga menjadi faktor yang memperlambat proses pembangunan
Realisasi pembangunan rumah sebanyak 3 unit diserahterimakan kapada penghuni bersama-sama dengan perwakilan dari Posko Jenggala, Ikatan Alumni ITB Pengda Aceh, unsur perangkat desa yakni Kepala Desa dan Sekretaris Desa Krueng Simpo, unsur masyarakat dan calon penghuni hunian tetap serta para sponsor yakni Indika Foundation 2 unit rumah dan Aceh Energy 1 unit rumah