Kamis, 18 Juni 2026 · Gerakan Kemanusiaan Posko Jenggala
Beranda — Selayang Pandang — Tentang Kami Laporan Aksi Galeri Sejarah Kontak
Kesehatan

Aksi Kemanusiaan di Tanah Maluku (September 2019)

📅 Minggu, 1 September 2019 📍 Kepulauan Maluku, Maluku 👥 25 relawan 🏠 800 jiwa terbantu
Aksi Kemanusiaan di Tanah Maluku (September 2019)
25Relawan
800Jiwa Terbantu
2019Tahun Aksi

Sejarah mencatat, pada 17 Februari 1674, gempa berkekuatan besar melanda Ambon, kepulauan di kawasan Timur Indonesia itu. Korban mencapai ribuan jiwa. George Everhard Rumphius adalah salah satu orang yang mengalami sendiri kejadian itu. Dia mencatat apa yang terjadi. Begini katanya, seperti dikutip dari dokumen terbitan UNESCO bertajuk Air Turun Naik di Tiga Negeri: Mengutip buku: Tsunami Ambon 1950 (2016) yang disusun Hamzah Latief dan kawan-kawan: “Lonceng-lonceng di Kastil Victoria di Leitimor, Ambon, berdentang sendiri. Orang berjatuhan ketika tanah bergerak naik turun seperti lautan.”

Begitu gempa mulai menggoyang, seluruh garnisun, kecuali beberapa orang yang terperangkap di atas benteng, mundur ke lapangan di bawah benteng, menyangka mereka akan lebih aman.” “Akan tetapi, sayang sekali tidak seorang pun menduga bahwa air akan naik tiba-tiba ke beranda benteng. Air itu sedemikian tinggi hingga melampaui atap rumah dan menyapu bersih desa.

Batuan koral terdampar jauh dari pantai. “Semua orang berlari ke tempat lebih tinggi untuk menyelamatkan diri, dimana mereka bertemu dengan gubernur. Ia memimpin doa di bawah langit yang cerah sambil mendengarkan bunyi ledakan seperti meriam di kejauhan, terutama terdengar dari Utara dan Barat laut.”

Rumphius, ahli botani asal Jerman yang saat itu bekerja untuk VOC, memang lolos dari maut. Tetapi tidak dengan istri dan anak perempuannya. Tercatat ada 2.322 orang di Ambon dan Pulau Seram, termasuk 31 orang Eropa, meninggal dalam peristiwa itu. Rumphius menyebut Hila di dekat Hitu wilayah yang paling menderita. Rumphius menuliskan sedikitnya ada 13 desa yang terkena dampak bencana gempa bumi dan tsunami tersebut.

Desa-desa itu terbentang di sepanjang pesisir utara Leihitu di Maluku Tengah, mulai dari Larike di ujung barat hingga Tial di ujung timur. Rumphius juga mencatat tempat-tempat di Pulau Seram yang terkena dampak gempa bumi dan tsunami dahsyat itu, yakni di daerah Huamual seperti Tanjung Sial dan Luhu. Ada pula catatan lain dari wilayah Oma di selatan Pulau Haruku dan Pulau Nusa Laut. Mega-tsunami yang menyapu Kepulauan Maluku dan sekitarnya kala itu disebut-sebut sebagai gelombang terbesar dan belum pernah ada tandingannya sepanjang sejarah Nusantara.

Sebagai perbandingan, gelombang tsunami yang melanda Aceh dan menewaskan sekitar 280 ribu jiwa pada 2004 lalu 'hanya' setinggi 24 meter. Sedangkan tinggi gelombang tsunami di Maluku pada 1674 disebut-sebut mencapai 80 meter. Indonesia, termasuk Kepulauan Maluku, memang termasuk wilayah rawan gempa bumi dan tsunami karena terletak pada pertemuan Lempeng Eurasia dan Lempeng Australia.

Setelah bencana 1674 itu, Kepulauan Maluku digoyang gempa dan diterjang tsunami beberapa kali, tercatat pada 1820, 1889, 1871, 1938, dan 1950. Catatan dari Catalogue of Tsunamis on the Western Shore of the Pacific Ocean (1974) yang disusun oleh S.L. Soloviev dan Ch. N. Go menyebutkan, antara tahun 1600 hingga 2015, terdapat lebih dari 85 peristiwa gempa dan tsunami di Maluku.

Gempa Ambon 26 September 2019

Gempa bumi yang mengguncang Maluku, termasuk Ambon, pada Kamis (26/9/2019) lalu membuat 37 orang meninggal dunia dan 115 ribu orang lainnya terpaksa mengungsi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, gempa bumi itu berkekuatan Magnitudo 6,5 dan berpusat pada kedalaman 10 kilometer. Titik lokasi pusat gempa berada sekitar 40 kilometer arah timur laut Ambon, atau di daratan pulau tersebut. Guncangan akibat gempa yang berlangsung pada pukul 08.46 WIT ini dirasakan di berbagai wilayah di Maluku, termasuk Ambon, Kairatu atau Seram Bagian Barat, hingga Banda. Untungnya BMKG memastikan gempa ini tidak memicu gelombang tsunami. Terjadi gempa susulan setelahnya dengan kekuatan lebih kecil. Laporan BMKG menyebut gempa berkekuatan magnitudo 5,6 itu terjadi pada pukul 09.39 WIT.

Sejak gempa bermagnitudo 6,5 mengguncang Ambon dan sekitarnya di Provinsi Maluku pada Kamis (26/09), telah terjadi gempa susulan sebanyak lebih dari 1.000 kali.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga Senin (07/10) pukul 07.00 WIB, aktivitas gempa susulan di Kairatu - Ambon sudah terjadi sebanyak 1.161 kali. Sementara aktivitas gempa susulan yang guncangannya dirasakan oleh masyarakat mencapai 123 kali.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa dalam setiap peristiwa gempa kuat terjadi deformasi batuan kerak bumi yang menyebabkan pergeseran blok batuan.

Karena blok batuan yang bergeser sangat luas, maka terjadilah ketidaksetimbangan gaya tektonik di zona tersebut. Akhirnya muncul gaya-gaya tektonik untuk mencari kesetimbangan menuju kondisi stabil. Dalam proses mencari kesetimbangan gaya tektonik itu, terjadilah deformasi-deformasi kecil pada batuan di sekitar pusat gempa utama yang dimanifestasikan sebagai gempa susulan, gempa susulan di kawasan Ambon dan sekitarnya lazim terjadi.

Lazimnya gempa kuat dengan magnitudo di atas 6,0, wajar jika terjadi aktivitas gempa susulan. Semakin besar magnitudo gempa, maka potensinya juga semakin banyak, apalagi jika kondisi batuan di wilayah tersebut yang rapuh. Banyaknya aktivitas gempa bumi susulan di Kairatu Ambon menggambarkan karakteristik batuan itu. Akan tetapi trend frekuensi aktivitas gempa susulan Kairatu - Ambon semakin mengecil.

Paska gempa, data yang dihimpun BPBD Propinsi Maluku mencatat total jumlah rumah rusak sebanyak 6.975 unit, rusak berat 1.914 unit dengan rincian Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) 1.339, Seram Bagian Barat (SBB) 285 dan Kota Ambon 230 unit.

Sedangkan rumah rusak sedang, total di Kabupaten Malteng 1.101 unit, SBB 469 dan Kota Ambon 241. Pada kategori rusak ringan mencapai 3.250 unit dengan rincian di Malteng2.641 unit, Kota Ambon 546 dan SBB 333.

Gempa dengan kekuatan M 6,5 pada 26 September lalu menyebabkan 37 orang meninggal dunia. Sebagian besar korban meninggal karena tertimpa bangunan. Sebanyak 135.875 orang mengungsi ke beberapa titik pengungsian.

Aksi Peduli Posko Jenggala

Posko Jenggala tak bisa lepas tangan atau berpaling dari penderitaan warga akibat bencana. Itulah yang mengendap dalam jiwa para relawan dan rekan-rekan yang terbiasa bergabung dalam kegiatan kemanusiaan di Posko Jenggala.

Paska gempa 26 September 2019 di Maluku, Andi Sahrandi dan tim Posko Jenggala mulai menginventarisir seluruh relawan medis yang tergerak untuk segera berangkat ke Maluku guna melakukan kegiatan pengobatan gratis di daerah terdampak gempa yang meliputi pulau Ambon, pulau Haruku dan pulau Saparua

Banyaknya gempa susulan yang terjadi setelah gempa awalbahkan hingga 10 Oktober 2019 gempa susulan sudah terjadi 1300-an gempa susulanmembuat warga terdampak gempa awal mengungsi ke daerah yang lebih tinggi atau ke daerah perbukitan. Jumlah pengungsi diperkirakan mencapai 135.000-an jiwa.

Relawan Posko Jenggala, Bara Muskita, menjadi motor awal dalam pemetaan dan penentuan titik lokasi kegiatan pengobatan gratis. Selain putra daerah Malukutepatnya berasal dari Pulau Haruku, tempat asalnya juga merupakan daerah terdampak bencana dengan pengungsi yang cukup banyak.

Rapat internal antara Andi Sahrandi, Bara Muskita dan Rendy Nugraha, memutuskan untuk memberangkatkan tim medis sesegera mungkin menuju Ambon dengan komposisi lima dokter dari Jakarta yaitu dr. Amril, dr. Fatimah, dr. Lucky, dr. Reagan dan dr. Sandra serta pendamping atau tim logistik dari Posko Jenggala yaitu M. Shiddiq Akbar. Sedangkan untuk relawan, asisten dokter dan tim perawat diambil dari Ambon terutama dengan melibatkan mahasiswa dan pemuda setempat yang peduli dengan kampungnya

Tim medis dari Jakarta bertolak menuju Ambon pagi hari Rabu 2 Oktober 2019. Setiba di Ambon sekitar pukul 13.00 WIT dan telah dijemput oleh Hannykerabat Bara Muskita. Selanjutnya tim Medis menuju apotik di kota Ambon untuk mengecek dan mersiapkan kebutuhan obat yang sudah dipesan dari Jakarta. Tim kemudian berunding dengan tim lokal guna mematangkan persiapan aksi pengobatan gratis.

Esok harinya tim Posko Jenggala bertolak menuju Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, yang berjarak 40 km dari kota Ambon dan langsung menuju pelabuhan Tulehu yang menghubungkan antara Ppulau Ambon dengan Pulau Haruku. Dengan menggunakan speed boad selama 15 menit, tim Posko Jenggala merapat di Pulau Haruku. Disini tim menuju rumah tua Latuharharysalah seorang pahlawan nasional dan penggagas kemerdekaan RIyang merupakan kakek Bara Muskita.

Rumah tua itu akhirnya dijadikan posko dan penginapan oleh tim Posko Jenggala. Tim menuju lokasi titik pengungsian yang menempati bangunan SMP 3 Haruku dan berada di atas bukit. Antusiasme pengungsi menjadi penyemangat bagi tim medis. Para dokter segera memeriksa pasien yang dating. Para perawat dan relawan menyerahkan obat ke pasien setelah menerima resep dari dokter.

Sore hari, pasien sudah mulai berkurang dan tim Posko Jenggala bergeser menuju Kampung Baru Haruku yang berjarak sekitar 20 menit menggunakan mobil. Sepanjang jalan yang dilalui dijumpai tenda-tenda pengungsi yang masih khawatir adanya gempa susulan yang dapat memicu tsunami.

Mayoritas warga Pulau Haruku yang tinggal di pesisir pantai seluruhnya mengungsi ke perbukitan, terutama pada malam hari. Kampung ,mereka kosong dan sangat sepi. Siang hari beberapa dari warga kembali ke rumah sekedar melihat dan membersihkan rumah mereka. Hanya tim Posko Jenggala yang menempati salah satu rumah di desa yang merupakan rumah mantan pahlawan Latuharhary tersebut.

Hari kedua, tim Posko Jenggala tetap melakukan pengobatan gratis di Pulau Haruku. Kali ini tim menuju ke Desa Oma, sebuah titik pengungsian, juga di daerah perbukitan. Warga pengungsi pun sangat antusias menyambut kedatangan tim Medis Posko Jenggala. Sore harinya, Andi, Bara dan Rendy dari Jakarta menyusul tiba di Pulau Haruku dan langsung bergabung dengan tim di Desa Oma.

Di pos pengungsian Andi bercengkrama dengan anak-anak. Andi biasa mengumpulkan anak-anak di pengungsian untuk sekedar mereka senang antara lain dengan memberikan jajanan dari warung setempat. Hal ini rutin dilakukan Andi dalam setiap kegiatan Posko Jenggala di lokasi bencana manapun.

Selama di Ambon, tim Posko Jenggala tetap bersemangat dan ceria walaupun hampir setiap hari terjadi gempa susulan dan sesekali membuat panik anggota tim. Namun itu tidak menyurutkan tekad dan semangat anggota tim untuk tetap memberikan pelayanan kesehatan kepada para pengungsi.

Esok harinya, tim Medis Posko Jenggala bertolak menuju Desa Kariu, masih di Pulau Haruku. Perjalanan sepanjang 40 km dari homebase Posko Jenggala ditempuh selama 1 jam 20 menit, naik turun perbukitan dan juga melewati pesisir pantai. Tim Medis sebelumnya sudah berkomunikasi dengan salah satu tokoh yaitu Pak Am. Setiba di desa itu, Pak Am dan warga sudah menyiapkan tempat untuk kegiatan pelayanan kesehatan. Sebagian besar warga Desa Kariu tidak mengungsi. Hanya beberapa rumah di sepanjang pesisir pantai saja yang mengungsi.

Andi dan Rendy kemudian mengumpulkan anak-anak untuk diberikan jajanan warung. Anak-anak terlihat ceria dan senang menerima pemberian itu. Sedangkan salah seorang wargaPak Jonberkata: “Sungguh sangat berterima kasih, kami diberikan pelayanan kesehatan oleh Tim Jenggala.” Pak Jon sudah tiga hari merasakan sakit di kakinya akibat terjatuh pada saat lari mengungsi.

Hari berikutnya, tim Medis Posko Jenggala dijemput oleh perwakilan dari warga Pulau Saparua untuk melakukan kegiatan pengobatan gratis bagi warga Desa Haria di pulau itu. Dipandu Harry dan Lusikerabat Baradengan tetap semangat tim menjalankan tugasnya.

Selanjutnya, tim Posko Jenggala kembali ke Ambon dan melakukan pelayanan kesehatan gratis di Tulehu. Setiba di Tulehu, tim sudah ditunggu oleh Hany yang sedari awal tim Posko Jenggala di Ambon selalu menyertai. Rombongan langsung menuju Desa Waai.

Warga Desa Waai juga mengungsi ke perbukitan karena letak desa mereka memanjang di pesisir pantai, tidak jauh dari Pelabuhan Tulehu. Sampai di posko pengungsian, tim medis mulai membuka pelayanan kesehatan, dari balita sampai manula.

Dua hari berikutnya, tim melakukan pelayanan kesehatan di Desa Liang dan Desa Tulehu. Desa Liang dekat dengan pusat gempa pada saat gempa awal melanda Pulau Ambon, 26 September 2019. Desa ini juga cukup parah terkena dampak gempa.

Selama tujuh hari, tim medis Posko Jenggala melakukan pelayanan kesehatan di Pulau Haruku, Saparua dan Ambon. Banyak kesan dan pengalaman yang dipetik dari aksi peduli korban bencana di tanah Maluku ini. Sekalipun hanya dapat memberikan sedikit bantuan dan pengorbanan, namun sambutan hangat dari para korban yang mengungsi dan kekompakan tim, menjadi pemelihara semangat dan tekad untuk terus berbagi dan peduli.

Dokumentasi Foto Kegiatan

Foto lapangan dari kegiatan ini — Kepulauan Maluku, Maluku, September 2019.

← Kembali ke Daftar Aksi

Detail Aksi

Tanggal 1 September 2019
Lokasi Kepulauan Maluku
Provinsi Maluku
Kategori Kesehatan
Relawan 25 orang
Jiwa Terbantu 800 jiwa

Aksi Terkait

Bantuan COVID-19 untuk RSUD Koja, Jakarta
1 Mei 2020
Aksi Kemanusiaan untuk Korban Terdampak COVID-19
1 Apr 2020
Aksi Kemanusiaan di Tanah Maluku (Januari 2020)
20 Jan 2020