Posko Jenggala berinisiatif mengirim tim medis ke Maluku akhir Januari 2020. Keputusan untuk mengirim tim yang bertugas melakukan aksi kemanusiaan berupa pelayanan medis dan pengobatan cuma-cuma kepada para korban gempa Ambon itu didasarkan pada laporan yang menyebut banyaknya warga masyarakat yang masih tinggal di pos-pos pengungsian selama hampir empat bulan sejak gempa besar terjadi..
Pada tanggal 23 Januari 2020, tim Posko Jenggala berangkat ke Tanah Maluku tepatnya ke Pulau Ambon dan Pulau Haruku. Beberapa dokter dan perawat ditugaskan menuju titik-titik pengungsian di sekitar Pulau Ambon dan Pulau Haruku, Adanya gempa susulan skala kecil dan menengah setiap hari periode September 2019 hingga Januari 2020 membuat warga di Pulau Ambon dan sekitarnya bertahan di pos pengungsian. Mereka khawatir akan ada gempa besar yang dapat menimbulkan tsunami. Hampir seluruh warga yang tinggal di sepanjang bibir pantai baik di Pulau Ambon maupun Pulau Haruku mengungsi dan mendirikan tenda-tenda diatas bukit.
Menurut para pengungsi, mereka kekurangan logistik, baik makanan pokok dan makanan tambahan lainnya. Pelayanan medis di lokasi pengungsian juga sangat minim akibat berakhirnya masa tanggap darurat. Hanya ada beberapa bidan dan mantra desa yang bertugas dengan stok obat-obatan seadanya.
Berbekal informasi dan hasil assessment rekan-rekan Posko Jenggala di Ambon, tim yang terdiri dari enam dokter,enam perawat, dua orang relawan dan dua orang tim teknis, Sabtu 24 Januari 2020 bergerak menuju titik pengungsian pertama yang terletak di Pulau Ambon tepatnya di Universitas Darussalam yang berlokasi di Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.
Kedatangan tim Posko Jenggala disambut hangat warga pengungsi. Antusiasme warga untuk berobat dan memanfaatkan layanan medis cukup tinggi. Satu persatu, warga datang ke posko kesehatan, dari mulai anak-anak, orang dewasa hingga manula.
Esok harinya, tim menuju Desa Liang, masih di Kecamatan Salahutu. Di desa ini juga masih terdapat banyak tenda pengungsian. Pagi sampai sore hari mereka pergi ke rumah masing-masing untuk sekedar melihat dan membersihkan rumahnya. Sore atau malam hari mereka kembali ke tenda pengungsian dan tidur di tenda-tenda tersebut. Kondisi ini sudah berlangsung selama hampir empat bulan sejak gempa awal melanda Maluku dan sekitarnya.
Di desa Liang ini terlihat fasum dan fasos seperti MCK/toilet umum pada umumnya cukup bersih dan terjaga, hanya saja bantuan air bersih sangat kurang. Bila dalam satu hari tidak ada bantuan air bersih, mereka harus mengeluarkan uang sebesar Rp 1500 per 2000 liter untuk memenuhi kebutuhan air bersih baik untuk konsumsi, mandi, cuci dan lainnya. Pengeluaran untuk keperluan membeli air bersih dirasakan cukup berat bagi para pengungsi di tenda-tenda yang sebagian besar tidak bekerja atau bekerja serabutan.
Selain melayani warga yang datang ke posko, beberapa dokter Posko Jenggala dibantu warga sekitar juga mengunjungi tenda-tenda pengungsian yang ditempati oleh para manula yang sedang sakit dan tidak bisa berjalan ke Posko pemeriksaan. Seperti di lokasi pengungsian pertama, banyak keluhan warga yang diceritakan kepada tim Posko Jenggala mulai dari keadaan mereka di tenda-tenda pengungsian, minimnya bantuan makanan hingga sulitnya memperoleh bantuan air bersih layak konsumsi..
Tanggal 27 Januari 2020 atau hari ketiga, selanjutnya tim menuju titik pengungsian di Desa Wai, Kecamatan Salahutu. Di Desa Waai, tim Posko Jenggala mengunjungi tiga pos pengungsian di Dusun Kamarue Bawah, Dusun Puncak Damai dan Dusun Bekasi.
Kedatangan tim juga disambut hangat warga di tiga kampung tersebut. Masalah yang sama kembali diceritakan para pengungsi terkait kurangnya pasokan air bersih dan sarana kesehatan yang memadai. Pasien yang datang sebagian besar rata-rata mengeluhkan penyakit gatal-gatal akibat kurang bersihnya tempat yang mereka tinggali serta kurangnya fasilitas air bersih yang mereka dapatkan.
Hari keempat, tim menuju Pulau Haruku. Dari Ambon, tim bergerak ke Pelabuhan Penyeberangan Tulehu dilanjutkan naik speedboat selama 20 menit. Kami tiba di Pulau Haruku sekitar pukul 10.00 waktu setempat disambut beberapa perangkat desa yang akan membantu tim Posko Jenggala. Warga yang akan berobat juga sudah berdatangan. Mereka mengungsi di perbukitan dan turun untuk berobat. Di Pulau ini fasilitas kesehatan minim sekali karena keterbatasan tenaga medis. .
Hari kelima di Maluku, tim menuju Dusun Wainuru di Desa Waai, Kecamatan Salahutu. Lokasi pos pemeriksaan kesehatan mengambil tempat di Balai Dusun Wainuru yang berada di tengah permukiman penduduk.
Seperti para pengungsi yang dikunjungi tim sebelumnya, banyak warga mengungsi ke atas perbukitan tidak jauh dari dusun mereka karena khawatir terjadi gempa susulan yang memicu tsunami. Dusun mereka juga berada persis di bibir pantai. Banyak rumah terlihat rusak akibat gempa yang terjadi akhir September 2019 dan belum diperbaiki.
Foto lapangan dari kegiatan ini — Kepulauan Maluku, Maluku, Januari 2020.