Erupsi Gunung Sinabung yang berkepanjangan dan terus menerus, membuat sebagian warga pengungsi sekitar lereng Sinabung belum dapat kembali ke desanya. Bahkan tiga desa yaitu Simacem, Sukameriah dan Bekerah harus direlokasi karena ketiga desa tersebut sudah hancur. .
Ketiga desa tersebut direlokasi ke daerah Siosar yang berjarak 20 km dari Kabanjahe, ibukota Kabupaten Tanah Karo. Saat itu, jumlah pengungsi yang masih bertahan di tujuh lokasi pengungsian berjumlah 795 kk atau 2.443 Jiwa.
Posko Jenggala berusaha untuk memberikan solusi yaitu dengan membangun Hunian Sementara (Huntara) bagi warga yang tempat tinggal atau desanya tidak direlokasi tetapi desa dan rumahnya sudah hancur. Contohnya, Posko Jenggala membuat Huntara sebanyak 10 rumah di jalan lingkar Desa Kacaribun, lima rumah di Desa Lingga, lima rumah dan dua rumah deret di Desa Guru Kinayan
Dengan design dan bentuk yang sederhana (berukuran 6 x 6 meter, terbuat dari bambu beratap asbes) ternyata cukup membantu pengungsi yang memang tempat tinggalnya hancur. Pengerjaannya pun dilakukan gotong royong oleh warga desa dan calon penghuni Huntara tersebut
Penghuni Huntara yang dibangun Posko Jenggala dan warga juga berasal dari beberapa desa yang tidak direlokasi yaitu Desa Sigarang-garang dan Desa Guru Kinayan, karena di sekitar desa tersebut masih banyak terdapat tenda-tenda sementara yang didirikan oleh warga desa yang memilih bertahan tidak jauh dari desanya dan dari lahan pertaniannya
Huntara yang dibangun memang belum mencukupi untuk seluruh pengungsi sekitar lereng Sinabung. Inisiatif Posko Jenggala ini merupakan stimulans bahwasanya masih banyak alternatif tempat tinggal yang bisa dibangun dengan harga yang relatif murah.
Foto lapangan dari kegiatan ini — Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Januari 2015.