Sunday, February 26, 2017
  • Ikuti Kami
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala

Selayang Pandang


Semua berawal dari ketidaksengajaan. Setelah urusan menggulirkan Reformasi 1998 usai, banjir besar menerpa Jakarta pada 2001-2002. Andi Sahrandi dan anak-anak muda (sebagian besar mahasiswa yang turun ke jalan pada 1998) merasa tergerak untuk membantu. Kali ini, mereka turun kejalan tidak untuk berdemonstrasi, tapi untuk membantu orang-orang yang terkena musibah yang nyaris menenggelamkan Jakarta.

Walaupun semua belum memiliki pengalaman membantu korban bencana, gerakan ini bergulir begitu saja. Banyak orang yang merasa tergerak menjadikan rumah di Jalan Jenggala, Jakarta Selatan sebagai pusat kegiatan. Dapur umum dadakan didirikan, seperti saat reformasi 1998. Koordinasi ala kadarnya langsung jalan. Yang penting adalah membantu. Andi bersama anak-anak muda ini berbaur menjadi satu dengan ibu-ibu , tenaga medis, dan pihak-pihak lain yang peduli. Arifin Panigoro (Sahabat Andi sejak kuliah di ITB) turun tangan langsung membantu dalam banyak hal, mulai dari menyediakan Rumah Jenggala sebagai posko, turut membeli makanan hingga pendanaan. Disamping itu juga, seiring dengan perjalanan aktivitas ini seperti bola salju. Selain Arifin, teman-teman Andi yang lain, baik perorangan maupun lembaga banyak yang turut serta dalam barisan kegiatan kemanusiaan ini. Setelah kejadian banjir besar Jakarta.

Kegiatan kemanusiaan Posko Jenggala berlanjut ke penanaman pohon di berbagai lokasi kritis di Jakarta, Jawa Barat dan sekitarnya, serta beberapa lokasi lainnya. Sebuah konsep yang dirancang untuk melihat masa depan lingkungan. Gerakan ini merupakan jawaban spontan Posko Jenggala untuk antisipasi bencana serupa yang bisa terjadi lagi di kemudian hari. Selain itu, kegiatan pengobatan gratis dilakukan di beberapa wilayah Ibu Kota dan sekitarnya yang belum punya akses kesehatan yang baik.

Tiba-tiba, tanpa dapat diprediksi semua orang, bencana terbesar yang dialami Bangsa Indonesia di abad ini melanda Aceh. Gempa bumi dan tsunami menerjang Serambi Mekkah. Tidak kurang dari 120 ribu korban meninggal dunia. Banyak rumah dan bangunan luluh-lantak, mulai kota di sisi timur selatan, Tapak Tuan, Meulaboh, Calang, hingga Banda Aceh di utara. Posko Jenggala terpanggil dan semakin tersublimasi. Bantuan kemanusiaan segera berangkat ke Aceh. Posko Jenggala berada di Aceh sejak kondisi gawat darurat sampai dengan masa pemulihan dan pembangunan kembali Serambi Mekkah.

Karena skala bencana yang terbesar di Aceh ini, maka Posko Jenggala mau tidak mau harus semakin terkoordinir, bergerak cepat, dan semakin besar. Nama Posko Jenggala pun muncul begitu saja di Aceh (Yang sebelumnya gerakan ini tak mempunyai nama) untuk memudahkan koordinasi internal maupun dengan pihak lain yang juga membantu Aceh.

“Lama-kelamaan, anak-anak yang mau bantu diurusan kegiatan kemanusiaan ini lebih solid, lebih banyak, lebih gampang dikoordinir, dan gampang untuk kumpul,” ujar Andi Sahrandi. Dugaan Andi, bisa jadi ini karena ada sifat ingin menolong sesama dalam diri para mahasiswa dan para relawan Posko Jenggala. “Ternyata anak-anak muda itu solidaritas buat sesamanya cukup kuat,” imbuh Andi.

Tidak hanya tsunami Aceh, bencana dan musibah yang melanda Indonesia dengan tak henti membuat Posko Jenggala melanglang buana ke seluruh pelosok Nusantara. Ada banjir bandang dan tanah longsor di Morowali, Sulawesi Tengah, lalu terjadi gempa bumi di Pangandaran, Yogyakarta, hingga gempa bumi di Padang, Sumatera Barat.

Jadi, Posko Jenggala terjadi dan terbentuk begitu saja dengan tidak direncanakan. “Karena keadaan waktu itu, semua orang ingin membantu. Tapi, lama-lama terorganisir dengan baik, jadilah Posko Jenggala,” kata Andi.

Sampai dititik memang dianggap perlu, Posko Jenggala diresmikan menjadi Yayasan Gerakan Kemanusiaan Posko Jenggala pada 2009. Sebagai dewan pendiri : Andi Sahrandi, Hadi Bassalamah dan Arifin Panigoro. “Belakangan ini mala kita merasa bahwa ‘penyakit’ ini harus ditularkan, paling tidak kebiasaan ini harus ditularkan kepada anak-anak muda yang harus peduli,” ujar Andi. Soalnya, Andi melihat bahwa anak-anak muda yang selama ini bergabung di Posko Jenggala merasa senang membantu orang. “Tanpa pikir panjang mereka berangkat. Dan, sekarang relawan Posko Jenggala tersebar mulai dari Aceh, Medan, Aceh Tamiang, Padang, Bukit Tinggi, Mentawai, Yogyakarta, Pangandaran, Bengkulu, hingga ke Merauke, Papua” kata Andi.

Posko Jenggala menjadi semakin solid dan terbuka sejak menjadi yayasan. Tidak hanya Arifin Panigoro pribadi dan Grup Medco yang membantu. Pihak lain juga sudah mulai ikut menolong, seperti kelompok wartawan Jerman yang membantu membuat sekolah taman kanak-kanak di Sumatera Barat, hingga perusahaan asuransi Prudential yang membantu mendirikan rumah di wilayah yang sama. “Hidup ini jadi ada gunanya untuk orang lain. Makanya, anak-anak Posko Jenggala selalu saya tanamkan: orang lain ada yang perlu kamu, masih ada orang yang perlu kamu. Hidup ini harus berguna untuk orang lain,” ujar Andi.

Galeri Foto


Selengkapnya >>
Selengkapnya
Selengkapnya

Kontak

GERAKAN KEMANUSIAAN POSKO JENGGALA

Jl. Gunung Indah II No. 50, Cirendeu, Ciputat, Tanggerang Selatan

(021) 7445734

(021) 7445734

info[at]posko-jenggala.org

www.posko-jenggala.org