Sunday, November 19, 2017
  • Ikuti Kami
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala

Seruan dari Lereng Kelud

Published : 17-Januari-2015 | 01:21:06

Gunung Kelud di Jawa Timur sempat meradang pada akhir 2007. Walau ancaman letusan tak terjadi, pengungsian telah berlangsung. Di lereng dan ngarai yang indah Kelud, seruan kemanusiaan memanggil.


Posko Jenggala baru usai melakukan bantuan kemanusiaan untuk korban gempa bumi di Bengkulu, Sumatera Barat, dan Mentawai pada September 2007. Kondisi Gunung Kelud di Jawa Timur menunjukkan keadaan yang mengkhawatirkan. Gunung yang berada di tiga kabupaten: Kediri, Blitar, dan Malang ini mulai batuk-batuk dan bergetar kuat di akhir Oktober hingga awal November 2007.

Mengingat kejadian-kejadian sebelumnya, gunung dengan sifat yang khas ini pernah beberapa kali meletus dan memakan korban jiwa. Gunung Kelud merupakan gunung yang aktiv. Menurut penelitian Smithsonian, selama seratus tahun terakhir Kelud sudah meletus sekitar 40 kali. Letusan terbesar tercatat terjadi pada 1586 yang menurut buku Data Dasar Gunung Api di Indonesia, jumlah korban diperkirakan mencapai 10 ribu orang.

Pada abad ke-20, Gunung Kelud pernah meletus pada 1901, 1919, 1951, 1966, dan dan 1990. Ketika meletus pada19 Mei 1919, laharnya membunuh 5.160 orang dan menerjang sekitar 100 kampung penduduk. Saat meletus pada Februari 1990, Gunung Kelud menewaskan sekitar 35 orang.

Gunung Kelud unik, karena adanya danau di kawahnya. Dalamnya diperkirakan lebih dari 600 meter dan mampu menyimpan air sampai 40 juta meter kubik. Karena pertimbangan bahaya kalau sampai air sebanyak itu terbawa oleh letusan dahsyat, maka pada 1907 Belanda membuat terowongan dan berhasil mengurangi air danau kawah sebanyak 4,3 juta meter kubik.

Danau air ini membuat pengamatan pada kedalaman magma sangat sulit dilakukan. Padahal pengamatan diperlukan untuk memantau aktivitas gunung. Yang bisa dilakukan adalah mengamati kenaikan suhu kawah serta munculnya gelembung di danau. Lalu, bisa pula menggunakan alat perekam getaran gempa vulkanik, untuk memperkirakan puncak aliran lava. Karena kesulitan inilah, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tidak mudah untuk memperkirakan kapan Gunung Kelud akan benar-benar meletus.

Melalui daerah bahaya yang pernah dipetakan dari meletusnya Gunung Kelud sebelumnya– yang terdapat di situweb PVMBG– bisa dilihat bagaimana perkiraan dampak letusan bagi penduduk bila Gunung Kelud meletus kembali. Menurut ahli di IAGI, wilayah Gunung Kelud dibagi atas beberapa daerah. Daerah Terlarang (radius 5 kilometer dari kawah, luasnya 91 kilometer persegi), ancamannya: hujan bom dan remah-remah batuan, awan panas, lahar letusan, dan lahar hujan. Di daerah ini menurut data 1972 dihuni oleh sekitar 50 orang.

Selanjutnya, Daerah Bahaya I (radius 10 kilometer dari kawah, luasnya 223 kilometer persegi), ancamannya: hujan bom dan remah-remah batuan. Menurut data 1972, daerah ini dihuni sebanyak 136.500 orang. Lalu, Daerah Bahaya II dengan luas 56 kilometer persegi, ancamannya: lahar sekunder. Kawasan ini meliputi bantaran sungai-sungai lahar dan dihuni sebanyak 178 ribu orang (data 1972).

Mengingat banyaknya jumlah penduduk— kini tentu jumlahnya semakin banyak— serta ancaman meletusnya Gunung Kelud, membuat keputusan untuk melakukan evakuasi (pengungsian) memiliki risiko tersendiri. Jumlah penduduk yang banyak, serta ancaman bencana yang akan terjadi membuat segala persiapan harus matang dilakukan.

Sejak akhir September 2007, suhu danau kawah mulai meningkat. Ini menunjukkan bahwa aktivitas Gunung Kelud kembali meningkat. Pada Selasa, 16 Oktober 2007, status aktivitas Gunung Kelud dinaikkan dari Siaga (level III) menjadi Awas (level IV). Dan, Jumat, 19 Oktober 2007 terlihat tanda-tanda gempa tremor terus-menerus dan asap putih mulai muncul di atas kawah. Gunung Kelud dikabarkan memasuki detik-detik menjelang meletus. Sulit untuk diprediksi dan potensi kekuatannya yang besar membuat Gunung Kelud sangat berbahaya.

Setelah meningkatnya status Gunung Kelud, ribuan orang penduduk desa yang masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) mengungsi ke lokasi yang jauhnya idealnya sekitar 10 kilometer dari KRB. Beberapa di antara warga ada yang tidak mau mengungsi karena menjaga ternak dan sawah ladang yang belum sempat dipanen.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan Posko Jenggala pada medio Oktober 2007 di wilayah Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar, kepanikan warga sudah mulai terasa. Jalur evakuasi dan fasilitas pengungsian telah didirikan di beberapa daerah aman. Tempat-tempat pengungsian padat di malam hari, sedangkan di siang hari relatif sepi, karena sebagian pengungsi kembali ke ladang dan kandang ternak masing-masing untuk bekerja.

Namun, didapat kabar bahwa setelah sekitar sepekan berada di pengungsian, sejumlah warga mulai terjangkit berbagai penyakit. Para pengungsi ini menderita antara lain infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), penyakit kulit, iritasi mata akibat debu vulkanik, hingga diare. Umumnya menjangkiti anak-anak dan lanjut usia. Soalnya, selain kondisi cuaca yang tidak menguntungkan, plus sarana yang tidak seperti di rumah sendiri, yaitu minim sarana mandi, cuci, dan kakus.

Hal ini mengakibatkan banyak warga yang berada di lokasi pengungsian mudah terserang penyakit. Karena stamina semakin menurun, terdapat sekitar 13 orang pengungsi harus dirawat inap di di Rumah Sakit Bhayangkara, Kediri. Berbagai posko pengungsian berupaya untuk menambah makanan bergizi. Bantuan datang dari Departemen Sosial dan lembaga-lembaga sosial lainnya, berdatangan untuk meningkatkan ketahanan fisik para pengungsi.

Pada 28 Oktober 2007, para relawan Posko Jenggala berkumpul di sekretariat Posko di Cireunde, Jakarta untuk membicarakan perkembangan terakhir Gunung Kelud. Kemudian, diputuskan keberangkatan Tim Posko Jenggala untuk membantu masyarakat di sekitar Gunung Kelud. Direncanakan, 13 orang berangkat dari Jakarta, dengan komposisi 10 orang melalui jalur udara dan tiga orang melalui jalan darat. Ditambah relawan Posko Jenggala dari beberapa kota di Jawa Timur.

Lalu, pada 30 Oktober 2007, tim yang melalui jalan darat berangkat. Dan, keesokan harinya tim yang melalui jalur udara juga berangkat. Plus, tim medis lengkap yang berangkat pada Jumat, 2 November 2007.

Setelah berkumpul di Surabaya, perjalanan lewat jalan darat dilanjutkan menuju Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Setelah tiba di Kediri, untuk mengatur seluruh kegiatan, Posko Jenggala menempati sebuah rumah di Desa Jajar, Kecamatan Wates yang difungsikan sebagai posko. Seperti biasanya, tim segera melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Kabupaten Kediri.

Berbeda dengan penanganan korban bencana sebelumnya (pasca bencana), kali ini Posko Jenggala berupaya melakukan kegiatan penanganan pra bencana. Karena itu, rekomendasi kegiatannya sedikit berbeda, kapasitas tim adalah menunggu, tapi tetap dinamis memberikan bantuan kepada para pengungsi. Kegiatan Posko Jenggala di Gunung Kelud adalah memberikan pelayanan medis gratis yang dilakukan dengan cara menyisir daerah rawan bencana dan lokasi-lokasi pengungsian.

Pertimbangan utama: dilihat dari pemantauan awal, masyarakat di sekitar Gunung Kelud belum atau sulit mendapatkan layanan kesehatan berkesinambungan yang ditopang oleh peralatan dan obat-obatan yang memadai. Selain itu, Tim Posko Jenggala juga membantu logistik melalui dapur umum dan distribusi mie instan (Salam Mie).

Juga, karena pertimbangan sulitnya didapat air bersih, maka Posko Jenggala melakukan kegiatan pengadaan air bersih melalui sumur bor dan penampungan air. Bantuan pakaian juga diberikan berupa kaos untuk anak-anak, dewasa, dan orang tua.

Skenario kedua, dalam kemungkinan terburuk— kalau akhirnya Gunung Kelud meletus— Tim Posko Jenggala merencanakan pendirian tempat pengungsian dengan fasilitas dan layanan yang terintegrasi. Untuk keperluan tersebut, telah disiapkan lima tenda Pleton dan ratusan tenda yang siap bangun.

Anggota tim lengkap seluruhnya— dengan relawan Posko Jenggala selain dari Jakarta juga dari Surabaya, Malang, dan Kediri– pada 2 November 2007. Semua aktivitas Posko Jenggala dikoordinasikan dari sebuah rumah di Desa Jajar, Wates yang dijadikan posko. Dari sini segala aktivitas bantuan dimulai.

Setelah segala persiapan selesai, secara efektif kegiatan dimulai pada 4 November 2007. Mengingat daerah penyisiran yang cukup jauh dan luas, kegiatan Posko Jenggala di Gunung Kelud memakan waktu 14 hari. Kegiatan berakhir pada 17 November 2007.

Pada hari pertama, dilangsungkan kegiatan pengobatan di lokasi pengungsian Desa Segaran, Kecamatan Wates yang dilakukan dari pagi hingga sore hari. Dilanjutkan pada keesokan hari, ke Desa Sumber Asri yang berjarak 30 kilometer dari Desa Jati Jajar, dengan memakan waktu 45 menit. Daerah ini merupakan Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang berjarak kurang dari 15 kilometer dari puncak Gunung Kelud.

Kemudian, pada 5 November 2007, Posko Jenggala juga mengunjungi Desa Sepawon di kecamatan yang sama. Daerah ini berada sangat dekat dengan puncak Kelud. Penduduk di desa ini tidak mau mengungsi. Jadi, selain melakukan pegobatan, tim juga berusaha memberikan pemahaman kepada penduduk agar mau mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Di tengah cuaca mendung dan suhu yang dingin, tim kembali menembus Kawasan Rawan Bencana, menuju Desa Satak melalui Hutan Sengon, perkebunan kopi, dan perkebunan kakao melalui jalan tanah. Ketika tiba di Desa Satak, telah ada tim lain yang telah melakukan kegiatan yang sama. Maka, tim kembali ke perkebunan PTPN XII untuk melakukan tugas di sana. Para pengungsi di daerah ini baru bisa berkumpul pada malam hari, karena siang hari mereka tetap ke ladang masing-masing, walau status Gunung Kelud sudah ditetapkan “Awas”.

Pada hari ketiga, 6 November 2007, Posko Jenggala melakukan pengobatan di Balai Desa Jajar, Wates. Lokasinya dekat dengan rumah yang dijadikan posko oleh Posko Jenggala di Desa Jajar.  Hanya perlu ditempuh dalam waktu 15 menit. Lokasi pengungsi di desa ini merupakan tempat pengungsi dari Desa Tawang yang sudah melebihi kapasitas di sana. Selain sebagai posko, rumah tempat Posko Jenggala juga dijadikan tempat pengobatan.

Memasuki hari keempat, 7 November 2007, bergerak menuju Desa Krenceng yang berjarak 45 kilometer dari Desa Jajar. Di lokasi ini, para pengungsi mendatangi tempat pengobatan pada sore hari, karena siang harinya dipakai untuk kembali ke rumah atau beraktivitas di ladang mereka. Pasien yang datang kebanyakan wanita, anak-anak, dan lanjut usia. Penyakit yang banyak diderita adalah ISPA dan diare.

Pada hari yang sama, Tim Posko Jenggala juga menuju daerah Desa Siman dengan menempuh waktu 45 menit. Di desa ini terdapat tiga lokasi pengungsian yang saling berdekatan: di Balai Desa, lapangan Desa Siman, dan Kantor Koperasi Pegawai Negeri. Jumlah pengungsi yang berada di sini merupakan yang terbanyak di Kediri, yaitu mencapai sekitar 3.500 orang. Posko Jenggala melakukan pengobatan di Balai Desa, dibantu oleh petugas Puskesmas Kepung. Di Siman, Posko Jenggala berjumpa dengan pasien berusia 108 tahun.

Memasuki hari kelima (8 November 2007), Posko Jenggala mendapat kabar melegakan karena status “Awas” Kelud diturunkan menjadi “Waspada”. Para pengungsi dibolehkan pulang ke rumah masing-masing. Gunung Kelud yang sudah sekitar satu bulan lebih meningkatkan aktivitasnya, ternyata tidak jadi meletus.

Menurunnya aktivitas Kelud dilaporkan oleh Kepala Pengawas Vulkanologi. Aktivitas yang sempat meningkat menyebabkan pertumbuhan kubah lava yang tingginya mencapai 150 meter dengan diameter lebih dari 100 meter. Walau status Kelud telah diturunkan, Posko Jenggala tetap menjalankan kegiatan rutinnya. Pada hari ini, menuju Desa Gadungan yang berjarak 15 kilometer dari posko.

Kemudian, pelayanan kesehatan di Desa Wonorejo yang berjarak 7,5 kilometer dilangsungkan pada 9 November 2007. Kegiatan di desa ini dilakukan di rumah penduduk yang juga kerap dipakai kegiatan Posyandu Balita. Lalu, Posko Jenggala juga melakukan kegiatan pengobatan di Dusun Bakung, Desa Tempurejo di hari yang sama. Mengambil tempat di sebuah Taman Kanak-Kanak. Karena proses belajar mengajar masih berlangsung Tim Posko Jenggala menyempatkan diri bermain dan bernyanyi bersama anak-anak. Kegiatan pengobatan di desa ini mendapat tanggapan yang sangat baik. Dalam waktu singkat, warga sudah banyak yang berdatangan. Hingga pukul 15.30 WIB, pasien yang diobati mencapai jumlah 280 orang.

Pada 10 November  2007, Posko Jenggala semakin mobile. Pada hari ketujuh ini Posko Jenggala melakukan pelayanan kesehatan serta distribusi Salam Mie dan kaos di tiga lokasi: Desa Karang Anyar, Bakung, dan Tempurejo. Dalam kegiatan di Desa Karang Anyar, Posko Jenggala menempati rumah seorang penduduk desa bernama Ibu Boyo yang juga aktiv membantu memanggil dan mengatur alur pasien. Di Desa Karang Anyar, Posko Jenggala mendapati pasien dengan hipertensi.

Begitupula di Desa Tempurejo, Posko Jenggala disambut hangat oleh Kepala Desa dan Kepala Dusun setempat. Seperti di tempat lainnya, di Desa ini pun kegiatan pengobatan Posko Jenggala mendapat antusiasme penduduk. Namun, tidak semua pasien dapat datang langsung ke lokasi pengobatan. Tim Dokter  Posko Jenggala sempat diminta mengunjungi rumah seorang pasien yang mengalami kejang. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata pasien diduga menderita Status Epileptikus. Akhirnya, pasien ini dirujuk kepada seorang spesialis Neurologi.

Seperti pada umumnya daerah Lereng Gunung Kelud, di kawasan ini juga memiliki keindahan alam yang cantik. Salah satunya adalah Sumber Air Oebalan. Selepas kegiatan, sambil melakukan perjalanan pulang ke Posko Desa Jajar, tim sempat menikmati keindahan Oebalan ini.

Pada hari kedelapan (11 November 2007), Tim Posko Jenggala terus bergerak menelusuri daerah Kabupaten Kediri. Kali ini bertempat di Desa Purwodadi yang berjarak 20kilometr dari Posko Desa Jajar. Menurut hasil tim survei, desa ini merupakan daerah minus dan membutuhkan pelayan kesehatan. Di desa ini kebanyakan pasien menderita ISPA (terutama anak-anak). Sedangkan usia lanjutnya banyak menderita penyakit degeneratif, seperti hipertensi dan jantung.

Dari Desa Purwodadi, tim bergerak ke Dusun Duwet yang dihuni oleh masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk mengakses pelayanan kesehatan yang layak. Selain pengobatan, juga dilakukan distribusi logistik dan kaos Posko Jenggala. Kemudian, lokasi selanjutnya di Dusun Panceran yang masih masuk Kecamatan Wates.

Teriakan “Hujan abu! Hujan abu!” sempat membuat kepanikan Tim Posko Jenggala pada hari kesembilan (12 November 2007), di Dusun Babadan yang berjarak sekitar 15 kilomter dari puncak Kelud. Bisa jadi semua orang berpikir bahwa Gunung Kelud saat itu akan meletus, padahal statusnya sudah diturunkan.

Tidak lama kemudian hujan deras turun membasahi Dusun Babadan. Penduduk yang penglihatan matanya sempat terganggu karena debu, kembali tenang. Setelah ditelusuri kabar terakhir melalui radio komunikasi, didapatkan informasi dari Satlak bahwa tidak ada tanda-tanda Kelud akan meletus. Informasi tersebut membuat  masyarakat dan anggota tim merasa tenang. Dan, kegiatan pengobatan kembali berjalan.

Saat pengobatan di lokasi yang lain, di Dusun Sinda, penduduk di sana sudah berkumpul dengan antusias di lokasi kegiatan saat kedatangan tim. Karena penduduk di Dusun Sinda didominasi penduduk lansia yang kebanyak tidak berbahasa Indonesia, maka  anggota tim yang tidak bisa berbahasa Jawa menyalin contekan dari dokter lain— walau telah disiapkan penterjemah dari relawan lokal. Istilah seperti boyok keju (punggung nyeri),sirah mumet (pusing kepala), hingga mripat mbliyur (mata rabun) menjadi idiom favorit untuk dihafal para dokter Posko Jenggala. Di dusun ini juga sempat terjadi hujan debu, namun juga disapu oleh hujan deras.

Pada 13 November 2007, Posko Jenggala membagi kegiatan dalam tiga lokasi yang ketiganya merupakan daerah terlarang saat status Kelud masih”Awas”: Petung Ombo, Satak, dan Gathok. Untuk menuju lokasi yang cukup jauh tersebut, tim harus melewati jalan-jalan berpasir sisa letusan Kelud pada 1990.

Lokasi Petung Ombo dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat dengan jalan yang cukup aman. Hanya saja, lokasinya memang mendekat ke arah puncak Kelud. Sedangkan untuk lokasi Satak, tim harus menempuh jalur lahar besar. Sementara itu, untuk Gathok, tim harus melalui jalan setapak yang dipayungi tanaman Sengon. Selain itu, juga terhampar ribuan hektar lahan perkebunan yang hijau.

Di tiga lokasi ini, penduduk yang sebelumnya mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing dan melakukan kegiatan seperti biasa. Namun, mereka masih diselimuti rasa takut dan khawatir, jika sewaktu-waktu Kelud meningkat lagi aktivitasnya. Aparat desa setempat— yang merupakan bagian terintegrasi dengan Satlak Penanganan Bencana terus memantau situasi dengan menggunakan radio komunikasi.

Karena area yang luas dan jauh di ketiga lokasi ini, membuat penduduk yang berada di pelosok sekitarnya juga antusias mendatangi kegiatan pengobatan Posko Jenggala. Ada yang berjalan kaki untuk sampai ke lokasi pengobatan, mengendarai sepeda motor, hingga ada yang sengaja datang berbondong-bondong dengan menggunakan truk.

Kemudian, kegiatan pada hari kesebelas (14 November 2007) mengambil lokasi di Dusun Judeg. Di sini, tim baru dari Surabaya mulai masuk. Dua dokter pulang ke Surabaya dan digantikan oleh dua dokter lainnya. Pengobatan di Dusun Judeg juga disambut antusiasme penduduk. Sampai dengan pukul 14.30, pengobatan yang dilakukan oleh empat orang dokter dan dua paramedis ini mencapai jumlah 271 orang pasien.

Di hari yang sama juga diadakan kegiatah di Dusun Sanding, sebuah daerah yang memiliki keindahan alam yang luar biasa. Loaksi pengobatan di rumah seorang penduduk bernama Pak Kasun. Tim harus berkejaran dengan bocornya genteng saat diguyur hujan. Walau hujan turun deras di daerah ini, tidak menghalangi pasien untuk berobat di Posko Jenggala.

Tidak semua lokasi dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat. Seperti di hari ke-12, pada 15 november 2007, untuk menuju ke Dusun Anyar tim harus menggunakan sepeda motor dan motor roda empat (ATV).

Penduduk di dusun ini bekerja sebagai petani dan penggarap ladang. Pada pagi hari dusun sepi, karena hampir semua penduduknya bekerja di ladang. Mereka baru kembali ke rumah pada siang hari. Dusun Anyar dari sisi Kabupaten Blitar merupakan daerah yang terdekat dengan gugusan gunung di sekitar Kelud. Kawasan ini bisa disebut sebagai Kampung Kaki Langit. Di sini terdapat situs peninggalan Kerajaan Majapahit. Untuk mencapai daerah ini harus ditempuh pula jalur bekas lahar– yang lebarnya mencapai seratus meter.

Di Dusun Anyar, Tim Posko Jenggala sempat mengunjungi pasien yang tidak bisa berjalan. Ketika disambangi, pasien tersebut terharu dan menangis. Soalnya, selama ini jangankan mengerjakan aktivitas berat, untuk sekadar istirahat saja pasien ini merasa sesak. Tim mendiagnosa pasien tersebut mengidap gagal ginjal stadium IV.

Kegiatan juga dilakukan di Dusun Kali Bladak. Dusun ini merupakan daerah jalur lahar besar. Di kali ini banyak orang mencari rezeki dengan menambang pasir. Sebagian lainnya bekerja di bidang pertanian. Penduduk mendiami lahan di dataran yang lebih tinggi dari kali, sehingga aman bila terjadi aliran lahar kembali. Berdasarkan pengalaman letusan Kelud pada 1990, dusun ini dihujai kerikil dan pasir yang menyebabkan genting dan rumah ambruk. Saat status Kelud “Awas” penduduk Dusun Kali Bladak mengungsi di kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Kini, mereka bisa kembali ke rumah dan bekerja kembali seperti biasa.

Selain di Dusun Kali Bladak, kegiatan juga dilangsungkan di Kali Kuning, yang juga menjadi bekas aliran lahar Kelud. Daerah ini merupakan daerah subur untuk pertanian. Untuk mencapai dusun ini, tim harus menempuh perjalanan melelahkan sekitar satu jam. Memasuki dusun harus melalui gerbang PTPN yang berada di Kabupaten Blitar. Setelah tiba di lokasi, rasa lelah langsung lenyap karena alamnya yang indah dan udaranya yang segar. Dibantu oleh petugas dusun dan aparat TNI, tim melakukan kegiatan pengobatan di sebuah aula dusun yang terbuka.

Kegiatan pada hari ke-13 (16 November 2007) dilakukan Posko Jenggala di Dusun Bulung, yang telah masuk Kabupaten Malang. Perjalanan memakan waktu 45 menit dari posko di Desa Jajar. Lengkap sudah Tim Posko Jenggala berusaha menjangkau seluruh wilayah yang merupakan lereng Gunung Kelud.

Seperti di dua kabupaten sebelumnya (Kediri dan Blitar), wilayah pedesaan yang sudah masuk Kabupaten Malang ini juga memiliki pemandangan alam yang indah. Selain di Dusun Bulung, tim juga bergerak ke Dusun Banturejo, Desa Bayem yang berjarak tidak jauh dari lokasi pertama. Ketika tiba di lokasi pengobatan, petugas di Kantor Desa hanya memukul kentongan untuk mengumpulkan penduduk. Tak kurang dari seperempat jam saja, penduduk desa sudah pada berdatangan untuk berobat.

Dusun Kayoman, Kecamatan Ploso Klaten, Kabupaten Kediri, menjadi lokasi terakhir kegiatan Posko Jenggala membantu masyarakat di sekitar lereng Kelud. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit dari posko di Desa Jajar. Di Dusun Kayoman banyak ditemukan orang tua yang menderita katarak.

Seruan kemanusiaan dari lereng Kelud, telah berusaha dijawab oleh Posko Jenggala. Walau area yang luas– masuk dalam wilayah tiga kabupaten– Gunung Kelud memberikan pesan mendalam: meletus atau tidak bukan menjadi pertimbangan utama. Tapi, jawaban atas panggilan hati terhadap seruan kemanusiaan penting untuk dilakukan. Dan, semua itu tidak sia-sia


Waktu Kegiatan


01-September-2007 S/D 30-September-2017

Lokasi Kegiatan


Berita Terbaru


Selengkapnya

Aktivitas Terbaru


Selengkapnya

Kontak

GERAKAN KEMANUSIAAN POSKO JENGGALA

Jl. Gunung Indah II No. 50, Cirendeu, Ciputat, Tanggerang Selatan

(021) 7445734

(021) 7445734

info[at]posko-jenggala.org

www.posko-jenggala.org