Sunday, November 19, 2017
  • Ikuti Kami
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala

Banjir Bengawan Solo dan Pahlawan Kemanusiaan

Published : 17-Januari-2015 | 01:09:21

Sungai Bengawan Solo mempunyai sejarah dan akar budaya yang panjang. Banjir besar terjadi pada 2008. Saat melakukan bantuan kemanusiaan di Bengawan Solo, Posko Jenggala harus merelakan relawannya menghadap Sang Khalik.


Bengawan Solo, sungai terbesar dan terpanjang di Pulau Jawa meluap pada awal 2008. Melubernya air Bengawan Solo menyebabkan banjir di berbagai tempat, mulai dari hulu sampai dengan hilir sungai ini. Solo, Sragen, Ngawi, Bojonegoro, Lamongan, hingga Gresik dilanda banjir. Rumah-rumah penduduk, jembatan, sarana irigasi, dan sawah-sawah terendam. Padahal, sepanjang mengalirnya sungai menjadi gantungan hidup masyarakat dan budayanya.

Posko Jenggala berusaha menyisir dari hulu hingga hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Start  dari Sragen, Jawa Tengah dengan relawan dokter-dokter muda dari Yogyakarta dan Solo, tim medik Posko Jenggala akan sampai di Ngawi, Jawa Timur.

Dari Ngawi, bantuan kemanusiaan dilanjutkan relawan-relawan dokter dari Jawa Timur. Keanggotaan tim berubah, kali ini dokter-dokter dari Surabaya dan Malang yang turut serta Posko Jenggala. Bantuan pengobatan gratis dan logistik dilakukan dari satu titik ke titik lainnya sepanjang aliran Bengawan Solo, hingga direncanakan berakhir di Lamongan, Jawa Timur.

Dian Yuni Rachmawati baru saja pulang dari kegiatan kemanusiaan Posko Jenggala membantu korban banjir Gorontalo. Dokter muda yang kerap bersama Posko Jenggala ini berkeras ikut kembali bersama Posko Jenggala membantu korban banjir Bengawan Solo secara penuh dari Sragen hingga Lamongan. Andi Sahrandi sempat melarang Dian untuk turut serta, karena lelah baru saja kembali dari Gorontalo. Karena berkeras juga, Andi sempat menawarkan untuk Dian menunggu saja di Lamongan, karena tim akan sampai pula di sana.

Dengan alasan bahwa dirinya berasal dari Jawa Timur, setelah Tim Posko Jenggala sampai di Ngawi, Dian tetap berkeras ikut tim selanjutnya untuk daerah Jawa Timur. Bersama rombongan Dian, ikut pula Nurul Chayati, seorang perawat muda yang penuh dedikasi.

Banjir sepanjang aliran Bengawan Solo kali ini sangat besar, berbeda dengan banjir-banjir sebelumnya yang kerap pula menimpa Bengawan Solo. Arifin Panigoro menyempatkan diri datang ke lokasi melihat kondisi serta menyemangati relawan Posko Jenggala ketika berada di Lamongan, Jawa Timur.

Saat hari keberangkatan Tim Posko Jenggala dari base camp  di Lamongan ke lokasi pengobatan di daerah DAS Bengawan Solo yang jauh dan harus ditempuh dengan menyeberangi sungai, Andi Sahrandi membangunkan anggota tim pada pukul enam pagi. Setelah sarapan, mereka sempat berbincang, dan Andi sempat mewanti-wanti agar rombongan berhati-hati di jalan karena jaraknya yang jauh (sekitar tiga hingga empat jam) dan memiliki rintangan yang tak sedikit. Rombongan Dian dan Nurul berangkat dengan menggunakan mobil.

Berselang satu jam kemudian, Andi Sahrandi yang tinggal di base camp  menerima telepon dari Jakarta. Telepon dari Jakarta tersebut menanyakan apakah betul ada kecelakaan yang menimpa rombongan Posko Jenggala?  Andi sempat kaget, karena belum ada yang memberitahu kepadanya perihal kecelakaan. Ternyata, anggota Tim yang masih bersama Andi tidak ada yang berani menceritakan tentang kejadian itu. Didapat kabar bahwa rombongan Dian dan Nurul kecelakaan di daerah Babat, Lamongan, Jawa Timur. Kendaraan yang mereka tumpangi bertabrakan dengan truk kontainer.

Andi Sahrandi segera ke rumah sakit. Setelah ditunggu di sana, beberapa lama kemudian datang satu per satu. Pertama, Andi melihat kedatangan Nurul. Wanita muda ini sudah meninggal. Sementara itu, Dian masih dipompa untuk berusaha diselamatkan. Melihat ini, Andi tidak kuat, hingga tergeletak lemas dan diberi obat jantung. Karena merasa tidak kuat, Andi akhirnya dibawa pulang. Dian tidak terselamatkan.

Di hari yang berduka itu, Dian Yuni Rachmawati dan Nurul Chayati diantarkan Andi Sahrandi dan rekan-rekan Posko Jenggala kembali ke rumah masing-masing. Mereka diantarkan bersama-sama banyak orang hingga pemakaman. Keluarga Dian yang bersahaja baru saja akan bersiap untuk pernikahan Dian yang akan berlangsung tak lama lagi. Sedangkan Nurul yang ternyata seorang aktivis kepemudaan di daerah tempatnya tinggal, langsung disambut banyak teman-temannya.

Tak seperti biasanya, Andi Sahrandi menitikkan air matanya di Bengawan Solo. Menurut Andi, mereka berdua adalah Pahlawan Kemanusiaan. Dian dan Nurul mendedikasikan hidupnya untuk membantu orang lain


Waktu Kegiatan


10-Januari-2008 S/D 10-Januari-2008

Lokasi Kegiatan


Berita Terbaru


Selengkapnya

Aktivitas Terbaru


Selengkapnya

Kontak

GERAKAN KEMANUSIAAN POSKO JENGGALA

Jl. Gunung Indah II No. 50, Cirendeu, Ciputat, Tanggerang Selatan

(021) 7445734

(021) 7445734

info[at]posko-jenggala.org

www.posko-jenggala.org