Saturday, August 08, 2020
  • Ikuti Kami
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala

Pengobatan Gratis korban terdampak Gempa Ambon

Published : 25-Juni-2020 | 14:31:59

Salah satu titik lokasi pengobatan gratis di Pulau Haruku, tepatnya berada di rumah tua Latuharhari salah satu pahlawan kemerdekaan asal Ambon


Tak bisa lepas dari penderitaan warga akibat bencana, mungkin itu bahasa yang bisa terucap dari para relawan dan rekan-rekan yang terbiasa bergabung dalam kegiatan kemanusiaan di Posko Jenggala, sontak pasca gempa 26 September lalu dengan di motori oleh Andi Sahrandi, tim Posko Jenggala mulai menginventarisir seluruh relawan medis yang berkenan untuk segera berangkat ke tanah Maluku guna melakukan kegiatan pengobatan gratis di daerah terdampak gempa Ambon, meliputi pulau Ambon, pulau Haruku dan pulau Saparua

Gempa yang terjadi pada 26 September 2019 dengan magnitudo 6,5 dirasakan cukup mengguncang wilayah Ambon dan sekitarnya, tetapi memang dilihat dari segi kerusakan gempa yang mengguncang tersebut tidak banyak merusak, yang menjadi permasalahan utama adalah banyaknya gempa susulan yang terjadi setelah gempa awal, bahkan terhitung hingga 10 Oktober 2019 gempa susulan tersebut sudah mencapai 1300an gempa susulan, hal tersebut membuat para warga terdampak gempa awal mengungsi ke daerah yang lebih tinggi atau ke daerah perbukitan, diperkirakan pengungsi tersebut mencapai 135.000an jiwa

Adalah Bara Muskita yang menjadi motor awal dalam pemetaan dan penentuan titik lokasi kegiatan pengobatan gratis, karena disamping beliau sebagai putra daerah Maluku tepatnya di pulau Haruku, daerah beliau juga merupakan daerah terdampak dengan pengungsi yang cukup tinggi yang berjarak sekitar 40 km dari kota Ambon dengan menyebrangi laut

Setelah dilakukan rapat internal antara Andi Sahrandi, Bara Muskita dan Rendy Nugraha, maka diputuskan tim medis berangkat sesegera mungkin menuju Ambon dengan komposisi 5 dokter dari Jakarta yaitu dr. Amril, dr. Fatimah, dr. Lucky, dr. Reagan dan dr. Sandra serta pendamping atau tim logistik dari Posko Jenggala yaitu M. Shiddiq Akbar, sedangkan untuk relawan, assisten dokter dan tim perawat diambil dari Ambon dari unsur mahasiswa dan pemuda setempat yang peduli dengan kampungnya

Tim medis dari Jakarta bertolak menuju Ambon pada pagi hari Rabu 2 Oktober 2019, sampai di Ambon sekitar pukul 13.00 WIT dan telah dijemput oleh Hanny yang merupakan masih kerabat dari Bara Muskita, selanjutnya tim Medis menuju apotik di kota Ambon untuk mengecek dan persiapan kebutuhan obat, yang mana apotik sudah lebih dahulu dikondisikan dari Jakarta, setelah selesai melakukan pengecekan dan persiapan obat-obatan tim Medis melakukan rapat kecil bersama dengan relawan lokal, asisten dokter dan perawat lokal guna mematangkan persiapan kegiatan tersebut

Keesokan harinya tim Posko Jenggala bertolak menuju pulau Haruku yang masuk wilayah kabupaten Maluku Tengah, yang berjarak 40 km dari kota Ambon dan langsung menuju pelabuhan Tulehu yang menghubungkan antara pulau Ambon dengan pulau Haruku, dengan menyebrangi laut menggunakan speed boad selama 15 menit maka sampailah tim Posko Jenggala di pulau Haruku, di sana tim Posko Jenggala menuju rumah tua Latuharhary yang merupakan salah satu pahlawan dan penggagas kemerdekaan RI, beliau juga merupakan kakek dari Bara Muskita

Setelah sampai di rumah tua Latuharhary yang akhirnya dijadikan posko dan penginapan oleh tim Posko Jenggala, kami menuju lokasi titik pengungsian yang berada di SMP 3 Haruku yang berada di atas bukit dan ditempuh 15 menit dengan kendaraan, antusiasme pengungsi menyambut kedatangan kami merupakan semangat tersendiri, mulailah para dokter memeriksakan pasien yang datang, obat-obatan diatur oleh para perawat dan relawan, yang laki2 menurunkan obat-obatan dari mobil pick up dan yang perempuan menyusun obat agar mudah di jangkau setiap menerima resep dari dokter

Menjelang sore hari karena pasien sudah mulai berkurang, tim Posko Jenggala bergeser menuju Kampung Baru Haruku yang berjarak sekitar 20 menit menggunakan kendaraan, jalan yang dilalui melewati medan jalan yang kurang bagus, terlihat kiri-kanan banyak dijumpai tenda-tenda pengungsi yang sampai saat ini mereka masih khawatir adanya gempa susulan yang besar dan dapat memicu tsunami

Hampir seluruh warga di pulau Haruku yang tinggal di pesisir pantai seluruhnya mengungsi ke perbukitan, terutama pada malam hari, kampung yang mereka tempati benar-benar kosong dan sangat sepi dan disiang hari beberapa dari warga kembali kerumah sekedar melihat dan membersihkan rumah mereka, hanya tim Posko Jenggala yang memang menempati salah satu rumah didesa tersebut yang juga merupakan rumah tua Latuharhari dengan di temani oleh pak Don, yang kesehariannya menjaga dan merawat rumah tersebut

Hari Jumat yang merupakan hari kedua tim Posko Jenggala melakukan pengobatan gratis di pulau Haruku, pagi ini tim menuju ke Desa Oma, adalah sebuah titik pengungsian di daerah perbukitan, warga pengungsi sangat antusias menyambut kedatangan tim Medis Posko Jenggala, beberapa dari mereka bahkan membantu mempersiapkan meja dan kursi untuk para tim Medis, sore harinya Andi, Bara dan Rendy sampai di pulau Haruku, dan langsung menuju desa Oma, karena mereka bertiga berangkat dari Jakarta pagi harinya

Tim Medis Posko Jenggala tentu saja sangat gembira akan kedatangan mereka bertiga dari Jakarta, karena selain menambah semangat dalam melakukan pengobatan Medis juga dapat menceritakan perjalanan mereka selama dua hari di Ambon khususnya kepada Andi Sahrandi yang sangat mereka jadikan panutan

Di titik pengungsian Andi mulai bercengkrama dengan anak-anak yang berada di pengungsian, seperti biasa Andi Mulai mengumpulkan seluruh anak-anak di pengungsian untuk sekedar membahagiakan mereka atau lebih tepatnya membuat mereka senang yaitu dengan memberikan jajanan warung, mereka diminta berbaris selanjutnya Andi mulai memberikan jajanan tersebut kepada seluruh anak-anak di pengungsian, hal ini dilakukan rutin oleh Andi dalam setiap kegiatan Posko Jenggala dimanapun

Tim Medis Posko Jenggala terus melakukan pengobatan gratis di desa Oma hingga waktu menunjukkan pukul 18.00, selanjutnya tim pamit kepada seluruh masyarakat desa Oma yang mengungsi untuk kembali ke rumah kediaman Latuharhary sebagai base utama di Haruku, mereka meminta kami kembali esok hari untuk melakukan pengobatan di tempat yang sama karena masih banyaknya yang belum terobati dengan alasan sedang di Ambon dll

Kami tetap tidak menjanjikan untuk memberikan pelayanan medis di desa tersebut karena masih harus membagi waktu dan pelayanan medis di tempat lain, ada beberapa warga yang sempat kecewa karena kami tidak kembali lagi esok hari, sesampainya dirumah kediaman Latuharhary tim Medis Posko Jenggala mulai berdiskusi untuk evaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan, sebagian tim Medis membereskan dan menyiapkan obat-obatan yang akan dibawa dan digunakan esok hari

Cukup ceria tim Posko Jenggala di tanah Ambon, walaupun hampir setiap hari gempa melanda daerah yang kami datangi dan sesekali membuat panik teman-teman, tetapi itu semua tidak menyurutkan langkah teman-teman untuk meberikan pelayanan kesehatan gratis kepada para pengungsi

Keesokan harinya tim Medis Posko Jenggala bertolak menuju desa Kariu masih di pulau Haruku, perjalanan menuju desa Kariu sekitar 40 km dari base Posko Jenggala dan ditempuh menggunakan jalur darat selama 1 jam 20 menit, naik turun perbukitan dan juga melewati pesisir pantai di Pulau Haruku, tim Medis sudah berkomunikasi dengan salah satu tokoh desa Haria yaitu pak Am, sesampainya disana pak Am dan warga sudah menyiapkan tempat untuk melakukan pelayanan kesehatan di desa Kariu, sebagian besar warga desa Kariu tidak mengungsi, hanya beberapa rumah disepanjang pesisir pantai saja yang mengungsi karena khawatir gempa susulan terjadi dan akan menimbulkan tsunami didesa mereka, Andi dan Rendy diajak ke titik pengungsian desa Kariu yang terletak di lapangan dengan jarak yang tidak jauh dari tempat pelayanan kesehatan tim Medis Posko Jenggala, seperti biasa Andi mengumpulkan anak-anak untuk diberikan jajanan warung, terlihat ceria dan senang sekali anak-anak tersebut, dari mulai anak-anak hingga manula mengantri untuk diberikan pelayanan kesehatan dan obat-obatan, “sungguh sangat berterima kasih kami diberikan pelayanan kesehatan oleh tim Jenggala”, kata pak Jon yang sudah 3 hari merasakan sakit dikakinya akibat terjatuh pada saat mengungsi gempa

Setelah seluruh pengungsi dan warga desa Kariu diberikan pelayanan kesehatan, tim Medis Posko Jenggala kembali menuju ke rumah peristirahatan Latuharhary atau base tim Posko Jenggala, kembali diskusi dan evaluasi untuk kegiatan esok hari sambil makan malam bersama, diputuskan esok hari tim Medis Posko Jenggala menuju ke pulau Saparua

Pagi-pagi sekitar pukul 07.00 WITA tim Medis Posko Jenggala sudah dijemput oleh perwakilan dari warga pulau Saparua, yang semalam sudah dikomunikasikan, tim bertolak sekitar pukul 07.30 WITA menuju pulau Saparua, pukul 09.30 tim Medis sampai di pulau Haruku dan sudah ditunggu oleh Harry dan Lusi yang masih kerabat dari Bara, selanjutnya kami menuju ke desa Haria di pulau Haruku, sebagian besar penduduk di pulau Haruku tidak mengungsi karena memang letak pemukiman penduduk cukup tinggi dari pesisir pantai, walau begitu tetap saja mereka juga banyak yang mengungsi karena kawatir gempa susulan disertai dengan tsunami melanda mereka, sore hari tim Medis sementara menutup pelayanan kesehatan karena pada sore ini ada kebaktian dari gereja, sebagian besar warga dan pengungsi menuju ke gereja, waktu tersebut dimanfaatkan oleh tim Medis untuk sejenak beristirahat di kediaman Hari dan Lusi, dan pelayanan akan dilanjutkan pada pukul 19.00 WITA setelah kebaktian di Gereja

Keesokan harinya kami bersiap-siap menuju pulau Ambon, rencananya tim Posko Jenggala akan melakukan pelayanan kesehatan gratis di daerah Tulehu, pagi hari sekitar pukul 07.00 WITA kami sudah bersiap-siap menuju kapal yang akan mengangkut tim Posko Jenggala dan obat-obatan menuju Tulehu, pada akhirnya kami pamit kepada warga desa Haria di pulau Saparua, perjalanan dengan kapal/boat dari pulau Saparua ke pulau Ambon ditempuh selama 2 jam dan sesampainya di Tulehu kami sudah ditunggu oleh Hany yang sedari awal tim Posko Jenggala di Ambon selalu menyertai, sesampainya di Tulehu kami langsung menuju desa Waai berjarak sekitar 5 km dari pelabuhan Tulehu dan ditempuh sekitar 15 menit perjalanan

Di desa Waai para warga mengungsi ke perbukitan karena khawatir gempa susulan yang memicu tsunami melanda desa mereka karena desa Waai berada di pesisir pantai tidak jauh dari pelabuhan Tulehu, sesampainya di posko pengungsian para tim medis mulai membuka pelayanan kesehatan, dari balita sampai manula ikut diberikan pemeriksaan kesehatan secara cuma-cuma, tim medis sangat bersemangat memeriksa para pasien karena sambutan hangat dari para pengungsi desa Waai kepada kami

Dua hari selanjutnya kami melakukan pelayanan kesehatan di desa Liang dan desa Tulehu, khusus di desa Liang merupakan salah satu pusat gempa pada saat gempa awal di pulau Ambon yang terjadi pada tanggal 26 September 2019 dan juga merupakan salah satu daerah yang cukup parah terkena dampak gempa di Pulau Ambon, para pengungsi desa Liang juga mengungsi di daerah perbukitan tidak jauh dari desa mereka yang berada dipesisir pulau Ambon

Setelah tujuh hari tim medis Posko Jenggala melakukan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma mulai dari pulau Haruku, pulau Saparua sampai pulau Ambon saatnya tim Posko jenggala kembali ke Jakarta, semoga bencana segera berlalu dan warga dapat kembali ke desanya masing-masing untuk melakukan aktifitasnya seperti biasa, kami pun berpisah dengan rekan-rekan yang telah bergabung bersama Posko Jenggala selama di Ambon


Waktu Kegiatan


03-Oktober-2019 S/D 09-Oktober-2019

Lokasi Kegiatan


Aktivitas Terbaru


Selengkapnya

Kontak

GERAKAN KEMANUSIAAN POSKO JENGGALA

Jl. Gunung Indah II No. 50, Cirendeu, Ciputat, Tanggerang Selatan

(021) 7445734

(021) 7445734

info[at]posko-jenggala.org

www.posko-jenggala.org