Sunday, November 19, 2017
  • Ikuti Kami
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala

Ke Desa, Kami Kembali, Desa Binaan Cibeuteung Udik

Published : 17-Januari-2015 | 01:06:09

Teringat betapa pentingnya desa, namun kurang mendapat perhatian, Posko Jenggala bersama Lisuma Indonesia mengadakan kegiatan Desa Binaan di Kampung Mekar Jaya, Cibeuteung Udik, Bogor, Jawa Barat.


Kalimat-kalimat sederhana namun mengena itu tertulis di spanduk, pada hari terakhir kegiatan di Kampung Mekar Jaya, Cibeuteung Udik, Bogor, Jawa Barat, dari seseorang yang tidak menyebutkan namanya: “Terima kasih kepada Lisuma Indonesia yang mau peduli terhadap kami orang-orang desa. Dan, kami semua bersyukur bahwa masih ada yang peduli terhadap kami dan anak-anak kami. Warga Cibeuteung Udik sangat senang kepada semua mahasiswa.” Disusul tulisan: “Terima kasih atas partisipasinya dari mahasiswa. Kerjasama bersama rakyat.” Juga, “Selamat tinggal, jangan kapok datang ke kampung saya.”

Kata-kata tersebut memang sengaja dituliskan pada sebuah spanduk. Di sebuah spanduk lain dikhususkan bagi para relawan-mahasiswa untuk menuliskan hal yang sama. Semuanya untuk menuliskan kesan dan pesan selama dua hari kegiatan para mahasiswa yang tergabung dalam Lisuma Indonesia (Lingkar Studi Mahasiswa Indonesia)– yang memiliki semboyan All for Community, Community for All — bekerjasama dengan Posko Jenggala mengadakan kegiatan Desa Binaan, pada 17 hingga 18 Mei 2008 di Kampung Mekar Jaya, Cibeuteung Udik, Bogor, Jawa Barat.

Cibeuteung Udik adalah sebuah desa di Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Berada di selatan Jakarta. Dapat ditempuh dari Jalan Pasar Ciseeng dan Jalan Raya Bogor Parung. Walaupun berlokasi di pelosok dari jalan besar, desa ini sebenarnya relatif tidak terlampau jauh dari Ibu Kota Indonesia. Ditempuh tidak lebih dari dua jam dari Jakarta.

Mayoritas penduduk Mekar Jaya, Cibeuteung Udik, bermata pencaharian sebagai petani, peternak, hingga pekerja kasar. Komoditas pertanian dan peternakan mereka berupa: padi, singkong, umbi-umbian, ikan gurame, dan ikan lele. Sedangkan penduduk yang ada kebanyakan adalah anak-anak, wanita, dan lanjut usia. Kondisinya cukup memprihatinkan karena banyaknya anak-anak yang putus sekolah. Selain itu, pernikahan usia dini– seseorang yang masih di bawah umur sudah berkeluarga– banyak terdapat di sana. Kaum mudanya masih banyak yang menganggur. Sedangkan pendapatan secara keseluruhan masih minim.

Karena itu, Posko Jenggala bersama sekitar 100 relawan yang terdiri dari para mahasiswa dari 20 perguruan tinggi negeri maupun swasta di Jakarta yang bergabung dalam Lisuma, berusaha melakukan kegiatan di Cibeuteung Udik. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi semacam stimulator atau perangsang bagi pembangunan untuk kemajuan masyarakat desa. Konsep kegiatan adalah Desa Binaan. Jadi, setelah kegiatan pertama ini, nantinya sekitar tiga hingga enam bulan kemudian akan kembali lagi untuk melihat perkembangan dan melakukan kegiatan lanjutan (pembinaan) untuk menuju desa yang mandiri dan maju.

Ke-20 perguruan tinggi itu adalah: Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Islam Negeri Syarif Hidyatullah, Universitas Muhammadiyah, Universitas Trisakti, Universitas Bina Nusantara, Universitas Al-Azhar Indonesia, Universitas Yarsi, Universitas Kristen Indonesia, Universitas Gunadarma, Universitas Pancasila, Unversitas Dharma Persada, Universitas Terbuka Jakarta, Universitas Pelita Harapan, UPN Veteran Jakarta, STIE Jayakarta, STMA Trisakti, STIA Mandala Indonesia, LPI ABA Jakarta, dan ALTRI Jakarta.

Dengan berbekal semboyan “Lebih Dekat, Lebih Peduli”, para mahasiswa dan Posko Jenggala akan mengadakan kegiatan: pengobatan gratis, pembuatan taman baca, edukasi untuk anak-anak, kerja bakti, nonton bareng film Indonesia, olahraga senam otak, pemberian bibit ikan, pemberian bibit kambing, penanaman 5 ribu bibit pohon, pembagian mie instan, dan penyuluhan warga. Semua kegiatan ini adalah hasil survei dan pemetaan masalah yang telah dilakukan sebelumnya, yaitu pada 11 Mei 2008.

Pada 17 Mei 2008, seluruh peserta berkumpul di halaman Masjid Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, tepat pukul 08.00 WIB. Setelah semua persiapan dilakukan dan peserta  bersama barang bawaan masuk seluruhnya ke dalam empat buah bis, tim berangkat menuju lokasi pada pukul 09.00 WIB. Kemudian, tiba di Cibeuteung Udik pada pukul 10.30 WIB.

Selanjutnya, pada pukul 11.00 WIB pembukaan kegiatan dilakukan secara resmi, bertempat di lokasi kegiatan pengobatan gratis, dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tepat pada pukul 13.00 WIB, pengobatan gratis sudah menerima pasien. Tim kesehatan terdiri dari Universitas Yarsi, Universitas Indonesia, Universitas Pelita Harapan, dan tim kesehatan Posko Jenggala. Kegiatan pengobatan gratis ini dilakukan selama kegiatan berlangsung di Cibeuteung Udik.

Penyakit yang banyak diderita oleh warga Kampung Mekar Jaya, Cibeuteung Udik yang datang berobat adalah: diare, influenza, alergi, radang tenggorokan, demam tinggi, dan penyakit kulit. Kegiatan yang dilakukan di depan rumah peduduk yang biasa dipakai sebagai tempat Posyandu ini didominasi oleh pasien wanita, anak-anak, dan lanjut usia.

Ketika tim kesehatan sedang bekerja, tim yang mengurusi pembuatan Taman Baca juga sibuk melakukan tugasnya, mulai pukul 12.30 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Tim yang terdiri dari 20 orang ini dibagi dalam dua sub tim: tim yang bertugas menyortir buku-buku yang terkumpul dan mengklasifikasi berdasarkan kriteria, serta tim yang merakit rak buku. Lokasi yang dipilh sebagai tempat Taman Baca adalah Majelis Ta’lim yang bersebelahan dengan lokasi Posyandu. Lalu, setelah rak siap, kedua tim bekerjasama menyusun buku-buku ke dalam rak.

Buku-buku yang terkumpul dan disalurkan ke Taman Baca, yaitu: buku pengetahuan umum sebanyak 312 buah, buku pelajaran (SD, SMP, dan SMA) sebanyak 102 buah, cerita umum sebanyak 18 buku, tabloid dan novel sebanyak 41 buah, majalah anak-anak sebanyak 137 buah, dan komik sebanyak 123 buah. Jumlah total: 733 buah buku.

Pembukaan Taman Baca dilangsungkan pada 18 Mei 2008 (hari kedua), sekaligus penyerahan kepada Bapak Nunung yang bersedia mengurus dan mengawasi Taman Baca tersebut. Pembukaan dan sosialisasi Taman Baca dilakukan bekerjasama dengan tim edukasi anak yang melakukan acara lomba mewarnai dan kreasi untuk anak-anak pada pukul 14.30 WIB hingga 15.30 WIB.

Tim edukasi anak, selain mengadakan lomba mewarnai dan kreasi juga melangsungkan ice breaking dan gamesmendidik, seperti “Tupai Pohon”, “Siapa Cepat”, dan “Bernyanyi”. Acara ini berlangsung sangat meriah karena seluruh anak-anak antusias sekali mengikuti kegiatan. Apalagi, para mahasiswa yang ada juga turut larut dalam permainan.

Selanjutnya, pada pukul 19.30 WIB,anak-anak berkumpul kembali di Masjid untuk kegiatan mendongeng bersama. Sebelum masuk Masjid, anak-anak juga diberi pengetahuan adab masuk Masjid. Dalam kegiatan ini pun anak-anak terlihat antusias sekali. Anak-anak yang dapat menjawab pertanyaan mendapat suvenir yang disediakan. Acara selesai pada pukul 20.25 WIB. Ditutup dengan doa bersama.

Sedangkan acara nonton bareng film Indonesia dilangsungkan pada pukul 20.00 WIB, dengan menggunakan layar proyektor yang cukup besar yang dibentang di lapangan serba guna. Film yang diputar adalah “Naga Bonar Jadi 2”, sebuah film yang diharapkan dapat mengangkat rasa nasionalsime yang tinggi.

Kegiatan hari kedua (18 Mei 2008) dimulai dengan kegiatan Senam Otak pada pukul 05.30 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh beberapa Ibu-Ibu penduduk desa dan para relawan. Senam ini diharapkan dapat membuat semua pikiran serta apa yang menjadi beban psikologis seseorang dapat menjadi rileks dan nantinya bersemangat kembali untuk melakukan kegiatan lainnya.

Kemudian, pada pukul 07.00 WIB dilakukan kegiatan olahraga bersama, jogging mengelilingi lingkungan desa sambil menikmati udara pagi. Plus, melihat keadaan desa yang memprihatinkan.

Setelah senam otak dan olahraga selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan Kerja Bakti. Para relawan bersama penduduk bersama-sama berbaur melakukan kegiatan bersih-bersih di seluruh lingkungan desa.

Penyuluhan kesehatan– terutama masalah reproduksi dan kesehatan wanita– juga diberikan kepada wanita dan Ibu-Ibu warga desa yang dilakukan di Masjid setempat.

Pada 18 Mei 2008 juga dilakukan kegiatan penanaman bibit pohon di Desa Beuteng Buncit. Bibit pohon yang dibawa sebanyak 5 ribu buah bibit. Masing-masing mahasiswa diwajibkan menanam tiga buah bibit pohon. Selebihnya, bibit pohon diserahkan pada penduduk desa untuk ditanam di sekitar rumah masing-masing.

Selain itu, sebanyak 4 ribu ekor bibit ikan lele dan tiga ekor kambing diserahkan kepada warga desa. Diharapkan, bibit-bibit hewan ini nantinya dapat dikembangkan, dan hasilnya dapat menambah perkembangan ekonomi masyarakat Desa Cibeuteung Udik.

Pada 18 Mei 2008, bertepatan dengan penutupan pengobatan gratis, dilakukan pemberian 500 dus mie instan. Dan, tepat pada pukul 16.00 WIB seluruh rangkaian kegiatan di Kampung Mekar Jaya, Cibeuteung Udik, Bogor ditutup. Para relawan, yang sebagian besar mahasiswa ini kembali ke Jakarta.

Tak dinyana, selama dua hari kegiatan, bukan hanya para relawan saja yang memberikan kepada penduduk, ternyata penduduk juga banyak memberikan pada para relawan. Setidaknya pengalaman yang sangat berharga dalam hidup. Seperti apa yang tertulis di spanduk kesan dan pesan para relawan-mahasiswa:

“Terima kasih kepada para warga Cibeuteung Udik. Keramahan yang diberikan telah menjadi pengalaman buat kami. Dua hari bukan waktu yang lama, tetapi waktu yang cukup untuk kami mengenal sedikit dari desa ini. Semoga pertemuan ini bukan menjadi yang terakhir, tetapi merupakan awal dari pertemuan kita. All for Community, Community for All.”


Waktu Kegiatan


17-Mei-2008 S/D 18-Mei-2008

Lokasi Kegiatan


Berita Terbaru


Selengkapnya

Aktivitas Terbaru


Selengkapnya

Kontak

GERAKAN KEMANUSIAAN POSKO JENGGALA

Jl. Gunung Indah II No. 50, Cirendeu, Ciputat, Tanggerang Selatan

(021) 7445734

(021) 7445734

info[at]posko-jenggala.org

www.posko-jenggala.org