Saturday, March 25, 2017
  • Ikuti Kami
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala

Erupsi Merapi 2010

Published : 02-September-2015 | 11:22:11

Di Lereng Merapi, Mereka Kembali Tenang Datang sejak status awas (red alert) diumumkan, berlanjut hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Pasca letusan Merapi, karya masterpiece Posko Jenggala di Merapi adalah 300 hunian sementara, terbuat dari bahan baku bambu.


Menjelang akhir tahun 2010, Merapi menampakkan wajah angkernya pada dunia. Sepertinya gunung berapi paling aktif itu seolah marah, ditandai awan panas. Menelan ratusan korban manusia dan ternak, letusan Merapi kali ini juga mencatat kepergian Sang Kuncen, Mbah Maridjan untuk selamanya. Ribuan warga pun sibuk menyelamatkan diri. Dengan bekal seadanya, mereka berhamburan mencari lokasi aman. Penduduk yang tinggal di lereng Merapi, dengan radius terdekat mencari tempat pengungsian di luar jarak 20 km. Untuk beberapa waktu, seluruh sekolah di Yogyakarta diliburkan, Bandar Udara Adi Sutjipto ditutup, penerbangan dari dan menuju Yogyakarta dialihkan ke Solo dan Semarang. Sungguh mencekam. Rombongan awal Aksi pertama ini, dipimpin Andi Sahrandi, Keterlibatan IOF atas rekomendasi dari Askar Kartiwa, adik ipar Arifin Panigoro, sebagai Ketua Umum kelompok hobi tersebut. Ikut pula dalam aksi pertama ini Gerakan Pemuda Sehat (GPS), Bakrie Untuk Negeri (BUN) dan IMAYO (Ikatan Mahasiswa Yogyakarta). Ditambah lagi simpatisan Posko Jenggala di Yogyakarta, Tari Pradeksa, Anti, serta Iwan “Capung” dari Komunitas Lereng Merapi (KLM). Rombongan ini kemudian Sehari sebelumnya, satu truk bantuan dikirim melalui jalan darat menuju ke Kecamatan Serumbung, 10 km dari puncak Merapi. Berisi; pakaian, selimut, alat mandi dan lain-lain. Didukung dengan kendaraan roda empat, tidak sulit mencapai medan yang dimaksud.
Posko Jenggala mempublikasikan rencana gerakan kemanusiaannya melalui jejaring sosial Facebook. Segera, setelah publikasi itu datang sambutan dari berbagai kalangan yang peduli kepada nasib warga Merapi. Sokongan Arifin Panigoro, istrinya Raisis dan para Facebookers menambah semangat juang dan keyakinan untuk berbuat yang terbaik.
Distribusi bantuan ini diterima warga di tiga desa wilayah Kecamatan Serumbung, Kabupaten Magelang. Aksi serupa dilakukan di beberapa daerah lain mulai dari Desa lain di Kabupaten Magelang, Kabupaten Sleman, Kabupaten Klaten dan Gunung Kidul. Barang yang dibagikan untuk pengungsi berupa, makanan, selimut, sarung, pakaian, alas tidur, alat kebersihan dan mandi,
terpal, dan masker.
Seiring dengan aktivitas distribusi bantuan logistik, relawan medis Posko Jenggala tiba di Yogyakarta pada 30 Oktober 2010. Tim medis Posko Jenggala melakukan berbagai aktivitas bantuan medis, diantaranya dengan mengunjungi beberapa dusun yang masuk dalam zona Kawasan Rawan Bencana. Di lokasi tersebut, Posko Jenggala menggelar kegiatan pelayanan pengobatan gratis bagi warga yang tidak mau meninggalkan desanya.
Dalam setiap program bantuan kemanusiaan tim Posko Jenggala melakukan berbagai evaluasi. Terutama terhadap program bantuan yang akan diberikan kepada masyarakat korban Merapi. Hasilnya beberapa ide program mengalir dalam diskusi tersebut. Diantara kegiatan yang mendesak harus dilakukan adalah, pembuatan shelter untuk ternak. Tujuannya menyelamatkan harta penduduk lereng Merapi yang masih terselamatkan. Lokasinya dipilih di halaman depan SMP Negeri Taman Dewasa, Cangkringan.
Di tempat tersebut dalam tiga hari disulap menjadi pusat kandang ternak warga korban Merapi. Tiga puluh enam ekor sapi jenis blantik (beberapa diantaranya terluka akibat terjangan wedhus gembel) dan 4 ekor kambing milik warga Kinahrejo, dapat terselamatkan dan terpelihara dengan baik.
Setelah terbangun, shelter ternak ini mencuri perhatian banyak orang. Tak hanya itu, bantuan pun banyak mengalir Tim medis yang kawasan atas. 


POSKO JENGGALA
Bersiap Membangun Shelter


Pada hari kesebelas sejak keberadaan awal di Merapi, Andi Sahrandi kembali ke Jakarta. Bersama Andy Firmansyah, fotografer Posko Jenggala, dibawa serta foto-foto bencana. Andi bermaksud menggalang dana untuk pembangunan hunian sementara. Maksud tersebut disampaikan kepada Arifin Panigoro. Secara kebetulan Mea, panggilan akrab Maera Panigoro-- anak Arifin berencana membuat acara penggalangan dana. Mendapat respon tersebut, semalam suntuk Andi Sahrandi, Andy Kumut, Martin dan Andi Kim membuat usulan proyek pembangunan hunian sementara.
Keesokan malamnya, dilengkapi slide foto bencana Merapi Andi Sahrandi memaparkan rencana pembangunan hunian sementara itu di hadapan Maera, Arifin Panigoro, Raisis dan para undangan. Acara tersebut berlangsung sukses. Maera berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp.3.050.000.000,- dari para donatur, yang kemudian diberikan kepada Andi Sahrandi.
Keesokannya Andi terbang lagi ke Yogyakarta. Kemudian Andi Sahrandi menemui Sri Sultan Hamengku Buwono X dan memaparkan rencana pembangunan hunian sementara tersebut. Saat itu Andi diterima oleh Kanjeng Ratu Hemas, Permaisuri Sultan. “Anda segera ke Bapak,” kata Kanjeng Ratus Hemas, saat itu. Di kesempatan lain, Sri Sultan di kantornya menerima maksud Posko Jenggala tersebut. Saat itu Sri Sultan menyambut baik rencana pembangunan perumahan itu. Ia segera memanggil para pejabat tinggi pemerintahannya untuk mendengar pemaparan Posko Jenggala. Sebagaimana Sri Sultan, para pejabat pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menyambut baik usulan Posko Jenggala dan semua bersepakat menyokong pelaksanaannya. Posko Jenggala mengontrak rumah dan pekarangan untuk workshop pembuatan bagian-bagian dari shelter di Babadan, Ngemplak.
Sri Sultan berkenan menyediakan tanah lahan sekitar 3 ha di desa Plosokerep, di lereng gunung Merapi untuk lokasinya. Kami juga bersepakat membangun barak untuk tempat pengungsian darurat. Desain shelter tipe 36 yang dibuat Posko Jenggala disetujui oleh Sri Sultan dan para pejabat pemerintahannya. Saat itu Sri Sultan bertanya kepada Andi Sahrandi: ”Kapan anda hendak membuat prototype rumah itu?”. “Besok, Pak,” kata saya. “Besok?” tanya Sri Sultan. “Iya, Pak,” saya menegaskan. ”Semua bahan bangunan harus tersedia dan semua bagian dari rumah itu dikerjakan di workshop, hingga nanti tinggal masang pada lokasi-lokasi yang telah ditetapkan,” kata Andi. Saat itu
lokasinya belum ditentukan. Keesokan harinya, seharian, para pekerja kami berhasil membuat satu prototype shelter di bengkel kerja Posko Jenggala di dusun Babadan, desa Ngemplak. Sultan dan para pejabat pemerintahannya menyatakan puas. “Berapa lama akan membangun 330 shelter?” tanya Sultan. “Jika semuanya beres, sekitar sebulan akan jadi semua,” kata Andi.
Sri Sultan dan para pejabatnya terperangah, heran mendengar jawaban Andi, seolah mereka tidak percaya! Posko Jenggala sudah berpengalaman membuat shelter di Pariaman, Sumatera Barat, tatkala kawasan tersebut dilanda gempa bumi beberapa tahun yang lalu. Dengan pengalaman tersebut, Andi berani menjanjikan untuk membuat 330 shelter di Merapi selama tersebut rapi. Di lokasi ini berdiri sekitar 310 unit rumah yang sebulan. Jumlah shelter yang dibutuhkan waktu itu sekitar ram p u ng dalam waktu dua puluh hari. Para pekerjanya gabungan 2800 unit. Posko Jenggala menyanggupi membangun 330 contoh. para tukang kayu dan warga setempat. Sesudah menyelesaikan Shelter yang sudah dibangun dibiarkan berdiri agar menjadi contoh pembangunan rumah di Plosokerep, Sri Sultan memerintahkan bagi yang ingin membantu fasilitas sejenis. membangun rumah di dusun Kentingan.
Tanah yang diberikan Sri Sultan untuk hunian sementara di Posko Jenggala segera membangun 105 unit rumah dusun Plosokerep ini kondisi tanahnya tidak rata. Atas bantuan dalam tempo dua minggu. Rumah selesai pada tanggal 30 kepada Dinas Pekerjaan Umum pembersihan lahan dengan Desember 2010. Pada 31 Desember, relawan Posko Jenggala menebang beberapa pohon dan bebatuan membuat lokasi ingin merayakan hari kelahiran Andi Sahrandi bersama masyarakat. Sekaligus acara syukuran pembangunan rumah, sebagai kado hari ulang tahun Andi Sahrandi yang ke 67. Untuk merayakannya diadakan pula pertunjukan wayang. Saat itu Andi Sahrandi merasa, hari ulang tahunnya di Ploso Kerep merupakan peringatan hari lahirnya yang paling berarti dan paling mengesankan. Arifin Panigoro datang mengontrol hasil kerja Posko Jenggala pada saat pembangunan
rumah di Plosokerep. Sri Sultan dan para pejabat pemerintahan juga datang. Mereka semua kagum pada kesigapan dan ketepatan rencana kerja Posko Jenggala.
Tepat pada tanggal 12 Maret 2011 seluruh rumah shelter sebanyak 333 unit selesai dibangun ditambah 3 buah workshop untuk menjahit dan pekerjaan tukang, kandang sapi, perpustakaan, tempat kesenian, dan menara pemantau. Pada Saat peresmian yang dihadiri oleh Sri Sultan, ibu ratu Hemas, dan undangan lainnya, Andi Sahrandi menegaskan, bahwa itu semua adalah hasil ketulusan hati, solidaritas dan gotong royong melihat pengungsi yang kembali menjalani kehidupannya dengan semua pihak yang terlibat. Nilai-nilai luhur bangsa kita yang sudah tenang. 


Waktu Kegiatan


30-Oktober-2010 S/D 12-Maret-2011

Lokasi Kegiatan


Berita Terbaru


Selengkapnya

Aktivitas Terbaru


Selengkapnya

Kontak

GERAKAN KEMANUSIAAN POSKO JENGGALA

Jl. Gunung Indah II No. 50, Cirendeu, Ciputat, Tanggerang Selatan

(021) 7445734

(021) 7445734

info[at]posko-jenggala.org

www.posko-jenggala.org