Sunday, February 26, 2017
  • Ikuti Kami
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala

Pembagian Zakat untuk pengungsi Sinabung

Published : 13-Juli-2015 | 15:01:10

Pemberian 1000 kaos untuk anak-anak, pemberian 1000 paket Higiene Kit untuk lansia dan bantuan makan sahur tan tajil berbuka untuk pengungsi Sinabung


Sejak status gunung Sinabung dinaikan menjadi Awas membuat beberapa desa disekitar lereng Sinabung diungsikan ketempat yang lebih aman, beberapa desa yang diungsikan merupakan sahabat lama dari teman-teman Posko Jenggala, yang dimana pada awal erupsi Sinabung atau awal tahun 2014 Posko Jenggala sudah berada di Tanah Karo yang pada saat itu melakukang bersih desa di Kutarayat, Kebayaken, Kutagugung dan Sigarang-garang

Tanggal 16-17 Juni 2015 Tim Advance Posko Jenggala yaitu Rendy Nugraha berangkat menuju desa-desa disekitar Sinabung, pada saat tiba di bandara Kualanamu kab. Deli Serdang terlihat langit agak gelap dan mendung dan disepanjang jalan menuju Tanah Karo terlihat abu vulkanik disekitar daerah Medan-Padang Bulan-Sibolangit sebagai akibat dari erupsi Sinabung tanggal 15 Juni 2015 malam

Rendy langsung saja menuju desa seputaran lereng Sinabung, yang pertama dikunjungi adalah desa Gurukinayan yaitu tempat Posko Jenggala membangun hunian sementara (Huntara) bersama-sama warga desa Gurukinayan, dan memang tampak terlihat abu vulkanik walaupun tidak terlalu tebal, sepanjang jalan kondisi sekitar simpang Gurukinayan terlihat sepi dari aktifitas warga desa, bahkan disimpang tersebut sudah dibuatkan portal yang dijaga oleh 1 orang polisi dan 1 orang tentara terkait status Awas gunung Sinabung, perjalanan dilanjutkan menuju pengungsian warga desa Gurukinayan di jambur desa Batukarang yang jaraknya sekitar 5 km dari desa Gurukinayan

Sampai dilokasi tim Advance mulai bertanya seputaran kondisi dan keadaan gunung Sinabung pada umumnya dan kondisi seluruh warga desa yang mengungsi di jambur tersebut terutama yang kini menghuni huntara Posko Jenggala tetapi kembali mengungsi, sampai saat ini seluruh pengungsi berjumlah 315 kk/882 jiwa yang berasal dari desa Gurukinayan

Kedatangan tim Advance membuat warga saling sapa dengan tim advance, maklumlah sampai saat ini jalinan komunikasi antara Posko Jenggala dengan warga desa Gurukinayan masih sangat baik dengan beberapa warga desa yang mengungsi, karena sebelumnya hampir seluruh warga mengenal teman-teman Posko Jenggala terutama dalam pembangunan huntara, karena ± 2 bulan lamanya membangun huntara yang berada di desa Gurukinayan

Selain itu juga tim Advance membawa bantuan berupa selimut, sarung, baju anak dan baju dewasa untuk diberikan kepada pengungsi hasil pengumpulan dari teman-teman di Jakarta, walaupun tidak seluruh warga desa menerima bantuan yang dibawa dari Jakarta, tetapi semua diserahkan kepada kepala desa yaitu Pelin Sembiring untuk mengakomodir pembagian bantuan yang dibawa dari Jakarta

Tim advance sempat bersenda gurau dengan seluruh warga yang mengungsi dan mereka bertanya, mana bapak?kapan bapak datang?kenapa bapak tidak datang?apakah bapak sudah lupa sama kami?itulah pertanyaan mereka untuk pak Andi Sahrandi, memang beliau sudah dianggap keluarga sendiri oleh warga desa Gurukinayan, terutama yang menempati huntara yang dibangun Posko Jenggala, bahkan beliau sempat mendapatkan marga, yaitu marga Ginting

Tim Advance mencoba untuk berkeliling sekitar jambur didesa Batukarang, terlihat jambur ini sangat baik kondisi dan keadaannya dibandingkan dengan jambur didesa lainya, disamping sudah cukup modern pembuatannya lantainya pun sudah berlapiskan keramik, kamar mandi dan dapur umumnya pun sudah tersedia di jambur desa Batukarang, mungkin hanya tidur saja mereka kurang nyaman karena harus berbagi dan berdesak-desakkan dengan penghuni lainnya

Selama tim advance berada di pengungsian warga desa Gurukinayan, terlihat kebutuhan pangan dan kebutuhan pendukung lainnya sudah tercukupi paling tidak untuk 1 minggu kedepan, dan menurut warga setiap harinya ada saja bantuan yang dating memberikan sesuatu baik makanan, minuman, susuu, mie instant dll, dari instansi, perusahaan, komunitas dll, disamping itu juga terlihat beberapa mobil yang datang membawa bantuan berupa pakaian, makanan dll. Dengan ditemani oleh pemuda desa Gurukinayan bernama Soemsito Ginting kami lanjutkan keliling jambur sambil bercanda gurau dengan warga desa sesekali, hari semakin gelap dan waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 waktu setempat, tim advance kembali ke penginapan di Kabanjahe yang berjarak 35 km dari jambur desa Batukarang

Keesokan harinya tim advance Posko Jenggala menuju desa Kutarayat yang pada saat kedatangan kami, desa tersebut sudah mengungsi, sepanjang jalan yang dilalui belum tampak terlihat abu vulkanik yang nampak terlihat, barulah pada saat memasuki desa Naman kec Namanteran, abu vulkanik terlihat jelas ketebalannya, sebelum melanjutkan perjalanan kami sempat berbincang dengan warga sekitar, ternyata desa Naman pun ikut diungsikan sementara ketempat yang lebih aman, desa Naman menurut perkiraan warga berada pada radius 6-8 km dari Puncak Sinabung

Kami melanjutkan perjalanan menuju desa Kutarayat dan melewati desa Sukanalu, desa Sukanalu terlihat lebih parah keadaaanya dibandingkan desa Naman, disini terlihat abu lebih tebal, tanaman sekitar ladang pun terlihat dipenuhi abu vulkanik Sinabung dan keadaaan desa sudah kosong sama sekali bahkan tidak Nampak seorang pun terlihat di desa Sukanalu ini

Sampailah kami di desa Sigarang-garang yang sebelumnya tim Posko Jenggala melakukan kegiatan bersih desa periode awal 2014, dan desa ini pun sudah kosong walaupun tidak tampak abu vulkanik yang tebal seperti didesa Sukanalu dan desa Naman, perjalanan dilanjutkan menuju ke desa Kutagugung, sama dengan desa Sigarang-garang desa ini pun sudah kosong dan tidak nampak terlihat abu vulkanik seperti didesa Sukanalu dan desa Naman

Perjalanan kami lanjutkan ke desa Kutarayat, didesa ini tim Posko Jenggala cukup lama bersama warga membersihkan seluruh abu vulkanik dirumah-rumah warga, fasilitas umum, masjid, gereja dan disepanjang jalan desa Kutarayat, dengan kondisi yang tidak lebih baik dari desa Sigarang-garang dan desa Kutagugung, desa Kutarayat sudah ditinggal oleh penduduk yang telah mengungsi di Jambur Tongkoh kec. Brastagi, didesa Kutarayat terlihat beberapa orang saja yang bertugas menjaga kampung dan sesekali beberapa kendaraan terlihat melintasi desa ini

Akibat status Awas Gunung Sinabung yang dikeluarkan oleh Pemerintah setempat membuat warga dari 11 desa seputaran lereng Sinabung kembali diungsikan ke 10 titik pengungsian di kec. Kabanjahe dan kec. Berastagi

Bantuan Sosial Posko Jenggala

Status Awas Sinabung membuat tim Posko Jenggala berfikir keras untuk dapat membantu warga yang kembali mengungsi di 10 titik pengungsian dari 11 desa yang harus diungsikan, diputuskan bersama bahwasanya bantuan yang akan diberikan yaitu paket 1000 hygiene kit untuk orang yang sudah lanjut usia dan 1000 kaos tangan panjang untuk anak-anak Sinabung, yang pembagiannya disesuaikan dengan jumlah paket yang tersedia

Paket hygiene kit tiap paketnya terdiri dari 1 bh sabun mandi, 1 bh sikat gigi, 1 bh pasta gigi dan 10 sachet shampo yang didistribusikan untuk 11 desa di 10 titik pengungsian yang tersebar di kec. Kabanjahe dan kec. Brastagi kab. Tanah Karo

Perjalanan awal dimulai pada hari rabu tanggal 1 Juli 2015, tim yang berangkat terdiri dari Andi Sahrandi, Rendy Nugraha, Insan Slamet dan Priantono Umar, tim berangkat sesudah makan sahur di kediaman Andi Sahrandi di jl. Gunung Indah 2 No. 50 Cireundeu Kota Tangerang Selatan dan kami pun langsung menuju Sinabung kab. Tanah Karo

Setelah melewati selama ± 2 jam perjalanan udara, sampailah kami dibandara International Kualanamu di kab. Deli Serdang-Sumatera Utara, di bandara kami sudah dijemput oleh Putra, yang sejak awal kedatangan tim Posko Jenggala di Sinabung sudah ikut berperan serta membantu tim Posko Jenggala

Singkat kata kami menuju kota Medan untuk mencari dan membeli paket perlengkapan hygiene kit disalah satu toko ritel dikota Medan, masing-masing dari kami mulai memilih dan mencari kebutuhan yang akan dibeli, cukup lama proses yang dibutuhkan karena disamping jumlahnya yang dirasa banyak juga karena dibutuhkan kendaraan pengangkut barang-barang yang telah kami beli, dimana sangat sulit untuk dapat kendaraan yang mau mengantar ke daerah Sinabung dengan kondisi gunung yang terus menerus erupsi ditambah dengan lalu lintas yang padat sepanjang jalan menuju Tanah Karo

Setelah mendapatkan sewaan mobil pengangkut barang-barang, kami semua langsung bertolak menuju kab. Tanah Karo yang berjarak ± 50 km dari kota Medan dan memakan waktu 2-3 jam, selang waktu tersebut kami pun sampai di penginapan di sekitar Kabanjahe, tidak terasa adzan maghrib pun telah berkumandang, masing-masing dari kami yang memang berpuasa langsung saja mencari tempat makan disekitar Brastagi

Waktu telah menunjukkan pukul 19.30, untuk mempersingkat dan mengefektifkan waktu maka kami kembali ke penginapan untuk mulai packing barang-barang hygiene kit yang akan dibagikan kepada pengungsi Sinabung, dengan dibantu oleh teman-teman dari Karang Taruna kec. Kabanjahe kami mulai packing barang-barang tersebut, sebagai informasi bahwasanya pertemuan dengan teman-teman Karang Taruna pada saat pembangunan Huntara Posko Jenggala pertama kali di kab. Tanah Karo periode November 2014 yang dimana mereka ikut berperan serta membantu pembersihan lahan yang akan digunakan untuk pembangunan huntara tersebut, selain itu juga mereka aktif selalu dalam kegiatan sosial di Tanah Karo

Keesokan harinya tanggal 2 Juli 2015 tim Posko Jenggala bersama-sama dengan Karang Taruna mendistribusikan seluruh paket hygiene kit dan kaos untuk anak-anak pengungsi Sinabung ke 10 titik pengungsian, kami berpencar dibagi menjadi 2 tim dalam pendistribusian paket bantuan sosial tersebut, sore harinya kami menuju desa Gurukinayan, tempat tim Posko Jenggala banyak membuat Hunian Sementara untuk pengungsi Sinabung, terlihat seluruh huntara yang dibangun oleh Posko Jenggala sudah kosong tetapi ada beberapa orang yang terlihat dimasing-masing huntara sekedar membersihkan huntaranya masing-masing, menurut pak sembiring yang ditinggal di huntara tersebut, bahwasanya warga boleh untuk keluar masuk sekitar wilayah huntara tetapi dilarang keras untuk bermalam di wilayah huntara, untuk berjaga-jaga jika Sinabung kembali erupsi

Tak lama kami kemudian menuju pengungsian desa Gurukinayan yang terletak di jambur desa Batukarang yang berjarak 5 km dari desa Gurukinayan, kedatangan tim Posko Jenggala sontak membuat suasana sekitar pengungsian menjadi ramai dan setiap orang langsung mendatangi kami, terutama Andi Sahrandi yang lebih dikenal dengan panggilan Bulang di desa Gurukinayan, Bulang artinya kakek dalam bahasa Karo, Andi Sahrandi memang begitu menyayangi warga terutama anak-anak, dimanapun kami berada beliau selalu berusaha membuat senang para pengungsi terutama anak-anak pengungsi, karena menurut Andi Sahrandi tujuan utama membantu adalah untuk membuat senang sesama, setelah beberapa saat berada bersama pengungsi kami kembali menuju penginapan, melewati kec. Brastagi dan adzan maghrib telah berkumandang pukul 18.41 dan kami pun berbuka untuk melepas lapar dan dahaga setelah berkeliling ke beberapa titik pengungsian

Pagi yang indah dibulan Ramadhan dengan suasana kota yang tidak telalu ramai dan udara dingin yang menusuk tulang menemani kami santap sahur dipenginapan, diiringi canda dan tawa rekan-rekan Posko Jenggala sekedar menghilangkan rasa kantuk yang masih ada, dengan mencicipi hidangan seadanya dirasa sudah cukup nikmat bagi kami semua, setelah itu kami lanjutkan istirahat beberapa jam, sebelum memulai aktifitas pagi nanti

Semua terbangun pukul 09.00 tanggal 3 juli 15 dengan gaya khas Andi Sahrandi membangunkan kami sebelumnya, hari ini bersiap-siap menuju beberapa titik pengungsian membawa kaos untuk anak-anak pengungsi Sinabung yang belum sempat terbagi dan terdistribusikan kemarin ke 10 titik pengungsian, selain itu juga kami akan mengunjungi desa-desa yang sebelumnya pernah kami singgahi di Tanah Karo

Kami menuju desa Kutarayat yang dalam perjalanan melewati desa Naman, desa Sukanalu (diungsikan), desa Sigarang-garang (diungsikan) dan desa Kutagugung (diungsikan), sepanjang perjalanan melewati desa tersebut walaupun tidak terlihat abu yang tebal tetapi kondisi desa tersebut sudah kosong karena semua penduduk berada di pengungsian di sekitar kec. Kabanjahe dan kec. Brastagi. Selang beberapa lama sampailah kami didesa Kutarayat, terlihat sepi tetapi masih ada beberapa penduduk yang berada di desa tersebut dan masih mengenali kami, kami berkeliling menyusuri jalan desa, sekolah dasar, masjid, gereja sampai akhirnya kami singgah didesa selanjutnya yaitu didesa Kebayaken, desa ini tidak diungsikan tetapi untuk aktifitas sehari-harinya terutama akses mereka kekota melewati desa Kutarayat yang saat ini masuk dalam radius zona merah 7 km. sempat berbincang-bincang dengan penduduk yang ada masalah seputaran kondisi terakhir didesa Kebayaken, keluhan dan kesedihan terucap dari bibir mereka, dalam hal ini desa Kebayaken masuk dalam zona aman, tetapi ladang dan kebun mereka tidak bisa ditanami apapun akibat debu vulkanik Sinabung yang tak kunjung berhenti

Sore harinya perjalanan kami lanjutkan menuju desa Batukarang tempat pengungsi desa Gurukinayan, atas inisiatif Andi Sahrandi, kami memanggil beberapa pemuda setempat salah satunya Moral Sitepu (yang ikut membantu pada saat membangun huntara di desa Gurukinayan) untuk membuat hiburan semacam organ tunggal yang dimana perlengkapannya difasilitasi oleh Posko Jenggala dengan menyewakan alat-alat kebutuhan tsb, malam harinya hiburan bagi pengungsi siap bergema disekitar jambur Batukarang, sambil berbuka puasa seadanya bersama pengungsi, semua yang hadir ikut menikmati hiburan yang ada, terutama anak-anak pengungsi, karena selain merasa terhibur mereka juga sangat senang mendapatkan kaos yang dibawa tim Posko Jenggala dari Jakarta

“Anak-anak adalah penerus generasi bangsa, anak Gurukinayan harus ada yang menjadi orang hebat, anak Gurukinayan harus ada yang menjadi presiden Republik Indonesia 40 tahun yang akan datang”, sebut Andi Sahrandi dalam sebuah sambutan didepan pengungsi jambur Batukarang, riuh tepuk tangan terdengar dari dalam jambur

Itulah motivasi dan pencerahan yang disampaikan oleh Andi Sahrandi dalam memacu dan mengembalikan semangat hidup pengungsi warga desa Gurukinayan terutama anak-anak, dalam berulangkali beliau berkata “hidup ini belum lengkap jika belum memberi kepada sesama dan menyenangkan hati orang lain”, seakan semua pengungsi lupa bahwa mereka sedang dalam bencana

Beberapa saat sebelum kami kembali ke penginapan, Andi Sahrandi memanggil beberapa anak-anak pengungsi, tak jauh dari jambur ada warung makanan, anak-anak tersebut dibawa menuju warung, seluruh makanan kecil yang tersedia diwarung dibeli dan diberikan kepada anak-anak pengungsi untuk dibagikan kepada teman-teman lainnya yang berada didalam jambur Batukarang, keceriaan dan senyum terlihat dari wajah anak-anak tersebut

Hari telah sangat larut, kendaraan yang lalu lalang di jalan raya Jamin Ginting, Kabanjahe-Brastagi juga sudah sangat sepi, terlihat hanya 1-2 mobil ataupun truk yang sesekali melintas, waktunya kami istirahat untuk menyiapkan stamina esok hari di hari ke-4 keberadaan kami di kab. Tanah Karo

Sabtu tanggal 4 Juli 2015, kegiatan hari ini tidak terlalu padat karena barang bantuan yang kami bawa dan kami persiapkan telah habis semua dibagikan di 10 titik pengungsian dari 11 desa yang diungsikan di seputaran lereng Sinabung

Malam harinya kami menuju jambur desa Tongkoh, yaitu tempat pengungsi desa Kutarayat, disini pun kami memberikan hiburan organ tunggal kepada pengungsi untuk sekedar menghibur mereka disaat hujan abu vulkanik yang memang sampai saat ini tidak pernah berhenti terutama ditempat mereka mengungsi ini, di ds. Tongkoh kec. Brastagi, karena arah angin beberapa waktu terakhir menuju Brstagi sehingga abu vulkanik pun menuju Brastagi. Suasana ceria tampak dalam pancaran wajah mereka yang dimana seolah-olah mereka tidak dalam kondisi bencana dan mengungsi

Hiburan yang disediakan dikoordinir oleh Karang Taruna kec. Kabanjahe yang selalu menemani kami dari awal penyerahan bantuan sosial ke 10 titik pengungsian, mereka yang terdiri dari Edhie Surbakti, Ary Purba dan rekan-rekan Karang Taruna kec. Kabanjahe ikut membagikan makanan ringan untuk anak-anak pengungsi yang sebelumnya mereka himpun dari berbagai pihak, nyanyian dan tarian terus-menerus terlihat, keceriaan mereka nampak jelas dan waktupun sudah menunjukkan pukul 22.00, tim Posko Jenggala pamit untuk kembali menuju penginapan untuk beristirahat karena esok harinya tim akan kembali menuju Jakarta


Waktu Kegiatan


01-Juli-2015 S/D 05-Juli-2015

Lokasi Kegiatan


Berita Terbaru


Selengkapnya

Aktivitas Terbaru


Selengkapnya

Kontak

GERAKAN KEMANUSIAAN POSKO JENGGALA

Jl. Gunung Indah II No. 50, Cirendeu, Ciputat, Tanggerang Selatan

(021) 7445734

(021) 7445734

info[at]posko-jenggala.org

www.posko-jenggala.org