Sunday, June 25, 2017
  • Ikuti Kami
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala

Bersih-Bersih Di Lereng Gunung Sinabung 2014

Published : 05-Maret-2015 | 09:44:51

Bencana alam khususnya erupsi gunung Sinabung di tanah karo menyisakan derita yang mendalam terutama bagi para pengungsi yang hingga saat ini sebagian warga yang tinggal disekitar kaki gunung Sinabung masih berada dipengungsian dan entah sampai berapa lama lagi setelah 8 bulan lamanya mereka berada di pengungsian


PRAKATA

Bumi merupakan salah satu bagian dari planet di dalam sistem tata surya. Berbagai kekayaan alam bumi mampu menjadi sumber tumpuan hidup seluruh makhluk. Diluar itu, bumi berpotensi mengacaukan kehidupan makhluk hidup dengan bencana alam. Meskipun jaman dan tekhlogi sudah maju, kemunculan bencana alam tetap tidak dapat dipastikan. Oleh karena itu, kita perlu waspada oleh lingkungan dan menjaga kelastariannya. Dengan begitu kita dapat menekan jatuhnya korban jiwa ataupun berbagai kerugian yang disebabkan oleh bencana alam.  Berbagai macam bentuk bencana alam dapat memporakporandakan kehidupan manusia, diantaranya letusan gunung berapi. Letusan ini menyemburkan awan panas yang mengandung gas dan abu. Kita menyadari betapa kuatnya letusan gunung berapi itu. Oleh karena itu, kita harus tetap waspada. Rangkaian pegunungan sirkum pasifik yang melewati Indonesia juga mengakibatkan Indonesia rawan gempa bumi dan gunung meletus.

Gunung berapi yang ada di Indonesia tergolong sangat aktif karena sering kali menunjukkan tanda – tanda kehidupan seperti gempa vulkanik, gempa letusan, gempa hembusan, tremor, asap yang muncul dari kawah atau kadangkala hujan abu, dan letusan – letusan kecil. Tandan –tanda kehidupan gunung berapi tidak selalu diikuti dengan letusan yang besar dan dasyat. Namun, pristiwa – pristiwa vulkanis kecil semacam itu sudah cukup menunjukkan keaktifan gunung berapi di Indonesia. Bagi penduduk sekitaran gunung berapi, pertanda itu dapat digunakan sebagai rambu – rambu untuk selalu hati – hati dan waspada dalam membaca “prilaku” gunung berapi di wilayahnya.

Tidak selalu gunung berapi menimbulkan bahaya akibat dampak sebelum maupun sesudah letusan. Hal itu tergantung dari sifat gunung tersebut, masih tergolong aktif ataupun sudah mati. Gunung yang mati adalah gunung yang dulunya aktif mengeluarkan lava dan magma dari perut bumi. Namun, kini tidak memiliki potensi untuk aktif kembali karena sumber energy dari dalam perut bumi sudah tidak ada lagi. Bahaya gunung berapi pada dasarnya adalah bahaya yang ditimbulkan oleh letusan atau kegiatan yang menyemburkan benda padat, cair, dan gas serta campuran diantaranya. Itulah yang mengamcam dan cenderung merusak serta menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta dalam tatanan kehidupan manusia.

 

  1. MENGENAL LEBIH DEKAT GUNUNG SINABUNG
  1. Lokasi Gunung Sinabung

Gunung Sinabung yang ketinggiannya 2.460 mdpl terletak di Dataran Tinggi karo Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia. ibu kota kabupaten ini terletak di Kabanjahe. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.127,25 km2 dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 500.000 jiwa. Kabupaten ini berlokasi di dataran tinggi Karo, Bukit Barisan Sumatera Utara. Terletak sejauh 77 km dari kota Medan, ibu kota Provinsi Sumatera Utara. Wilayah Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi dengan ketinggian antara 600 sampai 1.400 meter di atas permukaan laut. Karena berada diketinggian tersebut, Tanah Karo Simalem, nama lain dari kabupaten ini mempunyai iklim yang sejuk dengan suhu berkisar antara 16 sampai 17° C. 

Di dataran tinggi Karo ini bisa ditemukan indahnya nuansa alam pegunungan dengan udara yang sejuk yang menjadikan daerah ini menjadi tujuan wisata domistik maupun manca negara. Selain itu Kabupaten Karo sangat didukung oleh pertanian, tidak kurang dari 75 % penduduk bermata pencaharian sebagai petani sayur mayur, buah-buahan, bunga-bungaan, biji-bijian dan beberapa dari produksi tersebut telah diekspor ke negara tetangga.

  1. Sejarah Letusan Gunung Sinabung

Gunung ini tidak pernah tercatat meletus sejak tahun 1600, tetapi mendadak aktif kembali dengan meletus pada tahun 2010. Letusan terakhir gunung ini terjadi sejak September 2013 dan berlangsung hingga  maret 2014.

 

Letusan Tahun 2010

Pada 27 Agustus 2010, gunung ini mengeluarkan asap dan abu vulkanis. Pada tanggal 29 Agustus 2010,  dini hari sekitar pukul 00.15 WIB, gunung Sinabung mengeluarkan lava. Status gunung ini dinaikkan menjadi Awas. Dua belas ribu warga disekitarnya dievakuasi dan ditampung di 8 lokasi. Abu Gunung Sinabung cenderung meluncur dari arah barat daya menuju timur laut. Sebagian Kota Medan  juga terselimuti abu dari Gunung Sinabung. Satu orang dilaporkan meninggal dunia di posko pengungsian dikarenakan gangguan pernapasan.

Pada tanggal 3 September, terjadi 2 letusan. Letusan pertama terjadi sekitar pukul 04.45 WIB sedangkan letusan kedua terjadi sekitar pukul 18.00 WIB. Letusan pertama menyemburkan debu vuklkanis setinggi 3 kilometer. Letuasn kedua terjadi bersamaan dengan gempa bumi vulkanis yang dapat terasa hingga 25 kilometer di sekitar gunung ini. Pada tanggal 7 September, Gunung Sinabung kembali metelus. Ini merupakan letusan terbesar sejak gunung ini menjadi aktif pada tanggal 29 Agustus 2010. Suara letusan ini terdengar sampai jarak 8 kilometer. Debu vulkanis ini tersembur hingga 5.000 meter di udara.

Letusan Tahun 2013 – 2014

Pada tahun 2013, Gunung Sinabung meletus kembali, sampai 18 September 2013, telah terjadi 4 kali letusan. Letusan pertama terjadi ada tanggal 15 September 2013 dini hari, kemudian terjadi kembali pada sore harinya. Pada 17 September 2013, terjadi 2 letusan pada siang dan sore hari. Letusan ini melepaskan awan panas dan abu vulkanik. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya akan peningkatan aktivitas sehingga tidak ada peringatan dini sebelumnya. Hujan abu mencapai kawasan Sibolangit dan Berastagi. Tidak ada korban jiwa dilaporkan, tetapi ribuan warga pemukiman sekitar terpaksa mengungsi ke kawasan aman. Akibat peristiwa ini, status Gunung Sinabung dinaikkan ke level 3 menjadi Siaga. Setelah aktivitas cukup tinggi selama beberapa hari, pada tanggal 29 September 2013 status diturunkan menjadi level 2, Waspada. Namun demikian, aktivitas tidak berhenti dan kondisinya fluktuatif.

Memasuki bulan November, terjadi peningkatan aktivitas dengan letusan-letusan yang semakin menguat, sehingga pada tanggal 3 November 2013 pukul 03.00 status dinaikkan kembali menjadi Siaga. Pengungsian penduduk di desa-desa sekitar berjarak 5 km dilakukan. Letusan-letusan terjadi berkali-kali setelah itu, disertai luncuran awan panas sampai 1,5 km. Pada tanggal 20 November 2013 terjadi enam kali letusan sejak dini hari. Erupsi (letusan) terjadi lagi empat kali pada tanggal 23 November 2013 semenjak sore, dilanjutkan pada hari berikutnya, sebanyak lima kali. Terbentuk kolom abu setinggi 8000 m di atas puncak gunung. Akibat rangkaian letusan ini, Kota Medan yang berjarak 80 km di sebelah timur terkena hujan abu  vulkanik. Pada tanggal 24 November 2013 pukul 10.00 status Gunung Sinabung dinaikkan ke level tertinggi, level 4 (Awas).  Penduduk dari 21 desa dan 2 dusun harus diungsikan.

Status level 4 (Awas) ini terus bertahan hingga memasuki tahun 2014. Guguran lava pijar dan semburan awan panas masih terus terjadi sampai 3 Januari 2014. Mulai tanggal 4 Januari 2014 terjadi rentetan kegempaan, letusan, dan luncuran awan panas terus-menerus sampai hari berikutnya. Hal ini memaksa tambahan warga untuk mengungsi, hingga melebihi 20 ribu orang. Setelah kondisi ini bertahan terus, pada minggu terakhir Januari 2014 kondisi Gunung Sinabung mulai stabil dan direncanakan pengungsi yang berasal dari luar radius bahaya (5 km) dapat dipulangkan. Namun demikian, sehari kemudian 14 orang ditemukan tewas dan 3 orang luka-luka dan akhirnya meninggal setelah beberapa waktu dirawat di rumah sakit akibat terkena luncuran awan panas ketika sedang mendatangi Desa Suka Meriah, Kecamatan Payung yang berada dalam zona bahaya I.

Kepala Bidang Mitigasi Bencana, Gempa Bumi, dan Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gede Suantika, mengatakan, erupsi terus terjadi disebabkan material lava pijar di bawah gunung terus terdorong ke atas. Jumlah material lava pijar sangat banyak.“Suplainya masih konstan. Sepertinya, jumlahnya masih besar. Tenaganya juga masih belum habis,” Banyaknya material di bawah gunung ditandai dengan masih seringnya terjadi gempa hybrid. Dalam sehari, rata-rata terjadi 120 kali gempa hybrid. “Melihat lajunya suplai (material lava pijar) dari bawah ke atas yang konstan, itu menunjukkan di bawah cukup besar,” terangnya. Soal kapan erupsi berhenti, ia belum bisa memperkirakan. “Itu susah diprediksi. Bisa diprediksi, tapi kami membutuhkan pengukuran yang lebih global lagi, terutama di daerah Karo,” imbuhnya

Hingga bulan februari pengungsi gunung sinabung berangsur angsur dipulangkan ke desanya terkeculai desa yang terletak 3 km dari gunung sinabung. Keputusan ini diambil karena desa tersebut rentan terhadap dampak erupsi gunung sinabung, dan desa tersebut dinyatakan akan direlokasi demi keselamatan jiwa penduduknya. Adapun desa yang penduduknya belum dapat dipulangkan dan desanya akan direlokasi adalah Desa Simacem, Desa Bekerah, Desa Singgarang-garang, dan Kuta Gugung berada di wilayah Kecamatan Naman Teran. Desa Berastepu di Kecamatan Simpang Empat dan Desa Sukameriah di wilayah Kecamatan Payung.

C. Keadaan Gunung Sinabung

Sebelum Erupsi

Kabupaten Karo sangat didukung oleh sektor  pertanian dan perkebunan, dengan ditunjang lahan yang sangat subur. Tidak kurang dari 75 % penduduk sekitar bermata pencaharian sebagai petani. Dari daerah ini diproduksi jenis-jenis komoditi hasil pertanian dan perkebunan antara lain : sayur mayur, buah-buahan, bunga-bungaan dan biji-bijian. Beberapa dari produksi tersebut dikirimkan langsung ke daerah perkotaan seperti kota Medan dan kota sekitarnya dan selain itu juga telah diekspor ke negara tetangga.

 

Pada Saat Erupsi

Erupsi Gunung Sinabung membuat masyarakat di Kabupaten Karo semakin cemas. Hujan debu disusul hujan lumpur semakin mencekam. Sejumlah perkampungan di kaki gunung itupun luluh lantak diterjang erupsi. Aktivitas warga lumpuh total

Setelah Erupsi

Pasca erupsi selain menghancuran semua tanaman juga rumah-rumah mereka ikut porak-poranda tertimbun hujan lumpur yang tebalnya hingga 15 cm. Tampak dua desa seperti Desa Sigarang-garang dan Desa Kutarayat luluh lantak dihantam hujan lumpur. Kejadian baru itu menjadi momok bagi warga yang berada di kaki gunung tersebut. Jalan yang menuju tempat wisata Lau Kawar dipenuhi lumpur setebal 10 centimeter. Akibatnya semua kendaraan kesulitan untuk melintas.

Hujan lumpur tersebut baru terjadi sejak Sabtu (11/1), meskipun erupsi Gunung Sinabung sudah beberapa bulan lamanya. Ada beberapa desa yang berada di kaki gunung, namun tidak semuanya disiram hujan lumpur. Dari kejadian tersebut menandakan kondisi Gunung Sinabung semakin mengkhawatirkan.

Pengungsi Erupsi

Pasca erupsi gunung Sinabung ini tentu saja membuat sebagian dan hampir seluruh tempat tinggal warga ,ladang, pertanian dan fasilitas umum sekitar kaki Gunung Sinabung hancur dan tidak ada satupun yang bisa ditempati, sehingga mereka mengungsi ke daerah-yang lebih aman, titik pengungsian mereka tersebar di 42 titik pengungsian meliputi daerah Kaban Jahe, Berastagi, Langkat dan yang lainnya

Dengan kondisi yang seadanya mereka bertahan hidup dipengungsian walaupun bantuan logistik cukup memadai, tetapi mereka membutuhkan uang untuk menunjang kebutuhan lainnya

 

D. Dampak dan Kerugian Dari Letusan Gunung Sinabung

Gunung berapi yang meletus tentu akan membawa material yang berbahaya bagi organisme yang dilaluinya, Karena itu kewaspadaan mutlak diperlukan. Berikut ini hal negatif yang bisa terjadi saat gunung meletus:

  1. Tercemarnya udara dengan abu gunung berapi yang mengandung bermacam-macam gas mulai dari Sulfur Dioksida atau SO2, gas Hidrogen sulfide atau H2S, No2 atau Nitrogen Dioksida serta beberapa partikel debu yang berpotensial meracuni makhluk hidup di sekitarnya.
  2. Dengan meletusnya suatu gunung berapi bisa dipastikan semua aktifitas penduduk di sekitar wilayah tersebut akan lumpuh termasuk kegiatan ekonomi.
  3. Semua titik yang dilalui oleh material berbahaya seperti lahar dan abu vulkanik panas akan merusak pemukiman warga.
  4. Lahar yang panas juga akan membuat hutan di sekitar gunung rusak terbakar dan hal ini berarti ekosistem alamiah hutan terancam.
  5. Material yang dikeluarkan oleh gunung berapi berpotensi menyebabkan sejumlah penyakit misalnya saja ISPA.
  6. Desa yang menjadi titik wisata tentu akan mengalami kemandekan dengan adanya letusan gunung berapi..

 

II. PANGGILAN KEMANUSIAAN POSKO JENGGALA

A.   Persiapan

Setelah terjadinya letusan Sinabung, tim Posko Jenggala mulai merencanakan akan membantu para korban erupsi gunung Sinabung, terutama warga yang terdampak langsung di kaki gunung Sinabung, Erma dan Rendy mulai merencanakan dan mempersiapkan tim untuk survey ke lokasi terutama di titik pengungsian yang tersebar dibeberapa daerah.

Akhirnya diberangkatkanlah tim advance Posko Jenggala yaitu Jarot Priksono dan Andi Hutagalung untuk melakukan survey ke kab. Karo, Sumatera Utara, tim Posko Jenggala langsung survey lokasi menuju titik-titik pengungsian di Kabanjahe dan Tiga Binanga serta menginventarisir data-data yang dibutuhkan untuk bantuan yang akan diberikan oleh Posko Jenggala

Sementara di Jakarta Erma dan Rendy melakukan persiapan administrasi dan persiapan lainnya yang dibutuhkan, selain itu juga mulai berkomunikasi dengan pihak Prudential yaitu mr. Mark Fancy, ibu Nini Sumohandoyo, ibu Meilina Karamoy dan teman-teman Prudential lainnya yang ikut akan berpartisipasi menyumbang dan membantu korban erupsi Sinabung, dari hasil komunikasi dengan pihak Prudential, bahwasanya mereka setuju untuk mendonasikan materi dan bergabung bersama Posko Jenggala untuk membantu korban erupsi gunung Sinabung

B. Pertemuan tim Advance Posko Jenggala dan Relawan Sinabung

Pertemuan Awal

Pagi itu tanggal 20 januari 2014 tim posko jenggala yang terdiri dari Jarot Priksono dan Andi Hutagalung berangkat menuju ke medan dan selanjutnya akan melakukan survey ke daerah sekitar erupsi sinabung. Komunikasi antara tim Posko Jenggala dan relawan local Sinabung terus berjalan, pertama kali tim Posko Jenggala berkomunikasi dengan taufiq rachman yang masih kerabat dari Jarot Priksono bahkan sempat menginap di rumahnya di medan. Rencana tim Posko Jenggala akan berangkat esok harinya tanggal 21 Januari 2014 ke Sinabung dari medan

Sudah menjadi kebiasaan dari Posko Jenggala untuk mengikutsertakan pemuda lokal untuk membantu dalam setiap agenda kegiatan Posko Jenggala, karena bagaimana pun penduduk lokal lebih tahu dan mengerti peta daerahnya masing-masing dibanding kami yang datang dari Jakarta

21 januari 2014, komunikasi terus berjalan dan kami pun sepakat bertemu di pos utama kabanjahe antara tim Posko Jenggala dan relawan lokal Sinabung yang sudah dikomunikasikan terlebih dahulu oleh Taufik Rachman. Pertemuan saat itu berlangsung cukup serius, singkat dan padat, dimana tim Posko Jenggala langsung mengajak untuk melihat kondisi posko pengungsian di Kabanjahe, Berastagi dan Tiga Binanga. Dibantu dengan relawan local yaitu Anwar Ginting, Imam Ginting dan Satar Ginting kami keliling untuk melihat kondisi pengungsi secara keseluruhan. 

Dari survey yang kami lakukan rata – rata setiap posko pengungsian pada saat itu membutuhkan air bersih dan MCK , begitu juga dengan pelayanan kesehatan khusus bagi penduduk desa yang terkena dampak abu vulkanik tetapi desa mereka tidak diungsikan. Sehingga timbullah niat akan melakukan pengeboran air bersih dan pembangunan 10 bilik MCK di 20 titik posko pengungsian, serta mendatangkan 20 dokter untuk menangani dan melayani masyarakat yang desanya tidak diungsikan namun terkena dampak abu vulkanik dari erupsi gunung sinabung.

Tim Posko Jenggala kembali terbang ke Jakarta untuk mempresentasikan hasil investigasinya, walaupun dipisahkan jarak komunikasi tetap berjalan guna memperlancar kegiatan yang akan dilakukan. Dari mempersiapkan data pengungsi, basecamp, kebutuhan obat – obatan, kebutuhan material bangunan, dan kebutuhan lainnya. Waktupun terus berjalan dari hari kehari, minggu keminggu dan akhirnya penantian itu pun tidak sia – sia .

Pertemuan ke Dua

Tanggal 10 Februari 2014, Rendy Nugraha berkomunikasi dengan Imam Ginting dan memberitahukan bahwa coordinator Posko Jenggala yaitu Andi Sahrandi timnya akan berangkat ke sinabung untuk melihat kondisi pengungsian di Sinabung Kab. Karo. Komunikasi pun berlanjut dari rencana keberangkatan tim Posko Jenggala, dari jadwal tiba bandara dan rencana penjemputan. Diinformasikan bahwasanya tim Posko Jenggala berangkat dari Jakarta hari selasa 11 februari 2014 dengan pesawat Garuda 182 jam 07.50 pagi tiba 10.15 pagi. Team Posko Jenggala terdiri dari Andi Sahrandi dan  Simon, dan Wawan.

Hari selasa 11 Februari 2014, kami bertemu dan menjemput Andi Sahrandi coordinator Posko Jenggala dan rekannya Wawan dan Simon. Pembicaraan terus berlanjut mengenai perubahan yang telah terjadi di pengungsian dengan program kegiatan yang akan dilakukan, sepanjang perjalanan menuju Kabanjahe yang merupakan titik pusat pengungsian warga sekitar erupsi Sinabung,. 

Ternyata perubahan sudah banyak terjadi di posko pengungsian, semua program awal dari ketersedian air bersih, MCK sudah tersedia dan pelayanan kesehatan yang rencana akan dilakukan di desa – desa yang terkena dampak abu vulkanik sudah kosong tidak berpenghuni karena masyarakat sudah mengungsikan diri.

Selanjutnya Kunjungan hari itu langsung menuju posko Lau Gumba di Berastagi, setibanya di posko pengungsian Andi Sahrandi langsung menghampiri para pengungsi, bercengkerama, bermain dengan anak – anak dengan gaya khasnya “tos” berbaur dengan para ibu – ibu sampai mencoba memakan sirih. Semua yang dilakukan Andi tidak akan pernah hilang dari memory bagi siapa saja yang melihatnya, itu terjadi mengalir begitu saja tanpa direkayasa.

Keceriaan dan kegembiraan para pengungsi begitu luar biasa, mereka merasa begitu diperhatikan, dilayani dan yang terpenting keberadaan kita saat itu sangat berarti bagi mereka. Marga Ginting yang melekat pada Andi juga pertama kali terjadi di posko lau gumba ini. Berawal dari seorang nenek bertanya “apa marga bapak itu” dan saya menjawab Ginting, berketepatan memiliki marga yang sama, nenek tersebut langsung menghampiri Andi dengan berbicara bahasa daerah (karo), namun apa daya Andi hanya bisa tercengang tanpa tau maknanya.

Tawa riang pun bergemuruh di antara para pengungsi, suasana yang begitu hangat diabadikan dengan berfoto bersama. Sungguh kenangan yang begitu berharga dari sebuah kata GINTING.

Begitulah selanjutnya, bagaimana coordinator Posko Jenggala Andi Sahrandi bersama teamnya mendekatkan diri dengan masyarakat, kata – kata “saya Ginting” selalu diucapkannya dengan menempelkan salah satu tangannya di dadanya ketika bertemu masyarakat, baik itu di warung, di jalan, di pengungsian maupun di desa – desa yang kami kunjungi. Sepertinya kata yang sangat super sekali dan sangat bermakna jika diucapkan, karena marga itu adalah ikatan keluarga sesama orang karo. Setiap waktu dimanfaatkan dengan kegiatan – kegiatan yang bermakna,

Dengan berdiskusi beliau selalu mengatakan apa yang mau kita buat? Apa yang akan kita berikan kepada mereka? Coba kita lakukan sesuatu. Berbagi informasi dan saling bertukar pikiran akhirnya program perbaikan desa Kutarayat pun menjadi agenda selanjutnya.

Survey Desa Kutarayat

Secara administrasi Desa Kutarayat terletak di Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Propinsi Sumatera Utara, Indonesia (3°12'14.13"u /  98°24'30.65"t). Desa ini berjarak -/+ 4,2 km dari kawah Gunung Sinabung dan termasuk di dalam daerah kawasan rawan bencana (KRB) ii (dua). Jumlah kepala keluarga didesa ini mencapai 598 kepala keluarga, 2.239 jiwa, dengan luas desa 1.427 ha dan dpl 1.424 meter. Selama ini 95 % masyarakat desa Kutarayat mengandalkan pertanian sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Hingga saat Posko Jenggala inggin melakukan kegiatan bersih desa ke desa ini, status desa ini masih dnyatakan awas karena lokasi desa masih berada di dalam zona 5 km yang direkomendasikan oleh pemerintah.

Survey ke desa kutarayat dilakukan berkali kali, hingga melakukan pertemuan dengan perangkat desa kutaraya. Berdiskusi, berbagi masukan untuk mendukung agar kegiatan ini kelak bisa berjalan dengan baik, karena peran masyarakat, peran pemuda, peran perangkat desa dan komunikasi yang baik akan mewujud mimpi – mimpi kita bersama. Demi bangkitnya desa Kutarayat dan demi bangkitnya harapan masyarakat Kutarayat akan desanya.

Sekembalinya tim advance dari lokasi erupsi gunung Sinabung dan setelah melakukan survey dilokasi pengungsian, maka tim Posko Jenggala mulai merencanakan program bantuan yang akan diberikan kepada para pengungsi erupsi gunung Sinabung yang sudah mengungsi selama 4 bulan di lokasi pengungsian

Pada awalnya kami merencanakan pembuatan MCK di masing-masing pengungsian, mengingat jumlah pengungsi yang mencapai 30.000 jiwa dibeberapa titik, akan tetapi setelah tim memikirkan kembali bahwasanya ketika mereka kembali ke rumah masing-masing, fasilitas umum yang kami buat menjadi tidak terpakai.

Tim pun kembali memikirkan bantuan efektifitas bantuan yang akan diberikan kepada pengungsi Sinabung, mulai dari pengobatan gratis, pembangunan fasilitas umum dan kegiatan bersih desa

Atas saran dan masukan dari rekan-rekan untuk lebih mengefektifkan bantuan bagi para pengungsi gunung Sinabung maka diputuskan sementara untuk melakukan bersih desa secara gotong-royong bersama warga desa dan dilanjutkan dengan pembangunan fasilitas umum desa, untuk bersih desa sendiri kami berencana mengawalinya dari desa Kutarayat, disamping terlihat rumah warga yang hancur dan fasilitas umumnya juga rusak karena, desa ini merupakan salah satu desa yang terbesar di kec. Naman Teran, dan dengan dibantu oleh Satar Ginting yang merupakan warga desa Kutarayat dan Imam Ginting relawan lokal yang dikemudian hari menjadi relawan Posko Jenggala yang bertempat tinggal di Tiga Binanga, kedua kawan ini memang sejak awal erupsi selalu aktif dan terlibat langsung disekitar kaki gunung Sinabung, bahkan rumah Imam Ginting pun sempat menjadi posko pengungsian

Tanggal 20 februari 2014 team Posko Jenggala bertolak menuju lokasi erupsi Sinabung untuk melakukan program yang telah direncanakan dan telah disepakati dengan masyarakat Kutarayat melalui perangkat desa.

Kami mulai merencanakan persiapan bersih desa, mulai dari peralatan kebersihan hingga sarana pendukungnya dan mengakomodir warga desa melalui perangkat desa untuk mulai bergotong royong

III. KEGIATAN SOSIAL BERSAMA POSKO JENGGALA

Gerakan Kemanusiaan Posko Jenggala terdiri dari sekelompok orang relawan yang mempunyai visi dan misi besar dari lubuk hati yang terdalam dalam upaya membantu sesama dengan hati yang ikhlas dan tulus dan menjadi pusat dan wadah dalam mewujudkan komunitas yang peduli.

  1. Cerita Kegiatan

Kegiatan ini bertema “Mari Sipersikap Kuta Kemulihenta” (Mari Kita Perbaiki Kampung Halaman Kita),  merupakan kegitan yang sangat menekankan kebersamaan masyarakat untuk bersama – sama bangkit membangun desanya kembali. Peran perangkat desa, pemuda, dan masyarakat sangat besar dalam suksesnya kegiatan yang telah ditetapkan bersama Posko Jenggala sebagai mediator. Posko Jenggala memberikan semangat dan dukungan penuh dalam kegiatan ini dengan menyediakan alat – alat bersih desa seperti mesin pompa air, cangkul, skop, dangdang, karung, angkong, chainsaw, genshet, sapu, logistik dapur umum, bbm dan transport antar jemput para pengungsi menuju ke desa mereka.

Kegiatan bersih desa ini dilakukan setiap hari dengan melibatkan 100 orang masyarakat desa Kutarayat dengan cara bergiliran. Masyarakat desa Kutarayat yang masih berada di posko pengungsian dijemput dengan mobil yang telah disediakan. Kegiatan ini tentunya sudah diatur sedemikian rupa oleh perangkat desa agar berjalan dengan baik dan tertib. Disamping itu masyarakat tetap dapat melakukan bersih – bersih rumah dan kebun mereka di luar jadwal kegiatan yang sudah ditetapkan oleh perangkat desa. Secara psikologis kegiatan ini sangat baik untuk membangun mental masyarakat kutarayat untuk kembali kedesa mereka, karena ada beberapa warga yang enggan dan takut untuk kembali kedesanya. Hal ini disebabkan adanya rasa trauma yang mendalam dibenak mereka atas peristiwa malam itu.

Kegiatan bersih desa ini setiap harinya dimulai pukul 08.00 wib, dengan menunggu masyarakat desa kutarayat yang datang dari posko pengungsian. Hari pertama kegiatan ini langsung disambut dengan antusias oleh masyarakat desa kutarayat dengan menyanyikan lagu “maju tak gentar” masyarakat berkumpul dan menunggu arahan dari perangkat desa. Sebelum memulai kegiatan bersih desa baju kaos posko jenggala diberikan satu persatu kepada masyarakat yang melakukan gotong royong. Kegiatan ini dibagi menjadi beberapa kegiatan diantaranya team memasak dan team bersih desa, yang semuanya dilakukan secara bergotong royong. Target utama dalam kegiatan bersih desa ini adalah fasilitas umum, seperti jalan, rumah ibadah, kamar mandi umum, balai desa, sekolah,  dan kantor desa.

B. Gotong Royong

Tanpa pandang bulu tanpa melihat status social, seluruh masyarakat kutarayat bahu membahu membersihkan desanya, mereka sangat antusias dengan kegiatan yang di motori oleh Posko Jenggala. Setiap hari banyak perubahan yang terjadi di desa kutarayat dari pada saat desa tersebut diselimuti oleh lumpur abu vulkanik hingga kini sedikit demi sedikit abu vulkanik tersebut dapat dibersihkan. Seperti yang dinyatakan bapak Basita Ginting “ sungguh kami sangat bersyukur dengan kehadiran teman – teman Posko Jenggala, atas kepeduliannya terhadap desa kami. Kami masyarakat kutarayat sangat terbantu  dengan adanya kegiatan ini”.

Semangat mereka tidak bisa dibendung dengan kekuatan apa pun, ini terjadi kadang di tengah melakukan gotong royong gunung sinabung sering erupsi dengan mengeluarkan suara dan asap mengepul tebal. Kesempatan ini mereka pergunakan dengan baik, rasa takut mereka sedikit demi sedikit terkikis, keinginan untuk kembali ke desa sudah terlihat, desa kembali terlihat hidup kembali, pintu – pintu rumah satu persatu sudah terlihat terbuka. Desa kuta rayat kini seperti desa aman dan tenteram padahal masih dalam zona merah yang direkomendasikan pemerintah. Setidaknya warga sudah ada kemauan untuk pulang melihat desanya, sehingga ketika status gunung sinabung dinyatakan aman masyarakat kutarayat bisa kembali dengan nyaman kerumahnya.

 

C. Inisiatif warga membersihkan rumahnya masing – masing.

Perubahan yang drastis tampak terlihat dari desa Kutarayat, hari demi hari semakin ramai warga mengunjungi desanya. Kehidupun desa Kutarayat terlihat sudah seperti semula walau warga belum diperbolehkan untuk kembali kedesanya. Masyarakat yang begitu antusias untuk membersihkan rumahnya, dimana setiap hari suara mesin, palu dan anak –anak sudah terdengar. Masyarakat terlihat bersemangat dan berlomba untuk membersihkan kediamannya masing – masing. Memang tidak mudah bagi mereka untuk bangkit dari keterpurukan ini, rumah yang mereka tinggal banyak mengalami kerusakan pada atap. Seng – seng rumah yang bocor dan amruk membuat ruangan dalam rumah mereka berantakan dengan lumpur – lumpur abu vulkanik, belum lagi ditambah dengan air hujan yang menggenangi isi rumah mereka.

         

D. Berita tak terduga

Di tengah masyarakat kutarayat yang begitu antusias untuk melakukan kegiatan gotong royong di desanya. Tersentak berita di harian Metro karo yang memberitakan bahwa Posko Jenggala telah melakukan pembohongan dan memanfaatkan masyarakat desa kutarayat. Di berita halaman utama media tersebut tertulis “ Di janjikan perbaikan rumah, disuruh mengumpulkan abu vulkanik, masyarakat desa kutarayat mengaku dimanfaatkan oleh yayasan Posko Jenggala”

Bukan hanya warga saja yang terkejut pada saat itu, namun semua team Posko Jenggala termasuk mas Jarot langsung mengkonfirmasi berita tersebut ke coordinator Posko Jenggala pak Andi Sahrandi di Jakarta. Jelas dengan berita seperti itu masyarakat merasa dihina dan terpukul, sehingga pada saat itu juga langsung diusut sumber berita yang telah memojokkan Posko Jenggala. Rapat – rapat dadakan dan super serius  dilakukan bersama warga, untuk mengkelarifikasi berita tersebut. Narasumber, wartawan dan dari pihak Posko Jenggala mas Anwar Ginting didudukkan bersama untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Ternyata hanya miscommunication di antara warga mengenai penjualan abu vulkanik, yang  mana dari awal untuk pemanfaatan abu vulkanik Posko Jenggala sudah menyerahkan sepenuhnya ke desa. Akhirnya diputuskan agar pihak wartawan mengklarifikasi berita yang dimuat dan terealisasi pada hari kedua dengan judul Bersih desa bersama Posko Jenggala di Kutarayat.

 

E. Aksi team kodok di desa kutarayat

Disaat masyarakat tengah melakukan kegiatan bersih desa dan lingkungannya atas inisiatif dari Andi Sahrandi, maka dibentuklah tim Kodok, yaitu sekelompok pemuda dan masyarakat yang dimana secara khusus mendapat tugas tersendiri oleh Posko Jenggala untuk membersihkan daerah-daerah yang sudah ditentukan oleh tim Posko Jenggala, adapun tugas dari tim Kodok tersebut antara lain:

  1. Membersihkan seluruh area jalan, gang, dan fasilitas umum yang berada dalam zona area yang sudah dipetakan terlebih dahulu.
  2. Setiap zona area dikerjakan dalam waktu 2 hari, jadi 16 hari selesai.
  3. Seluruh tanam di pinggir jalan harus disiram dan dibersihkan dari abu vulkanik
  4. Seluruh kayu – kayu yang berada dekat rumah adat dipindahkan
  5. Kantor desa dibersihkan dan dicat sampai dapat berfungsi kembali
  6. SDN dibersihkan dari abu vulkanik.

     

IV. CERITA SURVEY LOKASI DESA SEKITAR ERUPSI GUNUNG SINABUNG

Ketika bersih desa di Kutarayat masih berjalan, tentu saja membuat warga dari desa sekitar desa Kutarayat bertanya-tanya tentang apa yang sedang dilakukan oleh warga desa Kutarayat, yang memang notabene untuk menuju salah satu desa disekitar Sinabung warga harus melewati desa Kutarayat, setelah berbincang cukup lama dengan warga yang melintas, dari salah seorang warga yang merupakan tetua adat desa Kebayeken meminta tolong kepada tim Posko Jenggala untuk membantu desa mereka, permintaan mereka kami respon dengan menginformasikan terlebih dahulu ke Jakarta, sehingga selang beberapa hari kemudian kami pun mendapat instruksi dari Andi Sahrandi untuk survey lokasi desa sekitar desa Kutarayat yang letaknya tak jauh dari desa Kutarayat dan baik diluar maupun didalam zona merah 5 km, data-data pun kami dapatkan dari perangkat masing-masing desa.

Desa Kebayaken

Desa Kebayaken yang hanya 1,5 km dari desa Kutarayat, dan akses menuju desa ini memang melewati desa Kutarayat. Desa kebayaken hanya memiliki 131 KK yang jauh lebih sedikit dari jumlah KK  desa Kutarayat. Namum desa ini terletak di luar zona 5 km, sehingga selalu dinyatakan aman dari zona bahaya 5 km, akan tetapi semua jalur menuju desa ini harus melewati jalur bahaya dan dinyatakan sebagai desa yang terpojok karena tidak memiliki akses untuk jalur evakuasi ke daerah lebih aman, terkecuali lari ke balik bukit yang terjal. Walaupun dinyatakan sebagai desa yang aman dari zona 5 km, tetapi warga desa ini tidak bisa berbuat apa –apa, hal ini dikarenakan semua fasilitas pendidikan Sekolah dasar dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertaman berada di desa yang terletak di zona bahaya (5 km).

Warga desa Kebayaken tetap dinyatakan mengungsi karena faktor – faktor tersebut dan hingga team posko jenggala melakukan beberapa kali survey ke desa ini belum begitu banyak warga yang bermukim di desa ini, walaupun listrik telah dinyalakan oleh pihak PLN pada malam hari.

Salah satu relawan Posko Jenggala yaitu Rendy Nugraha mengatakan sepertinya kita jodoh dengan desa Kebayaken, kerena setiap tim Posko Jenggala melakukan survey ke desa Kebayaken pasti selalu ketemu dengan kepala desa Kebayaken dan warga yang awalnya kita pesimis untuk bisa bertemu warga di desa kebayaeken. Karena melihat kondisi waktu dan cuaca pada saat kita melakukan survey ke daerah tersebut.

Setelah kami laporkan ke Jakarta hasil survey tim Posko Jenggala maka diputuskan untuk membantu desa Kebayaken yaitu kembali melakukan kegiatan bersih desa di desa Kebayaken, tim Posko Jenggala yang juga saat akan dilaksanakan kegiatan bersih desa Kebayaken bekerjasama dengan pihak Prudential yang dimana dari awal telah dikomunikasikan oleh Erma dan Rendy di Jakarta, tim pun langsung memonitor persiapan bersih desa. Dari persiapan alat – alat bersih, transportasi dan logistik warga. Kegiatan bersih desa di desa Kebayaken sama halnya yang dilakukan oleh tim Posko Jenggala didesa Kutarayat, kegiatan bersih desa ini di sambut dengan gembira oleh masyarakat desa Kebayaken.

Hal ini dikarenakan mereka melihat apa yang telah Posko Jenggala lakukan di desa Kutarayat. Kesempatan yang diberikan kepada masyarakat desa Kebayaken di manfaatkan oleh masyarakat dengan maksimal dan tentunya dengan saling bahu membahu walau mereka harus memotong jalur lain untuk sampai ke desa dengan berjalan kaki, karena jalan utama yang diportal dan dijaga oleh aparat TNI.

Semua itu tidak menjadikan hambatan bagi masyarakat, semua kegiatan dilakukan secara teratur, terarah dan terencana. Kegiatan bersih desa yang akan dilakukan di desa Kebayaken rencananya akan dikerjakan dalam waktu 20 hari hal ini di karenakan desa mereka yang tidak terlalu besar dan jumlah KK yang hanya 131

Desa Perbaji

Desa Perbaji yang berjarak 30 km dari Kaban Jahe dan termasuk desa yang berada dizona bahaya 4,3 km dari puncak gunung sinabung. Team jenggala pada saat itu menyempatkan waktu untuk melihat desa – desa yang berada disekitaran gunung sinabung. Saat menuju desa perbaji team jenggala yang melakukan survey dapat melalui beberapa kecamatan antara lain kecamatan simpang empat, kecamatan payung, kecamatan tiganderket dan kecamatan tigabinanga. Yang mana keseluruhan kecamatan terdampak erupsi gunung sinabung dan merupakan bagian dari titik – titik posko pengungsian.  Desa Perbaji sendiri masuk dalam kecamatan Tiganderket, yang pada saat team sampai ke desa ini kita hanya diantar oleh seorang warga dan tidak boleh berlama – lama di dalam desa. Kondisi desa sepi tanpa berpenghuni bapak yang mengantar kami mengaku sering kucing – kucingan dengan tentara yang menjaga di pos penjagaan.

Desa Kutagugung

Desa kutagugung yang terletak sebelum desa kutarayat dan berada sekitar 3,2 km dari puncak gunung sinabung merupakan desa ke dua terparah setelah desa Sigarang- garang yang terkena dampak erupsi gunung sinabung. Desa ini memiliki 272 KK yang keseluruhan warganya sudah diungsikan pada saat gunung sinabung dinyatakan waspada pada bulan september  2013 lalu. Pada saat team Jenggala melakukan survey memang desa ini berbeda dengan desa – desa lainnya yang kita kunjungi.  Warga yang seharusnya mengungsi dan berada pada zona aman, malah pada saat pagi hingga sore hari mereka kembali ke desa untuk membersihkan rumah dan halaman mereka dari lumpur abu vulkanik. Deretan karung yang sudah tersusun di sepanjang jalan dan di depan rumah mereka sudah banyak menumpuk.

Warga desa kuta gugung mengakui mereka melakukannya secara pribadi dan hasil abu vulkanik yang sudah ditumpuk akan mereka jual, karena mereka tidak dapaat berdiam diri di pengungsian selama berbulan – bulan. Kegiatan mengumpulkan abu vulkanik secara mandiri dapat menghasilkan pendapatan bagi kehidupan mereka di pengungsian karena lahan pertanian mereka sudah habis terkena abu vulkanik. Saat team jenggala melakukan survey ke desa kuta gugung serta mendokomentasi beberapa vasilitas yang rusak, seperti balai desa, kamaar mandi, kantor desa, jalan umum, rumah ibadah dan kondisi pemukiman yang langsung didampingi warga setempat. Hal ini dilakukan masih tahap keadaan desa secara secara umum, karena pada saat itu status gunung sinabung masidh dinyatakan awas oleh pemerintah. Selanjutnya survey – survey lanjutan masih dilakukan, hingga team jenggala melakukan pertemuan dengan perangkat desa, untuk melakukan tindakan bersih desa.

 Kegiatan survey yang team Jenggala lakukan membuahkan hasil, bahwa dampak erupsi gunung sinabung yang terparah secara kasad mata terletak di Kecamatan Naman Teran yang meliputi desa Kebayaken, Kutagugung , Sigarang – garang dan Kutarayat yang mana desa tersebut terkena lumpur erupsi gunung sinabung. Sedangkan kecamatan payung, simpang empat dan tigabinanga hanya terkena hembusan abu vulkanik yang dampaknya tidak begitu berat untuk kelangsungan hidup pengungsi setelah dipulangkan dari pengungsian atau yang hanya terkena dampak abu saja dan warganya tidak diungsikan, karena menurut team Jenggala yang melakukan survey desa tersebut akan kembali bersih jika disiram atau terkena hujan beberapa hari saja.

Kegiatan Bersih Desa di Desa Kebayaken

Pada tanggal 23 Maret 2014 team Jenggala memutuskan untuk membantu bersih desa menuju desa Kebayaken (diluar radius 5 km) dan desa Kuta gugung (dalam radius 5 km), namun pada tanggal 21 Maret di tengah perjalanan saat team Jenggala sedang merencanakan dan mengkoordinasikan rencana kegiatan bersih desa kepada masing – masing perangkat desa jalan menuju desa yang akan di bersihkan di portal dan dijaga oleh aparat TNI, sehingga warga sulit untuk masuk kedesanyanya. Keputusan tersebut membuat para perangkat desa kutagugung tidak bisa bernegoisasi dengan pihak TNI kecuali perangkat desa Kebayaken yang bisa masuk kedesanya dengan menggunakan jalur desa Kutambelin. Pada tanggal 23 Maret team posko Jenggala hanya bisa melakukan bersih desa di desa Kebayaken sedangkan untuk desa Kuta gugung team posko Jenggala hanya bisa melakukan kegiatan sembari menunggu status sinabung turun.

Setelah diputuskan untuk melakukan kegiatan bersih desa di desa Kebayaken team Jenggala langsung memonitor persiapan bersih desa di desa ini. Dari persiapan alat – alat bersih , taransportasi dan logistic warga. Kegiatan bersih desa di desa Kebayekaen sama halnya yang dilakukan oleh team Posko Jengagala di desa Kutarayat sebelumnya, kegiatan bersih desa ini di sambut dengan gembira oleh masyarakat desa Kebayaken. Hal ini dikarenakan mereka melihat apa yang telah posko Jenggala lakukan di desa Kutarayat. Kesempatan yang diberikan kepada masyarakat desa Kebayaken di manfaatakan oleh masyarakat dengan maksimal dan tentunya dengan saling bahu membahu walau mereka harus memotong jalur lain untuk sampai kedesa dengan berjalan kaki, karena jalan utama yang diportal dan dijaga oleh aparat TNI. Semua itu tidak menjadikan hambatan bagi masyarakat, semua kegiatan dilakukan secara teratur terarah dan terencana. Kegiatan bersih desa yang dilakukan di desa Kebayaken hanya memakan waktu 20 hari hal ini di karenakan desa mereka yang tidak terlalu besar dan jumlah KK yang hanya 110.

Dari kegiatan yang berlangsung banyak perubahan yang terjadi di desa Kebayaken hari demi hari perubahan terus terlihat ini dikarenakan motivasi dan semangat warga bserta perangkat desa , tetua adat dan para pemuda yang selalu bersatu untuk kepentingan desa mereka agar bersih dan asri. Hanya kurun waktu yang telah ditentukan desa kuta rayat bisa berubah dengan secepat kilat, semua berjalan sesuai dengan harapan kita semua, dari fasilitas umum yang di perbaiki dan dibersihkan seperti jalan, rumah ibadah, kamar mandi umum dan balai desa dilakukan dengan baik walau tidak sempurna. Selama melakukan kegiatan di desa Kebayaken banyak kegiatan yang dilakukan seperti berkumpul dengan anak – anak di sekolah di kutarayat bersama anak – anak sekolah kuta rayat juga, bersama – sama membersihkan sekolah di desa kutarayat dan menanam pohon mahoni sepanjang jalan dari kuta rayat hingga desa Kebayaken.   

Renovasi sekolah

Berawal dari kepedulian terhadap anak – anak akan masa depannya kelak tim Posko Jenggala kembali mengajak warga terutama dari desa Kutarayat dan desa Kebayaken untuk membersihkan dan merenovasi sekolah yang memeang dipakai untuk anak-anak dari kedua desa yaitu masyarakat desa Kebayaken dan Kutarayat

Mereka bahu membahu membersihkan sekolah dasar 047174 agar kelak setelah masyarakat sekembalinya dari pengungsian sekolah tersebut dapat langsung dipergunakan oleh anak – anak mereka untuk menimba ilmu. Melihat kondisi yang begitu amat memprihatinkan tim Posko Jenggala, perangkat desa dan kepala sekolah melakukan rapat singkat untuk membenahi sekolah tersebut agar layak digunakan seperti semula. Rapat kecil yang dilakukan di sekolah tersebut menghasilkan kegiatan pembentukan team Kodok kembali dari kedua desa yakni 10 orang dari Kebayaken dan 10 orang dari desa Kutarayat. Tim ini akan bekerjasama untuk kembali membersihkan areal sekolah dari abu vulkanik dan mengecat ulang sekolah serta memperbaiki atap perumahan guru sekolah yang hancur selama kurun waktu dua minggu.

Bersih desa Sigarang-garang dan Desa Kutagugung

Setelah selesainya bersih desa didesa Kebayaken maka kembali Posko Jenggala yang bekerjasama dengan Prudential akan melakukan kegiatan bersih desa didesa Sigarang-garang dan desa Kutagugung

Memang desa Sigarang – garang dan Kutagugung merupakan desa yang terus diperhatikan oleh posko Jenggala, hal ini terbukti tim posko Jenggala sudah melakukan beberapa kali survey ke desa ini dan atas permintaan para warga yang menginginkan desa mereka untuk dibantu. Namun kegiatan bersih desa yang ingin dilakukan tidak dapat dilaksanakan karena status gunung sinabung yang masih awas. Dari segi kerusakan desa ini memang sangat parah dan butuh ekstra perhatian dari semua kalangan, setiap kali melewati desa ini menuju desa Kutarayat dan Kebayaken memang ada rasa ingin sekali membantu desa ini tapi ada daya tingkat bahaya yang tinggi dan penjagaan yang ketat oleh pemerintah sehingga team Jenggala menunggu hingga status gunung sinabung dinyatakan turun.

Tanggal 8 April 2014 jam 5 sore, sehari sebelum pemilu status gunung sinabung turun dari awas menjadi siaga. Pada hari yang sama pak Andi Sahrandi langsung memberitahu agar posko Jenggala langsung melakukan bersih desa dan berkoordinasi dengan perangkat desa kedua desa tersebut. Dari awal melakukan kegiatan bersih desa Kutarayat maupun desa Kebayaken, tak dapat dipungkiri bahwa target utama adalah desa sigarang – garang dan Kuta gugung, namun karena jarak yang begitu dekat dengan gunung sinabung maka kita juga tidak berani mengambil resiko akan nyawa masyarakat yang akan melakukan bersih desa. Sehingga tim Jenggala tetap akan melakukan bersih desa jika status gunung sinabung telah turun.  Berita ini merupakan berita yang sangat dinanti – nantikan oleh masyarakat desa sigarang – garang dan kuta gugung, mereka menangis dan terharu sewaktu mendengar berita tersebut di posko pengungsian tutur kepala desa sigarang–garang Syarifuddin tarigan. Beliau memaparkan kami senang karena kami dapat kembali ke desa kami dengan tenang, tidak seperti selama ini harus kucing – kucingan dengan aparat keamanan.

Semua dilakukan dengan sigap, cepat dan tepat, maka sehari setelah pemilu tim posko jenggala yang diwakilkan oleh Rendy Nugraha melakukan penyerahan alat bersih desa ke desa sigarang – garang berupa sorong, cangkul, sekop , karung dan mesin air yang secara langsung diterima oleh kepala desa sigarang – garang beserta masyarakat.

Untuk desa kuta gugung kegiatan bersih desa akan di lakukan tim Posko Jenggala setelah air yang akan masyarakat perbaiki selesai dan mengalir ke desa gugung. Sebagai informasi bahwasanya air yang biasanya mengalir di desa Kutagugung memang sedang tidak mengalir akibat tersumbat abu vulkasnik Sinabung yang biasanya alirannya langsung dari sungai,

Perbaikan saluran air ini sebelumnya memang sudah menjadi kesepakatan antara posko jenggala dan masyarakat desa kuta gugung untuk memperbaiki pipa air tersebut. Meneurut masyarakat memang air tersebut tidak mengalir lagi karena pipa penyambung yang melewati sungai hanyut dibawa arus, sehingga ada niat dari posko jenggala untuk menyumbang pipa besi 3 mili, agar masyarakat dapat mengganti pipa tersebut. Dan pada tanggal 15 april 2014 kegiatan bersih desa di desa kuta Gugung telah dilaksakan oleh tim posko jenggala,

Pada kesempatan tersebut Rendy Nugraha selaku wakil dari posko Jenggala memberi arahan dan maksud tujuan kehadiran posko Jenggala ke desa kutagugung, dimana sehari sebelumnya posko jenggala telah menyerahkan alat bersih desa seperti angkong, cankul, sekop, karung serta mesin air sebagai peralatan untuk membersihkan desa mereka.

Hingga batas waktu yang belum diketahui kegiatan bersih desa masih terus berlangsung dikedua desa ini, dan perlu digaris bawahi bahwa kegiatan bersih desa di desa Sigarang–garang dan Kutagugung dilakukan dengan mandiri. Masyarakat diajak untuk bahu membahu memelakukan bersih desa dan fasilitas umum.

Perangkat desa harus bekerja ekstra untuk membangun dan membangkitkan semangat warganya, demi desa yang akan mereka tampati kembali. Kegiatan bersih rumah masing–masing lebih sering dilakukan warga kedua desa ini mengingat kondisi rumah mereka juga hancur dan berantakan, karena sudah di tinggal lebih dari setengah tahun lamanya. Fasilitas umum yang warga desa bersihkan bersama–sama sebagian besar sudah selesai dikerjakan karena itu merupakan target utama dari posko Jenggala dalam kegiatan bersih desa ini.

Bagi warga desa sigarang–garang khususnya masyarakatnya masih sedikit yang tinggal di desa, hal ini dikarenakan sebahagian besar rumah mereka rusak berat, seperti atap seng yang bocor, keadaan prabot rumah yang rusak terkena lumpur dan hujan, sebagian besar bagian dalam rumah tidak dapat dipergunakan lagi. Lain seperti desa Kutarayat dan Kebayaken, seiring berjalannya waktu bersih desa berlangsung masyarakat semakin ramai yang tidur dan kembali kedesanya walau terkadang masih sering kembali ke pengungsian.

Kegiatan bersama anak – anak

Seiring berjalannya waktu bersih desa, kegiatan bersama anak – anak sering dilakukan. Hal ini bertujuan agar anak – anak tidak takut terhadap gunung sinabung dan dapat melihat desanya kembali. Ini dilakukan ketika sudah banyak perubahan yang dilakukan pada desa mereka, anak – anak merupakan aset kehidupan masa depan yang harus diperhatikan kwalitas dan kuantitas jati dirinya muali dari kecil.

Membuat anak – anak tidak merasa trauma dengan kejadian erupasi gunung sinabung merupakan target yang sangat diutamakan. Karena kehidupan di dunia posko pengungsian bukanlah duania bagi anak – anak, secara psikologis semuanya pasti berubah. Dari segi pengawasan terhadap anak, lingkungan yang berbeda, kegiatan sekolah yang terganggu dan suasana kekeluargaan yang tidak terikat lagi karena telah berbaur beberapa keluarga di dalam satu ruangan.

Kegiatan yang dilakukan posko jenggala kepada anak–anak agar mereka melupakan kejadian–kejadian yang pernah mereka alami selama ini. Dengan membawa mereka ke desanya kembali mereka akan merasa lebih nyaman dan tentram berada didesa dan rumahnya. Kegiatan–kegiatan yang dilakukan posko jenggala bersama anak – anak lereng gunung sinabung adalah kembali kedesa dan kesekolah mereka.

Bantuan perbaikan fasilitas umum dan fasilitas sosial

Selain kegiatan bersih desa Posko Jenggala yang bekerjasama dengan Prudential juga ikut membantu membangun dan memperbaiki fasilitas umum dan fasilitas sosial yang hancur akibat erupsi gunung Sinabung, dari beberapa desa yang kami datangi, sangat terlihat dengan jelas kerusakan yang terjadi hamper seluruh balai adat dan rumah ibadah baik masjid dan gereja sebagian besar hancur, bahkan beberapa fasilitas umum hancur secara keseluruhan, untuk desa Kutarayat Posko Jenggala dan Prudential membangun Losd Desa (balai adat), renovasi masjid, renovasi gereja yang dimana pengerjaanya dilakukan secara gotong royong dan bersama-sama warga masyarakat desa, Posko Jenggala hanya menyediakan bahan baku dan material serta kebutuhan yang diperlukan untuk pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial tersebut.

Ada pun bantuan yang Posko Jenggala berikan di desa Kebayaken meliputi pembangunan Losd desa, renovasi masjid, renovasi gereja dan penanaman bibit tanaman produktif, semua pembangunan dan renovasi fasilitas umum dan fasilitas sosial dikerjakan secara bergotong royong dan bersama-sama dan Posko Jenggala hanya menyediakan material dan bahan bakunya saja

Hal tersebut diciptakan untuk menumbuhkan rasa kepedulian terhadap desanya masing-masing sehingga terciptanya keharmonisan dan kerukunan antar warga masyarakat dari masing-masing desa ditengah bencana alam yang melanda desa mereka, terbukti hal tersebut membuat semangat kebersamaan terhadap mereka semakin erat, merekaseolah-olah telah melupakan kesusahan dan bencana yang tengah melanda mereka

Sedangkan untuk desa Kutagugung dan Sigarang Posko Jenggala yang bekerjasama dengan Prudential membantu dalam pembangunan Losd desa berupa material dan bahan bangunan

Bantuan ke beberapa masyarakat

          Bantuan yang diberikan kepada masyarakat secara tiba–tiba, bantuan ini diberikan kepada masyarakat dengan melihat kontribusi mereka pada saat melakukan kegiatan bersih desa. Adapun beberapa masyarakat yang rumahnya diperbaiki adalah pak Untung sitepu (masyarakat) posKo jenggala membantu sebanyak 95 lembar asbes, 10 rabung seng dan paku seng. Satar Ginting (Relawan posko Jenggala) posko Jenggala akan merenovasi rumah beliau baik indoor maupun outdoor dan pak Kades Kutarayat Sitepu, posko Jenggala akan membantu 50 asbes untuk atap rumah beliau.

V. PERKENALAN RELAWAN LOKAL ATAS PRAKARSA POSKO JENGGALA DAN PRUDENTIAL

Tiga bulan lamanya kami berada di sekitar kaki gunung Sinabung, hal mendasar yang kami pertanyakan adalah kemana para pemuda? kemana semangat sosial warga? Apakah mereka tidak ingin tanah kelahiran mereka kembali seperti sedia kala? karena selama keberadaan kami disana kami belum melihat warga masyarakat khususnya para pemuda, berperan aktif membantu walau seadanya untuk kampungnya sendiri, karena tim Posko Jenggala pun tidak mungkin selamanya berada disana disamping memiliki keterbatasan dan kesibukan tersendiri

Atas buah pemikiran dari Andi Sahrandi, maka tim Posko Jenggala dengan dibantu oleh Satar Ginting (yang merupakan pemuda desa Kutarayat) mulai mengajak kawan-kawan pemuda dari kab. Karo terutama perwakilan dari masing-masing desa yang terkena imbas erupsi gunung Sinabung, untuk ikut membantu daerahnya masing-masing

Kebetulan sudah ada Komunitas Beidar Sinabung yang sebelumnya mempunyai rutinitas fotografi, kemudian kami ajak untuk bersama-sama membantu agar memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap kemanusiaan, Beidar Sinabung dan Posko Jenggala intens melakukan komunikasi seputar agenda yang akan dilaksanakan bersama

Hingga saat ini komunitas Beidar Sinabung sedang menggalang bantuan berupa seng atau asbes bagi para pengungsi Sinabung dan bukan hanya penggalangan bantuan saja tetapi mereka ikut juga bergotongroyong bersama warga memasang seng/asbes dilokasi dan hasilnya pun sudah nyata dirasakan oleh warga yang telah dibantu

VI. PENUTUP

Bencana alam khususnya erupsi gunung Sinabung di tanah karo menyisakan derita yang mendalam terutama bagi para pengungsi yang hingga saat ini sebagian warga yang tinggal disekitar kaki gunung Sinabung masih berada dipengungsian dan entah sampai berapa lama lagi setelah 8 bulan lamanya mereka berada di pengungsian

Secara psikologis tentu saja mereka sangat rapuh terutama anak-anak yang kehilangan masa bermainnya, masa sekolahnya walaupun sekolah berjalan dengan seadanya dipengungsian, dengan kondisi demikian seharusnya menjadi pekerjaan utama bagi pemerintah, baik di pusat, daerah dan instansi terkait

Selama tim Posko Jenggala berada di Tanah Karo, kami melihat belum adanya reaksi pemerintah dan instansi terkait untuk masalah pengungsi akibat erupsi gunung Sinabung, ketika status sudah turun menjadi siaga dan warga pun sebagian diperbolehkan kembali pulang tetapi bagaimana mereka mau kembali kerumah masing-masing, karena rumah mereka telah hancur terutama atap-atap yang terkena abu vulkanik gunung Sinabung

Atas keadaan tersebut maka timbullah buah pemikiran dan gagasan dari Andi Sahrandi untuk mempersatukan pemuda yang peduli kepada kampungnya sendiri dan dengan semangat kemanusiaan maka terbentuklah relawan lokal dari masing-masing desa yang ikut membantu menggalang bantuan kepada masyarakat luas didalam ataupun diluar kab. Karo untuk ikut menyumbangkan seng bagi para pengungsi yang hancur atap-atap rumah mereka

Gagasan yang tidak pernah terpikirkan oleh pemerintah dan instansi terkait dalam penanganan korban pengungsi pasca status gunung Sinabung diturunkan oleh pemerintah, meskipun ada apakah akan secepat yang kami lakukan?

Terakhir dan yang sangat pentingnya kami sampaikan ucapan banyak terima kasih kepada pihak Prudential yang selama tim Posko Jenggala berada di Sinabung, tak lepas peran serta dari pihak Prudential yang mensuport kami secara penuh dalam bentuk dukungan materi terutama kepada mr. Mark Fancy, ibu Nini Suhandoyo, ibu Meilina Karamoy, mbak Tasya dan mas Fahmi

Pada saat ini di Sinabung masih ada sekitar 17.000 pengungsi dan Posko Jenggala akan mencoba terus untuk mengurangI penderitaan korban erupsi gunung Sinabung dengan membantu sebisa kami

Semoga secepatnya kondisi sekitar kaki gunung Sinabung dapat kembali normal dan warga kembali beraktifitas seperti biasanya


Waktu Kegiatan


13-Februari-2014 S/D 23-Maret-2014

Lokasi Kegiatan


Berita Terbaru


Selengkapnya

Aktivitas Terbaru


Selengkapnya

Kontak

GERAKAN KEMANUSIAAN POSKO JENGGALA

Jl. Gunung Indah II No. 50, Cirendeu, Ciputat, Tanggerang Selatan

(021) 7445734

(021) 7445734

info[at]posko-jenggala.org

www.posko-jenggala.org