Sunday, November 19, 2017
  • Ikuti Kami
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala

Gempa dan Tsunami Aceh, Munculnya Nama Posko Jenggala

Published : 03-Maret-2015 | 21:37:38

Ke Aceh Posko Jenggala pergi, ke sebuah bencana besar. Di Aceh pula, Posko Jenggala bertemu momen yang membuatnya semakin bergulir menjadi semakin besar dan solid


Gempa bumi dan tsunami melanda Aceh, pagi hari, Minggu 26 Desember 2004. Setelah bumi bergoncang kuat, gelombang air laut yang tinggi menerjang daratan Aceh. Gempa dan tsunami meluluh-lantakkan kota-kota dan perkampungan di Serambi Mekkah ini. Gempa bumi tercatat sebesar 8,7 scala reichter. Tinggi gelombang tsunami, menurut beberapa saksi, lebih tinggi dari sebuah pohon kelapa. Kejadian tersebut menelan korban jiwa sekitar 200 ribu jiwa.

Kejadian di Aceh menjadi bahan perbincangan Andi Sahrandi dan Arifin Panigoro. Baik Andi maupun Arifin memiliki pendapat yang sama, bahwa besarnya bencana ini mencapai ukuran yang “gila”. Mereka langsung sepakat untuk membantu Aceh secara bersama-sama. Secepatnya dilakukan langkah mengumpulkan bantuan– mulai dari mencari dokter hingga menghubungi anak-anak aktivis mahasiswa. Tanpa dinyana, banyak orang yang ingin turut membantu rencana Posko Jenggala tersebut. Ada yang titip pakaian, makanan, dan obat-obatan. Semua ditumpuk di Jenggala.

Selain itu, Djoni Saleh, sahabat Arifin yang lain, mengatur rombongan mahasiswa dan alumni ITB. Sedangkan Grup Medco sebagai perusahaan, mempersiapkan rombongan bantuan juga. Hanya Posko Jenggala yang banyak berisikan aktivis politik muda dan tua, plus anak-anak muda non politik yang peduli kemanusiaan.

Walau sudah pernah bersatu melakukan bantuan pada Reformasi 1998 dan Banjir Besar Jakarta, Posko Jenggala saat itu belum memiliki nama. Soalnya, barang-barang bantuan yang sudah menumpuk di Jenggala itu harus diberi nama agar tidak kesasar. Hal ini sempat membuat bingung rombongan Jenggala. Saat itu ada yang memberi ide nama: “Arifin Panigoro dan kawan-kawan”.

Memang untuk bantuan Aceh ini, Arifin sampai merogoh kocek hingga puluhan miliar rupiah. Bisa jadi, saat itu belum ada yang mencapai jumlah seperti itu untuk ukuran sumbangan pribadi. Posko Jenggala berpikir akan mengerjakan apa saja untuk Aceh, tapi tetap berhitung serta berhemat, agar tetap efektif dan efisien.

Andi Sahrandi segera mengontak Irfan Budiman. Segera bersiap Irfan dan kawan-kawannya dari Lembaga Kesehatan Masyarakat Islam (LKMI)– salah satu lembaga penopang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tempat Irfan berkegiatan. Mereka segera merencakan program untuk memberikan bantuan apa saja di Aceh. Di dalamnya terdapat dokter-dokter dan perawat-perawat yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dan akademi. Mereka bergabung dan ngepos di Jenggala.

Pada hari ketiga setelah kejadian, rombongan sudah siap berangkat. Namun, karena tidak dapat pesawat terbang menuju Aceh, maka keberangkatan sempat tertunda selama dua hari. Bantuan, seperti genset, obat-obatan, dan pakaian sudah terkumpul di Jenggala. Kalau pun ada pesawat, barang bantuan tidak bisa langsung dibawa ke Aceh saat itu juga. Bantuan harus dibawa terbang dengan kargo Garuda ke Medan, lalu dikirim melalui darat menuju Aceh.

Inilah rombongan pertama Posko Jenggala ke Aceh. Jumlahnya sekitar 25 orang, terdiri dari dokter, paramedik, serta relawan umum.  Selain kalangan muda, dari kalangan orang tuanya berangkat Andi Sahrandi, Bara Muskita, dan Dinna Erwinn. Selama dua minggu di Aceh, rombongan pertama ini melakukan penanganan pasca bencana yang lebih banyak bersifat pemetaan masalah.

Persiapan kala itu masih sangat sederhana. Padahal kenyataannya saat di lapangan kejadiannya sangat luar biasa, lebih dari perkiraan awal. Walau sudah mengetahui dari berita dan melihat di televisi, tidak semua orang di Posko Jenggala bakal menyangka bencana dan akibatnya sebesar itu. Akhirnya, diputuskan oleh Arifin Panigoro bahwa rombongan pertama hanya dua minggu di Aceh.

Ketika rombongan pertama masih tertahan di sekitar Balai Gubernur di Banda Aceh, terdapat kabar dari Lhok Nga bahwa daerah tersebut membutuhkan bantuan secepatnya. Komunikasi segera dilakukan dengan salah seorang tokoh setempat bernama Ampun Cip. Lalu, dengan tiga Jeep, rombongan menuju Lhok Nga melalui jalan darat. Di  jalan menuju Lhok Nga, Jeep sering berhenti untuk memakamkan jasad manusia, karena sudah banyak ditemukan tubuh tergeletak tidak bernyawa.

Keadaan masih panik dan apa adanya. Obat-obatan yang dibawa rombongan pertama Posko Jenggala ini tidak cukup. Dokter dan tim medis dituntut untuk harus kreatif, karena saking banyaknya korban, obat yang rencananya untuk dua minggu ternyata habis hanya dalam waktu lima hari. Saat itu, dibutuhkan terutama obat-obatan untuk infeksi. Alhasil, rombongan bekerja secara efektif hanya satu minggu. Karena obat-obatan sudah ludes, maka rombongan kembali ke Banda Aceh dan tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Akhirnya, rombongan pertama memutuskan pulang ke Jakarta terlebih dulu. Rencananya, setelah rombongan kembali ke Jakarta, sebuah tim yang akan tinggal secara jangka panjang di Aceh akan berangkat. Dibentuk tim besar dengan beberapa kelompok, plus tim manajemennya. Dalam tim ini bergabung pula Forum Peduli Lingkungan Hidup Bandung yang memboyong beberapa ratus orang tukang bangunan dari Jawa Barat. Di Aceh, rombongan besar ini lalu bergabung juga dengan Unicef, untuk penanganan anak-anak.

Posko Jenggala memutuskan untuk mengkonsentrasikan bantuan di Lhok Nga. Pertimbangannya, karena berdasarkan hasil pemetaan masalah di Lhok Nga, ada “kampung pengungsi” yang dibangun di atas lapangan sepakbola. Posko Jenggala berencana akan membangun rumah sakit darurat dan dapur umum yang akan memasak untuk kebutuhan kurang lebih dua ribu orang.

Munculnya nama Posko Jenggala terjadi ketika rombongan kedua ini tiba di lapangan sepakbola di Lhok Nga. Walau sebenarnya, secara tidak formal nama Posko Jenggala sudah muncul sejak bantuan untuk korban Banjir Besar Jakarta. Kala itu, saat datang ke sebuah lembaga atau lokasi banjir, sering ditanya dari mana. Orang-orang dalam rombongan menjawab sekenanya saja: “dari Posko Jenggala”. Nah, nama ini mulai menguat kembali saat melakukan bantuan kemanusiaan di Aceh pasca gempa dan tsunami.

Dengan pertimbangan yang sama saat Banjir Besar Jakarta– sering ditanya bantuan dari mana– maka saat di Aceh, nama Posko Jenggala akhirnya menjadi nama “resmi” orang-orang yang bergabung dengan rombongan bantuan kemanusiaan dari Rumah Jenggala, menggantikan nama “Arifin Panigoro dan kawan-kawan” yang sempat muncul sebelumnya.

Program utama Posko Jenggala di Aceh: membangun rumah dan sarana kesehatan.

Berdirinya rumah bantuan ini hanya memakan waktu tiga bulan setelah bencana. Bisa dikatakan rumah yang dibangun Posko Jenggala merupakan rumah bantuan pertama yang kelar di Aceh. Jumlahnya mencapai angka beberapa ratus unit. Rahasia bisa cepat dibangun karena manajemen Andi Sahrandi yang kenyang makan asamgaram di dunia bisnis dan bantuan sosial. Andi tampaknya berusaha sebaik mungkin mengkoordinir relawan, pekerja, sumbangan, beban kerja, dan target bantuan dengan harmoni. Pekerjaan dilakukan dengan efektif dan efisien.

Tapi, bukannya tanpa kendala. Untuk percepatan selesai tersebut, Posko Jenggala harus rela berkorban membayar material dengan lebih mahal. Soalnya, pasokan bahan baku sedang susah didapat di Aceh. Untuk material kayu diperoleh dari sekitar Aceh. Karena keadaan darurat, dengan kebijakan pemerintah, maka kayu penebangan ilegal boleh dipakai. Konsekuensinya harga jadi sangat mahal.

Rumah yang dibangun Posko Jenggala semi permanen– ini juga yang membantu membuat lebih cepat dibangun. Satu meter tembok, lalu ke atasnya berbahan kayu. Pengerjaannya juga dilakukan dengan “gila”, bahkan kadang sampai malam masih dikerjakan. Para tukang kayu dan batu dari Jawa Barat ini khusus disewa untuk membuat rumah pengungsi. Tim ini dibentuk oleh Arifin Panigoro dan Didik Supriyanto (politikus PDIP). Mereka datang dengan pesawat Hercules.

Selain itu, pendekatan Posko Jenggala juga sedikit berbeda dari yang lain. Posko Jenggala turut melibatkan sang calon pemilik rumah. Andi Sahrandi memberi rangsangan pada pemilik rumah, kalau rumah mereka jadi duluan akan mendapat hadiah. Motivasi seperti ini kadang membuat orang lupa dengan masalah mereka dan segera membangun kembali reruntuhan yang dihadapinya. Walau hadiahnya sebenarnya tidak seberapa, misalnya velbet untuk tempat tidur.

Tidak hanya pembenahan fisik, Posko Jenggala berusaha pula mengobati trauma korban. Karena tsunami, baik orang tua maupun anak-anak mengidap trauma ketika melihat laut. Kemudian, Posko Jenggala membuat kaos plus atribut lain. Lalu, mengajak para korban jalan-jalan ke pantai. Untuk ini Posko Jenggala bekerjasama dengan psikolog-psikolog dari Unicef. Saat tiba di pantai, para korban ini menangis melepas trauma mereka. Itulah kali pertama mereka ke pantai kembali pasca tsunami.

Setelah itu, rombongan besar Posko Jenggala pulang kembali ke Jakarta. Selama di Aceh, secara keseluruhan Posko Jenggala menyelenggarakan penampungan pengungsi dengan ketersediaan fasilitas air bersih, dapur umum, dan sarana kesehatan. Juga, menyelenggarakan dan menyediakan sarana pendidikan darurat bagi anak-anak. Dan, melakukan rehabilitasi rumah, puskesmas, sekolah, lingkungan, serta perputaran ekonomi penduduk. Posko Jenggala membangun pula kerjasama dengan relawan dari berbagai organisasi internasional dan nasional.

Selain itu, yang memang “ditinggal” di Aceh satu: rumah sakit darurat yang beroperasi selama satu tahun penuh. Rumah sakit ini berada di pinggir pantai dengan kontainer lengkap dengan kamar bedah. Perawat dan dokter bertugas di sana. Tim medis ini adalah relawan-relawan Posko Jenggala dari Jakarta.

Seusai Aceh, banyak orang berharap tidak ada kejadian bencana lagi. Tapi, ternyata masih ada beberapa bencana menyambangi Tanah Air. Di Aceh, Posko Jenggala bertemu momen yang membuatnya bergulir menjadi semakin besar dan solid


Waktu Kegiatan


27-Desember-2004 S/D 30-Januari-2005

Lokasi Kegiatan


Berita Terbaru


Selengkapnya

Aktivitas Terbaru


Selengkapnya

Kontak

GERAKAN KEMANUSIAAN POSKO JENGGALA

Jl. Gunung Indah II No. 50, Cirendeu, Ciputat, Tanggerang Selatan

(021) 7445734

(021) 7445734

info[at]posko-jenggala.org

www.posko-jenggala.org