Sunday, November 19, 2017
  • Ikuti Kami
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala

Reformasi 1998, Sebuah Perubahan Yang Harus Digulirkan

Published : 03-Maret-2015 | 21:32:58

Semangat dan aktivitas di Rumah Jenggala turut serta dalam menggerakkan perubahan di Indonesia, saat Reformasi 1998. Dasar terbentuknya Posko Jenggala.


Perubahan harus digulirkan. Soalnya, Indonesia sedang dirundung awan gelap dengan membusuknya Orde Baru, di bawah Presiden Soeharto. Istilah KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) menjadi istilah yang dikenal dengan kebencian yang tinggi. Ekonomi Indonesia jatuh ke titik terendah yang membuat hidup rakyat semakin susah. Nilai tukar Dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah mencapai tujuh kali lipat dari sebelumnya yang sekitar Rp2.500. Harga-harga sembilan bahan pokok (sembako) melambung tinggi. Kemuakan semakin memuncak kala DPR-MPR mencalonkan dan memilih kembali Soeharto sebagai presiden.

Mahasiswa turun ke jalan. Tanpa dinyana, mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta: Elang Mulia Lesmana, Hafidhin Royan, Hendriawan Sie, dan Hery Hartanto ditembak di kampus mereka saat berdemonstrasi pada 12 Mei 1998. Penembakkan yang dilakukan aparat keamanan itu menyulut kerusuhan di seantero Jakarta dan Indonesia. Asap hitam membumbung tinggi di atas Jakarta. Banyak gedung-gedung dirusak, dibakar, dan dilempari batu. Penjarahan berlangsung di berbagai tempat. Jumlah korban tewas tidak sedikit.

Jakarta rusuh. Indonesia genting. Di tengah kekacauan negara tersebut, Mahasiswa akhirnya memutuskan menduduki Gedung DPR-MPR. Pendudukan mahasiswa ini merupakan titik kulminasi dari gerakan perubahan yang disebut reformasi. Gerakan mahasiswa yang bercampur baur dengan anggota rakyat lainnya sudah semakin mengeras menuntut perubahan. Ribuan mahasiswa mengalir deras menduduki gedung DPR-MPR, Senayan, Jakarta sejak Senin, 18 Mei 1998.

Pada hari itu, sekitar 70 mahasiswa dari sekitar 35 perguruan tinggi yang tergabung dalam Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ) mendatangi Gedung DPR-MPR untuk mendesak Harmoko (yang saat itu Ketua DPR-MPR) untuk meminta Soeharto turun dari jabatannya sebagai presiden. Kawan-kawan mereka dari FORKOT (Forum Kota) juga turut memasuki Gedung DPR-MPR. Mahasiswa FKSMJ menginap. Rombongan Mahasiswa FORKOT memutuskan pulang.

Saat Matahari 19 Mei 1998 terbit, bak air bah, rombongan mahasiswa yang lebih besar, memasuki gedung DPR-MPR. Mereka menyusul rekan-rekan yang telah lebih dulu menginap. Jumlahnya mencapai ribuan mahasiswa, dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta maupun luar Jakarta. Mahasiswa yang dikoordinir FORKOT kembali masuk ke dalam gedung DPR-MPR. Setelah itu, mahasiswa dari berbagai organisasi maupun beragam kelompok turut berbaur bersama-sama. Mahasiswa dan rakyat menginginkan perubahan!

Pada hari kedua pendudukan DPR-MPR– di saat perut mahasiswa mulai terasa lapar– datang bantuan nasi bungkus dari sekumpulan supir taksi yang bersimpati secara spontan. Kemudian menyusul, bantuan dari berbagai anggota masyarakat lainnya, seperti ibu rumah tangga, pensiunan, organisasi masyarakat, hingga pengusaha. Bantuan mengalir deras.

Malamnya– masih di hari yang sama– seorang mahasiswa koordinator lapangan di dalam Gedung DPR-MPR mendapat kabar dari rekannya, bahwa mereka mendapat bantuan 200-an nasi bungkus berisi telur ayam. Nasi bungkus ini katanya berasal dari Jenggala (Jenggala adalah rumah Arifin Panigoro yang terletak di Jalan Jenggala, Jakarta). Bantuan didrop di Kampus Universitas Moestopo yang tidak jauh dari Gedung DPR-MPR. Diterima di sana karena malam itu tidak bisa langsung masuk ke dalam gendung DPR-MPR.

Dari Moestopo, bantuan tersebut dibawa satu-persatu, diimbal oleh mahasiswa ke gedung DPR-MPR dengan menggunakan sepeda motor. Sekali jalan bisa membawa sekitar empat tas kresek besar, yang isinya masing-masing 50-an bungkus nasi.

Setelah malam itu, bantuan dari Rumah Jenggala terus mengalir. Setelah didrop di Kampus Moestopo, bantuan selanjutnya dijemput langsung di Rumah Jenggala oleh mahasiswa yang mengurusi logistik. Mereka menjemputnya dengan menggunakan taksi. Lalu, di pintu masuk belakang Gedung DPR-MPR, mahasiswa yang menunggu membawanya masuk ke dalam.

Di Rumah Jenggala itulah para Ibu-Ibu yang dimotori Raisis Panigoro (istri Arifin Panigoro) memasak makanan untuk bantuan. Kawan-kawan arisan dan pengajian Raisis banyak yang antusias datang langsung ke Rumah Jenggala untuk membantu membangun dapur umum. Letak Rumah Jenggala tidak jauh dari gedung DPR-MPR, tak lebih dari dua kilometer.

Rumah Jenggala disulap jadi dapur umum. Karena Mahasiswa yang membutuhkan bantuan sangat banyak, maka sumbangan makanan bisa mencapai jumlah yang tidak sedikit. Peralatan masak untuk memasak dalam jumlah besar dibantu oleh peralatan katering Ade Indira (adik kandung Raisis) yang memiliki usaha katering. Rice cooker (alat menanak nasi) ukuran 20 liter yang sekali masak bisa untuk sekitar 100-150 bungkus nasi diboyong ke Jenggala. Plus, wajan-wajan berukuran besar.

Sumbangan pertama yang diberikan Ibu-Ibu dari dapur umum Rumah Jenggala, ya itu tadi: 200-an nasi bungkus berisi telur ayam. Kegiatan bantuan ini dilakukan terus-menerus setiap hari, sampai akhirnya Soeharto dan Orde Baru tumbang. Jumlah terbanyak nasi bungkus dalam satu hari pengiriman kala itu, bisa mencapai 5.000-an bungkus.

Selain dukungan keluarga Arifin Panigoro, kawan-kawan arisan dan pengajian Raisis Panigoro, kawan-kawan dekat Arifin Panigoro– termasuk Andi Sahrandi yang dekat dengan mahasiswa,  sumbangan pun berdatangan dari berbagai pihak. Semua sumbangan diterima melalui pintu depan Rumah Jenggala, terdiri dari mie instan hingga air mineral. Mie instan merek Salami– yang dimiliki oleh Grup Medco– juga mengirim ratusan boks mie setiap hari.

Dari sini, para Ibu jadi ahli dalam “manajemen katering”. Biasanya, para mahasiswa akan ditanya, mereka perlu berapa nasi bungkus? Atau, para mahasiswa yang melakukan kontak dan menghubungi Rumah Jenggala. Bagian belanja di dapur umum sudah menyediakan bahan-bahan makanan– belanja  maupun dari sumbangan. Kemudian, Ibu-Ibu memasak bersama-sama. Setelah matang, perwakilan mahasiswa datang ke Rumah Jenggala untuk mengambil bantuan.

Tidak ketinggalan, para Bapak juga larut dalam keriuhan menyediakan nasi bungkus bantuan. Tetapi caranya lain dari Ibu-Ibu. Kalau Bapak-Bapak langsung beli jadi, alias tidak memasaknya.

Dorongan kuat para Bapak untuk ikut menyediakan langsung nasi bungkus terjadi saat sedang banyak permintaan nasi bungkus dari para mahasiswa. Persediaan di Rumah Jenggala sudah habis dan tidak mencukupi, kalau memasak lagi sudah tidak memungkinkan. Akhirnya Bapak-Bapak membeli jadi nasi bungkus.

Ketika kondisi itu terjadi, Arifin Panigoro dan Andi Sahrandi membuntel banyak uang tunai rupiah, lalu masuk ke dalam mobil. Kendaraan tersebut langsung meluncur ke daerah Blok M, Jakarta Selatan. Semua makanan di warung nasi hingga rumah makan Padang yang dilewati diborong habis. Apa yang ada di sana pokoknya dibungkus, lalu dimasukkan ke mobil. Seperti biasa, khas Bapak-Bapak kalau belanja, tunjuk sana-tunjuk sini tanpa tawar-menawar, tanpa melihat kepantasan harga, langsung bungkus.

21 Mei 1998, Soeharto jatuh. Setelah berkutat dengan masak-memasak dan membungkus nasi beserta lauk pauk di Rumah Jenggala, Ibu-Ibu menyempatkan diri menyambangi langsung mahasiswa yang selama ini dikirimi makanan di Gedung DPR-MPR. Lucunya, rombongan para Ibu ini sempat ditawari makan nasi bungkus oleh para mahasiswa, padahal bisa jadi di antara nasi bungkus tersebut terdapat nasi bungkus bantuan dari Rumah Jenggala.

Segala aktivitas di Rumah Jenggala turut serta dalam menggerakkan perubahan di negeri Khatulistiwa ini, saat Reformasi 1998. Bisa jadi, semangat kepedulian akan nasib orang banyak dan semangat akan perubahan ini, menjadi dasar terbentuknya Posko Jenggala, di kemudian hari nanti.


Waktu Kegiatan


12-Mei-1998 S/D 21-Mei-1998

Lokasi Kegiatan


Berita Terbaru


Selengkapnya

Aktivitas Terbaru


Selengkapnya

Kontak

GERAKAN KEMANUSIAAN POSKO JENGGALA

Jl. Gunung Indah II No. 50, Cirendeu, Ciputat, Tanggerang Selatan

(021) 7445734

(021) 7445734

info[at]posko-jenggala.org

www.posko-jenggala.org