Sunday, November 19, 2017
  • Ikuti Kami
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala

Gempa Manokwari, Papua Barat, Terbang ke Ujung Timur Indonesia

Published : 17-Januari-2015 | 01:40:31

Manokwari di Papua Barat dilanda gempa. Posko Jenggala mengalami perjumpaan berkesan dengan saudara-saudara sebangsa dari Bumi Cendrawasih.


Kabar sedih datang dari ujung timur Indonesia. Pada 4 Januari 2009, Manokwari, Papua Barat diguncang gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter (Badan Meteorologi dan Geofisika). Saat itu, sekitar seribu warga di pesisir pantai memilih mengungsi ke daerah ketinggian karena khawatir tsunami. Sisi badan jalan, halaman rumah penduduk, hingga kantor-kantor menjadi tempat sementara warga.

31 warga Manokwari mengalami luka berat: sembilan orang di Kabupaten Manokwari, 13 orang di Kota Sorong, dan sembilan orang di Kabupaten Sorong. Selain itu, 476 orang penduduk mengalami luka ringan yang tersebar di Kabupaten Manokwari dan Kota Sorong. Empat orang meninggal dunia.

Gempa menimbulkan kerusakan rumah warga. Rusak berat sebanyak 1.769 rumah (1.500 rumah di Kabupaten Manokwari, 217 rumah di Kota Sorong, dan 52 rumah di Kabupaten Sorong). Sedangkan rumah penduduk yang rusak ringan mencapai 3.728 rumah, tersebar di Kabupaten Manokwari 2.906 rumah, Kota Sorong 61 rumah, dan di Kabupaten Sorong 763 rumah. Beberapa rumah sakit, rumah ibadah, sekolah, hotel, jembatan, dan jalan juga mengalami kerusakan.

Mendengar kabar ini, Posko Jenggala segera bersiap menuju Papua. Tim Relawan Posko Jenggala terbang dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta pada Jumat, 9 Januari 2009, pukul 05.30 WIB, menuju Manokwari. Pesawat harus singgah di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Tiba di Kota Angin Mamiri pada jam 09.30 waktu setempat. Ternyata, di sana harus menunggu selama empat jam, pesawat yang akan membawa ke Manokwari.

Tidak hanya keterlambatan yang mendera. Ketika pesawat sudah siap akan berangkat, barang-barang bantuan untuk Manokwari ternyata sebagian besar masih tertinggal di gudang cargo. Mengetahui hal ini, Andi Sahrandi, selaku Ketua Posko Jenggala sempat melakukan “pembajakan” pesawat. Dengan meminta maaf kepada penumpang lain, pesawat diminta tidak terbang dulu oleh Andi.

Soalnya, barang bantuan sebanyak 71 koli dengan berat 1,3 ton itu sebenarnya bisa diangkut dengan masuk bagasi pesawat (bukan cargo dengan pesawat lain), setelah diminta membayar biaya yang wah sebesar Rp41 juta– tawar-menawar lalu disepakati Rp36 juta– saat di Bandara Soekarno-Hatta. Karena itu, ketika di Bandara Hasanuddin, Andi bersikeras bahwa barang bantuan berangkat bersama pesawat yang sama dengan penumpang, sambil menunjukkan sobekan tiket bagasi yang sudah dilunasi.

Andi Sahrandi terpaksa “menahan” seluruh awak penerbangan untuk tidak memberangkatkan pesawat terlebih dulu, sebelum barang bantuan masuk semua ke bagasi pesawat. Akhirnya, setelah barang bantuan dapat masuk ke bagasi seluruhnya, maka pesawat terbang menuju Papua. Mendarat di Manokwari pada sore hari.

Di Manokwari, tim dijemput oleh Sjaban Darsono (Baban), alumni Persatuan Mahasiswa Bandung yang menjadi relawan Posko Jenggala di Papua. Tim relawan segera melakukan koordinasi dengan Satkorlak setempat di Kantor Gunernur Papua Barat. Juga, koordinasi dengan Satkorlak Kabupaten Manokwari. Setelah berdiskusi, tim memutuskan untuk berkonsentrasi di Manokwari— tidak berangkat ke Sorong seperti yang semula direncanakan—karena Manokwari menderita kerusakan lebih besar.

Pada Sabtu, 10 Januari 2010, hari pertama pengobatan gratis dilakukan di sekitar Kota Manokwari Timur. Kota ini dijadikan base oleh Posko Jenggala. Selain memberikan bantuan pengobatan, kegiatan di base juga dimaksudkan agar masyarakat mengetahui akivitas yang dilakukan oleh tim, sebagai upaya untuk permisi bertamu. Saat melakukan pengobatan yang sekaligus sosialisasi dan persiapan ini, tim telah melakukan pengobatan kepada 180 orang.

Keesokan harinya, Tim Relawan Posko Jenggala menuju Desa Saubeba, Mubridiba, dan Meyes di Distrik Manokwari Utara. Untuk menjangkau lokasi, tim menusuri laut di pesisir utara Papua yang langsung berhadapan dengan Samudera Pasifik. Di tengah perjalanan, hutan lebat harus pula ditempuh. Selain jalan berbatu, jalan aspal mulus juga dapat ditempuh.

Dalam kondisi sehari-hari, daerah ini sudah dapat terjangkau oleh transportasi angkutan umum. Setiap hari, masyarakat dapat memasarkan hasil pertanian ke Manokwari, Ibukota Provinsi Papua Barat. Namun, banyak ditemui di perjalanan bahwa kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat belum dilakukan secara maksimal. Masih banyak ditemui anak-anak yang belum mandi dan berperut buncit, sebagai indikasi gizi buruk.

Hari ketiga, aktvitas tim masih di wilayah pantai utara, namun kali ini di Kampung Lebau dan Asai di Distrik Pantai Utara. Lebau merupakan Ibukota Distrik Pantai Utara. Di Kampung Asai, sebanyak 120 orang pasien yang kebanyakan anak-anak dapat diberikan pelayanan kesehatan gratis. Sedangkan di Lebau jumlah pasien yang dapat tertangani mencapai 183 orang.

Pada 12 Januari 2010, Posko Jenggala masuk ke tengah wilayah Manokwari, menuju Kampung Hingk, Kampung Dindey, dan Kampung Subasai di Distrik Warmare. Gugusan bukit yang memanjang memberikan keindahan tersendiri yang memesona hati di alam Papua. Terbersit harapan agar anak-anak Papua dapat hidup sebaik alam yang memesona tersebut.

Setelah dari Distrik Warmare, Posko Jenggala bergerak ke Distrik Manokwari Selatan (Kampung Ayawi) dan Distrik Tanah Rubuh (Kampung Warami) pada 13 Januari 2010. Posko Jenggala menyusuri sepanjang pantai selatan Manokwari, lokasi yang menjadi jalur menuju Teluk Bintuni yang merupakan urat nadi perekonomian Manokwari. Beberapa ruas jalan hanya bisa ditempuh oleh kendaraan berpenggerak empat roda (4 wheel drive) karena ganasnya medan.

Perjalanan ditempuh melalui jalan curam mendebarkan yang diselingi pantai selatan Manokwari yang indah serta hutan yang lebat. Di lokasi kegiatan Kampung Mupi, selain pengobatan gratis, Andi Sahrandi memperkenalkan mandi bersih dengan sabun dan shampoo kepada anak-anak di sana dengan menceburkan diri ke sungai.

Selanjutnya, pada 15 Januari 2010, Posko Jenggala mengadakan kegiatan pengobatan gratis di Desa Arowi, Distrik Manokwari Timur dan Pulau Mansinam. Di Pulau Mansinam inilah mendarat pertama kali Walter J. Erikson dan Edward R Triti, missionaris Belanda, pada 15 Februari 1855 dengan ditemani oleh Sultan Tidore.

Lau pada Jumat, 16 Januari 2010, atas saran Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Manokwari, Posko Jenggala memberikan bantuan kepada penduduk di pemukiman padat di Kampung Amban dan Pasar Wosi di Kota Manokwari. Di daerah ini banyak warga yang menjadi korban bencana gempa bumi. Apalagi di daerah ini banyak bangunan modern dengan tembok semen dan atap genteng yang rawan gempa.

Jumlah pasien keseluruhan yang dapat dibantu oleh Posko Jenggala mencapai 3.526 orang. Setelah sepekan lebih di Manokwari, pada Sabtu 17 Januari 2010, Tim Relawan Posko Jenggala kembali ke Jakarta. Sebelum pulang, tim sempat menyumbangkan beberapa alat kesehatan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat.

Penerbangan kembali ke Jakarta juga sempat mengalami keterlambatan. Sebabnya, pesawat yang seharusnya terbang langsung Manokwari ke Jakarta ternyata harus mengambil penumpang lebih dulu di Palu, Sulawesi Tengah. Rombongan terpaksa harus tertahan kembali selama empat jam di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Namun secara keseluruhan, perjalanan memberikan bantuan kali ini, membuat perjumpaan berkesan Posko Jenggala dengan saudara-saudara sebangsa dari wilayah ujung timur Indonesia, Papua


Waktu Kegiatan


04-Januari-2009 S/D 04-Januari-2009

Lokasi Kegiatan


Berita Terbaru


Selengkapnya

Aktivitas Terbaru


Selengkapnya

Kontak

GERAKAN KEMANUSIAAN POSKO JENGGALA

Jl. Gunung Indah II No. 50, Cirendeu, Ciputat, Tanggerang Selatan

(021) 7445734

(021) 7445734

info[at]posko-jenggala.org

www.posko-jenggala.org