Sunday, November 19, 2017
  • Ikuti Kami
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala

Gempa Bumi pada Akhir 2006 di Mandailing Natal

Published : 17-Januari-2015 | 01:32:52

Karena daerahnya berbukit dan terjal, gempa bumi yang melanda Mandailing Natal juga menyebabkan longsor di beberapa tempat. Sempat menutup jalur transportasi darat Padang ke Medan.


Sebelum terjadi gempa bumi di Mandailing Natal, Sumatera Utara, terjadi lebih dulu tanah longsor di Sarasah, Kanagarian Air Dingin, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada Jumat 15 Desember 2006. Dusun Sarasah adalah salah satu dari beberapa dusun yang berada di bagian lembah dari perbukitan struktural. Lereng perbukitan di sekitar lokasi bencana adalah hutan kering sekunder, semak, belukar, dan pertanian lahan kering.

Longsor di Sarasah terjadi karena tanah diguyur hujan selama dua hari sehingga lahan menjadi jenuh. Maka, pada Jumat pagi itu, masa tanah bergerak menuruni lereng dengan volume yang semakin banyak. Longsor tanah ini menimpa sekitar 10 rumah dan satu masjid. Tanah longsor ini menelan korban 18 orang meninggal, 11 luka-luka, 60 keluarga diungsikan, serta sekitar 15 hektar sawah rusak dan gagal panen.

Tidak lama kemudian, pada Senin, 18 Desember 2006, pukul 04.39 WIB, gempa melanda Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Muara Sipongi di Mandailing Natal merupakan daerah terparah yang terkena dampak dari gempa bumi tersebut. Kecamatan Muara Sipongi berada di atas lahan perbukitan struktural dan secara geologis daerah ini memang termasuk daerah yang rawan gempa.

Salah satu akibat dari gempa bumi yang disertai hujan adalah terjadinya tanah longsor. Jalur utama jalan darat Padang ke Medan, sejak daerah Kecamatan Rao hingga ke Pasar Muara Sipongi, banyak terdapat titik-titik yang mengalami tanah longsor.

Gempa bumi Mandailing Natal ini berkekuatan 5,7 Skala Richter (SR) dengan pusat gempa pada kedalaman 17,7 kilometer. Lokasi pusat gempa terletak di darat, sekitar 18 kilometer barat laut kota Muara Sipongi, 70 kilometer timur laut Kota Mandailing Natal, 89 kilometer tenggara kota Padang Sidempuan, dan 343 kilometer tenggara Kota Medan. Diperkirakan gempa bumi terjadi karena pergerakan sesar aktif di wilayah Muara Sipongi, Mandailing Natal.

Wilayah Mandailing Natal disusun oleh batuan berumur Pra Tersier dan Tersier yang telah mengalami pelapukan. Karena itu bersifat lepas, belum terkonsolidasi serta memperkuat efek goncangan. Maka, daerah ini rentan terhadap goncangan gempa bumi. Selain itu, wilayahnya berbukit-bukit dan terjal, sehingga rawan longsor.

Korban meninggal dunia akibat gempa bumi Mandailing Natal ini mencapai empat orang. Enam orang luka berat dan 25 orang luka ringan. Sebanyak 200 an bangunan rusak berat dan 250 bangunan rusak ringan. Para penduduk masih mengkhawatirkan gempa susulan, sehingga memaksa mereka mengungsi ke tenda-tenda yang didirikan di sekitar rumah atau di lokasi-lokasi pengungsian.

Posko Jenggala segera memberikan bantuan kepada korban gempa bumi di Mandailing Natal ini. Bantuan yang diberikan oleh Posko Jenggala berupa bahan-bahan makanan, obat-obatan, dan pakaian yang layak pakai untuk para korban bencana


Waktu Kegiatan


15-Desember-2006 S/D 18-Desember-2006

Lokasi Kegiatan


Berita Terbaru


Selengkapnya

Aktivitas Terbaru


Selengkapnya

Kontak

GERAKAN KEMANUSIAAN POSKO JENGGALA

Jl. Gunung Indah II No. 50, Cirendeu, Ciputat, Tanggerang Selatan

(021) 7445734

(021) 7445734

info[at]posko-jenggala.org

www.posko-jenggala.org