Sunday, November 19, 2017
  • Ikuti Kami
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala

Banjir Bandang dan Tanah Longsor Morowali: Sulit Dijangkau Namun Indah

Published : 17-Januari-2015 | 01:28:36

Belum banyak yang tahu tentang Morowali. Walau sulit dijangkau, jalinan pertemanan dan pengalaman baru didapat.


Morowali, Sulawesi Tengah, pada 23 Juli 2007 diterpa banjir bandang dan tanah longsor. Peristiwa ini mengakibatkan 72 orang meninggal dunia, 17 orang hilang, 232 rumah penduduk hancur, 318 rusak berat, dan 517 rusak ringan. Selain itu, 3.477 jiwa dari 645 kepala keluarga terpaksa mengungsi.

Kabar banjir bandang di Morowali ini terdengar oleh tim relawan Posko Jenggala yang sedang berada di Cianjur, Jawa Barat untuk melakukan panen raya SRI dan pemberian bantuan perlengkapan sekolah bagi anak-anak korban Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Awalnya, orang-orang di Posko Jenggala tidak ada yang tahu persis letak Morowali. Sempat mencari di peta, namun Morowali tidak ditemukan.

Akhirnya diketahui juga bahwa Morowali ternyata berada di Sulawesi Tengah. Morowali adalah nama sebuah kabupaten baru yang semula bergabung dengan Bungku. Karena itulah, di peta belum ditemukan daerah yang bernama Morowali.

Menurut kabar yang didapat, Morowali bisa didekati melalui Ujung Pandang. Dari Ibu Kota Sulawesi Selatan ini, rombongan bisa melanjutkan perjalanan ke Soroako dengan pesawat kecil– yang hanya mampu mengangkut empat orang saja. Padahal bantuan yang bakal dibawa Posko Jenggala, hasil belanja di Sulawesi Selatan, jumlahnya mencapai satu truk. Karena hanya mendapat enam tiket, maka tim pertama yang berangkat duluan. Sedangkan, delapan orang menunggu di Sulawesi Selatan hingga tiket ke Soroako didapat. Sampai pagi menjelang, tiket pesawat tak kunjung ada.

Akhirnya, rombongan yang tertinggal lewat jalan darat naik dua mobil Kijang dan satu truk dengan kawalan. Perjalanan darat ini ditempuh selama 14 jam. Berangkat jam 10 malam, sampai di tujuan jam lima sore. Di tengah perjalanan– sekitar 12 jam perjalanan menuju Soroako– truk terbalik. Untungnya tidak ada korban serius, meski ada relawan asal Universitas Padjajaran, Bandung yang terluka. Kemudian, dicarilah truk baru di pasar yang jaraknya sekitar lima kilometer dari tempat kejadian. Begitu truk baru didapat, barang bantuan segera dipindahkan. Lalu, perjalanan dilanjutkan ke Soroako.

Rombongan tiba di Soroako sekitar setengah jam kemudian. Tapi, perjalanan tidak dapat dilangsungkan begitu saja. Rombongan harus menyeberangi Danau Montano– yang kabarnya merupakan danau terdalam kedua di dunia– dengan perahu motor. Semua barang dari truk harus dipindahkan ke perahu motor. Kemudian, dengan perahu motor menyeberang ke Moha. Lalu, dari Moha disambung dengan jalan darat menuju Polemandale, Ibu Kota Kabupaten Morowali.

Tiba di Polemandale pada pukul dua dini hari. Kemudian, jam tujuh malam, rombongan memindahkan barang bantuan ke truk baru yang lebih besar. Dengan kendaraan ini tim Relawan Posko Jenggala harus menempuh jalur off road  selama lima jam, menempuh kebun karet di daerah transmigrasi.

Tidak berhenti sampai di situ, rombongan harus mencari kapal agar dapat menyeberang ke Morowali. Sebenarnya dari Bungku Utara dapat ke Morowali melalui jalan darat. Namun, karena tanah longsor dan banjir bandang, jalan terputus. Maka, jalur satu-satunya hanya menyeberang melalui laut.

Tanpa dinyana, pada pagi hari Tim Posko Jenggala  bertemu dengan Tim Basarnas (Badan SAR Nasional) Kendari. Pucuk dicinta ulam tiba, rombongan Posko Jenggala dibolehkan menumpang kapal Basarnas. Kalau tidak menumpang, rombongan harus menggunakan kapal kayu dengan perjalanan tempuh selama enam jam. Akhirnya diputuskan, barang-barang bantuan diangkut dengan kapal kayu, sedangkan personil Posko Jenggala menumpang kapal Basarnas.

Waktu tempuh di laut ini pun tidak pendek. Perjalanan menyeberangi laut ditempuh selama empat jam. Akhirnya, rombongan mendarat di daerah bernama Baturube, salah satu ibu kota kecamatan. Lokasi Baturebe ini memang paling dekat dengan pantai.

Di Baturube, Tim Relawan Posko Jenggala merancang kegiatan bantuan untuk dapat mencapai lokasi-lokasi yang selama ini sukar dijangkau dan belum disentuh oleh bantuan tim kesehatan mana pun. Untuk itu Posko Jenggala berkomunikasi dengan Satkorlak, seperti sering dilakukan oleh Posko Jenggala ketika berada di daerah bencana. Melapor ini berguna agar bila terjadi sesuatu bisa saling membantu.

Berdasarkan informasi dari Satkorlak, terdapat beberapa titik yang harus dibantu. Karena tempatnya jauh, maka selama ini belum tersentuh bantuan. Di daerah tersebut juga tidak terdapat mobil, yang ada hanya sepeda motor atau berjalan kaki. Mobil tidak bisa masuk karena jalannya terputus. Posko Jenggala memutuskan bahwa sebagian relawan naik sepeda motor, jalan kaki, dan ada yang naik perahu.

Posko Jenggala berada di Morowali dari 3 Agustus hingga 23 Agustus 2007. Biasanya, dalam satu hari dapat diberikan bantuan oleh Posko Jenggala di dua titik lokasi yang membutuhkan. Total lokasi yang perlu diberi bantuan ada lebih dari 12 titik lokasi.

Di tengah bencana dan kegiatan memberi bantuan, kawasan Morowali ternyata sangat indah. Salah satunya yang eksotik adalah Desa Boba. Sayang Desa Boba hancur terkena bencana longsor. Posko Jenggala bisa masuk ke Desa Boba dua hari setelah tiba di Kabupaten Morowali. Di Boba, untuk jalan kaki saja susah, karena lumpur mencapai sepaha orang dewasa. Sampai menjelang sore baru Tim Posko Jenggala tiba di Desa Boba– setelah melewati genangan lumpur sepanjang sekitar satu kilometer dari bibir pantai.

Betul saja, ketika Posko Jenggala tiba, memang belum ada bantuan sama sekali yang sampai ke Desa Boba. Banyak penduduk telah dievakuasi. Tapi, masih ada beberapa orang yang bertahan di sana dan belum mendapat penanganan. Salah satunya, di sana ada seorang anak kecil yang kakinya tertusuk duri selama berhari-hari, namun belum diobati, hingga membusuk. Syukurnya, setelah ditangani Posko Jenggala, anak ini bisa diselamatkan dan kakinya tidak perlu diamputasi.

Selain memberi bantuan, Posko Jenggala bertemu teman dan pengalaman baru. Di Morowali, tepatnya di Desa Lemo, orang-orang Posko Jenggala bertemu dengan suku terasing Wana. Orang-orang Suku Wana ini ternyata turun dari gunung untuk berobat di Posko Jenggala. Walau terasing, mereka sebenarnya sudah berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya. Suku ini tinggal di lereng-lereng bukit di sekitar Desa Lemo. Biasanya mereka turun gunung untuk melakukan barter, membeli kebutuhan mereka.

Posko Jenggala bertemu pertama kali dengan Suku Wana ketika sedang berlangsung kegiatan pengobatan. Mereka datang ke tempat pengobatan Posko Jenggala. Pada saat itu, salah seorang penduduk Desa Lemo mengatakan kepada Posko Jenggala bahwa yang datang adalah tokohnya Suku Wana– dilihat dari tato yang terdapat di pipinya.

Posko Jenggala dapat berkomunikasi dengan baik dengan Suku Wana berkat bantuan perantara. Yardin, perantara tersebut adalah salah seorang tokoh di Desa Lemo yang juga menjadi pembina Suku Wana. Yardin ini kerap keluar masuk daerah Suku Wana. Tokoh Suku Wana sempat diundang oleh Yardin untuk datang ke tempat menginap rombongan Posko Jenggala. Di tempat rombongan menginap– di sebuah rumah seorang guru yang baik hati bernama Ibu Meri– Posko Jenggala diberi sumpit sebagai kenang-kenangan dari Suku Wana.

Suku Wana suka bermain musik. Alat musik tradisional mereka terbuat dari kayu dan senar-senar karet. Setelah kegiatan memberi bantuan Posko Jenggala selesai di Morowali, empat orang Suku Wana diundang oleh pemerintah Uzbekistan untuk menghadiri ulang tahun Ibukota Uzbekistan.

Empat orang dari Suku Wana ini mempertunjukkan kemahiran mereka bermain musik tradisional di Ibukota Uzbekistan. Setelah selesai dari Uzbekistan, mereka diundang mampir ke Rumah Jenggala di Jakarta. Di Rumah Jenggala ini Suku Wana diterima oleh Arifin Panigoro beserta keluarga, sabahat, dan kawan-kawan dengan gembira. Mereka pun bermain musik di Rumah Jenggala. Pertemanan pun datangnya tak terduga, bisa dari mana saja. Tapi, mempunyai nilai yang tak terhingga dan indah


Waktu Kegiatan


03-September-2007 S/D 27-September-2007

Lokasi Kegiatan


Berita Terbaru


Selengkapnya

Aktivitas Terbaru


Selengkapnya

Kontak

GERAKAN KEMANUSIAAN POSKO JENGGALA

Jl. Gunung Indah II No. 50, Cirendeu, Ciputat, Tanggerang Selatan

(021) 7445734

(021) 7445734

info[at]posko-jenggala.org

www.posko-jenggala.org