Sunday, November 19, 2017
  • Ikuti Kami
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala
  • Posko Jenggala
  • Posko_Jenggala

Banjir Besar Jakarta 2001-2002

Published : 11-Januari-2015 | 20:23:30

Banjir besar yang melanda Jakarta pada akhir 2001 hingga awal 2002 membuat banyak orang bergerak membantu. Di sinilah cikal bakal Posko Jenggala terjadi.


Hujan lebat terus terjadi sejak Desember 2001 hingga awal 2002. Tercatat di penakar hujan Stasiun Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Tanjung Priok, Jakarta, dini hari pada Desember 2001 sebesar 210 milimeter. Hari-hari berikutnya, hujan turun seolah tak henti. Puncak hujan terjadi pada 29 Januari 2002 yang mencapai 250 milimeter di kota terdekat Jakarta: Bekasi, Jawa Barat. Jakarta tak kuasa menampung lupan air hujan. Sekitar 70 persen permukaan Jakarta dipenuhi air. Banjir besar akhirnya membekam Ibu Kota pada akhir Desember 2001 hingga Februari 2002.

Di beberapa wilayah di Jakarta, masyarakat terpaksa mengungsi ke tempat-tempat yang belum tergenang banjir. Lapangan-lapangan dan taman dipenuhi pengungsi. Demikian juga dengan sekolah-sekolah, kelurahan, hingga tempat-tempat ibadah disesaki pengungsi. Di beberapa perumahan di Jakarta penghuninya terpaksa terkurung di rumah mereka, tidak bisa ke mana-mana, kesulitan untuk mencari makan dan minum. Sedikitnya 21 orang tewas dan 381.300 orang terpaksa mengungsi.

Banjir besar Jakarta ini terjadi sekitar tiga tahun setelah Reformasi di Indonesia menumbangkan Soeharto dan Orde Baru. Para aktivis yang membantu Gerakan Reformasi 1998 merasa terpanggil untuk membantu para korban banjir. Saat itu, Arifin Panigoro yang sudah masuk ke PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan– yang akhirnya keluar pada 2005) mengatakan kepada Andi Sahrandi, sahabatnya sejak kuliah di ITB, Bandung, untuk membantu pengungsi, korban banjir. Tapi, Andi lebih suka bergerak sendiri dibanding katakanlah terjun bersama PDIP atau kelompok dadakan lain yang tiba-tiba sok peduli.

Andi Sahrandi langsung responsif mengontak mahasiswa-mahasiswa yang dulu ikut terjun dalam pergolakan politik Reformasi 1998. Salah satunya adalah Irfan Budiman, aktivis FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta), mahasiswa Akademi Bahasa Asing, Cikini, Jakarta yang dulu dikenalnya pada saat-saat kejatuhan Soeharto. Sebagai pos kegiatan diambil tempat di sebuah rumah di Jalan Jenggala, Jakarta Selatan yang merupakan rumah Arifin Panigoro.

Para mahasiswa bergabung dengan relawan lainnya, mulai dari ibu-ibu, orang-orang yang peduli, hingga para dokter dan tenaga medis. Semua yang bergabung di Rumah Jenggala bergerak begitu saja, walau belum memiliki pengalaman membantu korban bencana. Karena banyak orang yang merasa tergerak untuk membantu, maka mereka menjadikan Rumah Jenggala sebagai pusat kegiatan. Dapur umum dadakan didirikan, seperti kala Reformasi 1998. Koordinasi dilakukan ala kadarnya, yang terpenting adalah membantu. Arifin Panigoro dan Grup Medco, beserta beberapa pihak perorangan yang peduli, turun tangan langsung membantu, mulai dari bahan makanan, minuman, obat-obatan, hingga pendanaan.

Bahkan, untuk membantu agar dapat bergerak cepat dan menembus banjir, para Relawan Posko Jenggala (yang saat itu belum memiliki nama) dibantu oleh truk dan perahu karet Marinir, Tentara Nasional Indonesia. Dengan jeep dan mobil-mobil tinggi dan perahu karet, para relawan berkeliling Jakarta, masuk ke daerah yang sulit terjangkau karena dikepung banjir, memberikan bantuan yang diperlukan.

Data kawasan di Jakarta yang sangat membutuhkan bantuan didapat dari berbagai sumber. Salah satunya dari laporan kawan-kawan dan kenalan-kenalan para aktivis dan relawan, serta jaringan pertemanan yang tersebar di berbagai tempat di Ibu Kota. Ini memudahkan pemberian bantuan. Apalagi, kerjasama dengan Radio Elshinta sangat membantu untuk mengetahui keadaan dengan lebih baik. Sehingga berita dan kondisi dari berbagai wilayah di Jakarta yang membutuhkan bantuan dapat terpantau dengan cepat dan lebih baik.

Diakui bahwa saat itu, bantuan masih lebih bersifat karitatif, seperti memberi bantuan makanan mie instan dan bahan-bahan pokok lainnya. Bantuan mie instan tidak sulit karena sokongan Salami yang perusahaannya masih satu grup dengan Medco. Selain itu, para relawan Posko Jenggala sempat mengevakuasi ibu-ibu dan anak-anaknya yang terjebak banjir di rumahnya di Pluit, Jakarta Utara.

Setelah membantu di kawasan Pluit dan Jakarta Barat, Relawan Posko Jenggala bergerak ke kawasan Plumpang, Jakarta Utara. Di tempat ini terdapat rumah singgah untuk anak-anak jalanan yang memiliki hubungan dengan orang-orang yang beraktivitas di Posko Jenggala. Daerah Jakarta Utara merupakan kawasan terparah yang dilanda banjir.

Banjir besar Jakarta mendorong Posko Jenggala terbentuk secara tidak sengaja. Kala itu, kegiatan bergerak ke berbagai wilayah di Jakarta untuk memberikan bantuan bagi korban banjir, tanpa disadari, ternyata memberi hikmah: langkah untuk selalu memberikan bantuan bagi yang membutuhkan, dimulai


Waktu Kegiatan


10-Januari-2002 S/D 29-Januari-2002

Lokasi Kegiatan


Berita Terbaru


Selengkapnya

Aktivitas Terbaru


Selengkapnya

Kontak

GERAKAN KEMANUSIAAN POSKO JENGGALA

Jl. Gunung Indah II No. 50, Cirendeu, Ciputat, Tanggerang Selatan

(021) 7445734

(021) 7445734

info[at]posko-jenggala.org

www.posko-jenggala.org